Pengunduran Diri Dirut BEI dan 3 Petinggi OJK Bisa Gerus Kepercayaan Investor
Sejumlah analis menilai pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, dan tiga petinggi Otoritas Jasa keuangan (OJK) bakal menurunkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Kondisi yang terjadi sebenarnya di bursa pun akan dipertanyakan.
Pengamat pasar modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan, pejabat OJK yang mengundurkan diri sejatinya memiliki posisi di jantung arsitektur pengawasan pasar. Fungsi mereka mulai dari perumusan kebijakan strategis, pengawasan perdagangan dan emiten, hingga implementasi reformasi struktural yang selama ini menjadi sorotan investor global.
Investor asing, kata Hendra, akan mencermati ketiga pejabat tersebut terkait standar transparansi, kepemilikan saham, free float, dan tata kelola bursa.
Tak hanya itu, mundurnya para pejabat kunci yang terjadi di tengah tekanan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak dapat dilepaskan dari konteks menurunnya kepercayaan pasar. Ini terutama setelah meningkatnya perhatian MSCI terhadap kualitas dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
"Bagi investor, terutama investor asing, stabilitas dan kontinuitas kepemimpinan regulator merupakan fondasi utama dalam menilai risiko pasar, sehingga peristiwa ini secara alami memperbesar tekanan psikologis dan memperkuat sikap defensif pelaku pasar," kata dia kepada wartawan, Jumat (30/1).
Dia menjelaskan, secara institusional, pengunduran diri ini dapat dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab moral dan upaya menjaga kredibilitas OJK di tengah meningkatnya kritik terhadap efektivitas pengawasan dan kecepatan reformasi pasar modal. Namun dari perspektif pasar, langkah tersebut justru menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar isu teknis jangka pendek, melainkan akumulasi masalah struktural yang selama ini tertunda penyelesaiannya.
Menurut Hendra, mundurnya pejabat yang langsung membawahi pengawasan pasar modal dan transaksi efek memperkuat persepsi bahwa agenda reformasi membutuhkan pendekatan yang lebih tegas, konsisten, dan berani, khususnya dalam penegakan aturan terhadap emiten dan pelaku pasar yang tidak memenuhi standar tata kelola.
"Ketidakpastian mengenai kesinambungan kebijakan dan arah kepemimpinan selanjutnya menjadi faktor yang membuat investor cenderung menahan diri dan menunggu kejelasan lebih lanjut," uajrnya.
Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa memperkirakan IHSG masih akan menghadapi tekanan jual pada awal pekan depan. Menurut dia, pelaku pasar masih mempertanyakan alasan pengunduran diri para pejabat berwenang di pasar modal yang dilakukan secara bersamaan.
“Pasar akan bertanya-tanya, seperti maksudnya, ada strategi apa sih, sampai petinggi jasa keuangan, petinggi regulator, sama penyelenggara harus diganti atau harus turun gitu?” kata Reydi.
Meskipun demikian, Reydi menilai tekanan tersebut bersifat sementara. Ia meyakini kepercayaan pasar akan kembali seiring adanya kejelasan mengenai siapa sosok pengganti para pejabat yang mundur.
“Pasti akan wait and see, sih. menunggu kepastian siapa penerus-penerusnya atau pengganti-penggantinya,” ujarnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pengunduran diri pejabat pasar modal sebagai hal yang wajar terjadi. Menurutnya, pasar akan mengapresiasi proses pergantian kepemimpinan selama pengganti yang ditunjuk memiliki integritas, kompetensi, dan kredibilitas yang kuat.
“Pergantian ini bisa diterima dengan baik oleh pelaku pasar, apalagi jika pimpinan baru mampu menerapkan kebijakan yang pro-market,” kata Nafan.
Dirut BEI dan 3 Petinggi OJK Mundur Berjamaah
Hari ini, Dirut BEI Iman Rachman dan tiga pejabat OJK mengumumkan pengunduran diri hari ini, Jumat (30/1). Keputusan tersebut dikatakan sebagai bentuk tanggung jawab atas dinamika dan gejolak yang terjadi di pasar modal dalam dua hari terakhir.
Iman Rachman lebih dulu mengumumkan pengunduran dirinya di pagi hari. Sementara itu, tiga pejabat OJK mengumumkannya di sore hari. Adapun ketiga pejabat tersebut adalah Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar; Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, serta; Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Aditya Jayaantara.
Pengunduran diri para pimpinan pasar modal tersebut menyusul anjloknya IHSG selama dua hari berturut-turut. Tekanan pasar bahkan memaksa BEI memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt sebanyak dua kali setelah IHSG turun hingga 8%.
Gejolak pasar dipicu oleh respons negatif pelaku pasar terhadap keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menangguhkan proses rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026.
Iman Rachman menyatakan, keputusan untuk mundur diambilnya demi kepentingan terbaik pasar modal Indonesia. “Sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang terjadi dalam dua hari terakhir, saya menyatakan mengundurkan diri sebagai direktur utama BEI,” kata Iman, di ruangan media Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1).
Sementara OJK dalam keterangan resminya menyatakan, pengunduran diri ketiga petinggi mereka telah disampaikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Seluruh proses selanjutnya akan dijalankan berdasarkan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, sebagaimana telah diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Mahendra Siregar menegaskan, pengunduran dirinya bersama jajaran pengawas pasar modal OJK sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung langkah-langkah pemulihan yang dibutuhkan di tengah gejolak pasar.
“OJK menegaskan bahwa proses pengunduran diri ini tidak memengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional,” tulis OJK dalam pernyataan resminya.
