Cerita di Balik Mundurnya Bos BEI: Polemik Data MSCI dan Tenggat yang Terlewat

Nur Hana Putri Nabila
Oleh Nur Hana Putri Nabila - Ira Guslina Sufa
31 Januari 2026, 13:47
Iman Rachman BEI
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman saat konferensi pers Respon Kebijakan OJK Mengantisipasi Volatilitas Perdagangan Saham di Main Hall BEI, Jakarta, Rabu (19/3/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Mundurnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman pada Jumat (30/1) menjadi pelengkap tekanan yang menghantam pasar modal Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Polemik transparansi data pemegang saham yang dipersoalkan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengguncang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga dua hari beruntun. BEI bahkan dua kali menghentikan sementara perdagangan atau trading halt  lantaran IHSG rontok lebih dari 8%.

Tekanan di pasar modal kian terasa ketika pengunduran diri Iman memicu efek berantai. Pada malam harinya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar turut menyatakan mundur. Diikuti pula oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon  (KE PMDK) OJK Inarno Djajadi serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK) OJK Aditya Jayaantara.

Dua jam berselang, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara juga menyampaikan pengunduran diri. Dalam satu hari, empat petinggi OJK meninggalkan kursi kepemimpinan.

"Mahendra Siregar menyatakan bahwa pengunduran dirinya bersama KE PMDK dan DKTK merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan," tulis OJK dalam pengumuman resmi yag dikutip Sabtu (31/1). 

Gejolak di pasar saham mencuat setelah MSCI mengumumkan penangguhan sementara rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026. Dalam pengumuman tersebut, lembaga investasi global itu mempertanyakan transparansi dan konsistensi data pemegang saham emiten yang tercatat di BEI. 

Keputusan MSCI diikuti pula dengan pengumuman penurunan rating pasar saham Indonesia oleh dua bank investasi besar yang berkantor pusat di Amerika Serikat Goldman Sachs dan UBS AG. Di tengah tekanan itulah Iman mundur. 

Mahendra Siregar dalam konferensi pers menyebut tidak menduga Iman akan mengambil langkah ekstrem itu. Menurut dia, dalam konferensi pers pada Kamis (29/1) dan komunikasi terakhir, tidak ada sinyal dari Iman yang mengarah pada rencana pengunduran diri.

"Baru tadi pagi (tahu Iman mundur). Saya lihatnya di Youtube," ujar Mahendra. 

Pengumuman mundur disampaikan Iman kepada wartawan di media center Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/1) pagi. Ia menyebut keputusan itu diambil demi kepentingan pasar modal.

“Sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang terjadi dua hari ini, saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI,” kata Iman.

Polemik Permintaan Data MSCI

Mundurnya Iman tak bisa dilepas dari rilis MSCI yang mempertanyakan data pemegang saham emiten yang ada di bursa. Lembaga investasi global itu meminta BEI menyerahkan data seluruh penerima manfaat akhir saham atau beneficial owner dari masing-masing emiten. Menurut Iman ia sudah berkomunikasi dengan MSCI soal permintaan itu. 

Iman mengatakan sebagai pejabat BEI ia tak bisa membuka semua data lantaran terikat dengan ketentuan perundang-undangan. Salah satu ketentuan yang membatasi pembukaan data investasi adalah UU Perlindungan Data Pribadi. Sebagai gantinya ia sudah menyatakan kesanggupan kepada MSCI untuk memberikan data pemegang saham di BEi yang dikeluarkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). 

"Saya mesti jelasin sama MSCI. Kalau lo minta itu, gua nggak mungkin bisa. Gitu kan? Mungkin negara lain boleh. Nih saya kasih tahu, di Thailand boleh, di bawah 5%," ujar Iman. 

Dalam pengumuman terbaru, MSCI menyatakan telah menyelesaikan proses konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. MSCI menyebut kebanyakan investor global menyampaikan kekhawatiran terhadap penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk melihat free float di saham Indonesia.  

“Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap saham beredar bebas dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya, dikutip Rabu (28/1).  

MSCI pun memberi waktu bagi BEI dan otoritas terkait untuk memberikan revisi data hingga MEI 2026. Selanjutnya peninjauan dan kajian ulang akan kembali dilakukan. 

Iman menyadari rilis MSCI datang bukan tanpa aba-aba. Namun menurut dia, sebelum pengumuman itu keluar BEI sudah beberapa kali berdiskusi. Kendati begitu, langkah Iman bernegosiasi dengan MSCI dinilai tidak cukup. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut BEI seharusnya bisa bekerja lebih keras. Purbaya mengatakan mundurnya Iman terjadi karena karena kesalahan fatal karena berkaitan dengan ambruknya IHSG dua hari beruntun. 

"Itu bentuk tanggung jawab dia terhadap masalah yang di bursa kemarin. Karena dia kan tidak follow up masukan atau pertanyaan dari MSCI," kata Purbaya di kantor Danantara, Jakarta, Jumat (30/1). 

Menurut Purbaya, masalah pada pasar modal perlu diperbaiki karena dapat mengganggu kestabilan ekonomi secara keseluruhan. Ia menyebut kesalahan yang dilakukan Iman bertolak belakang dengan upaya pemerintah yang tengah melakukan perbaikan kondisi perekonomian di dalam negeri. 

“Jadi kita melakukan perbaikan yang sungguh-sungguh. Nanti tiap senen kita akan berjalan terus debottlenecking. OSS juga akan kita kasih modal supaya berjalan lebih baik lagi,” kata Purbaya.

Beda Karakteristik Pasar Modal Indonesia

Iman tak sependapat dengan Purbaya. Ia bersikeras menyatakan telah melakukan sesuatu sesuai bersama otoritas BEI, OJK, dan KSEI, dalam merespons permintaan MSCI. Menurut Iman, otoritas telah melakukan perbaikan terkait dengan free float yang sudah ada. 

“Sudah selama ini kita lakukan, kita perbaiki, tetapi mungkin belum memuaskan,” ujar Iman

Meski begitu ia mengakui pekerjaan mereka melebihi tenggat yang diberikan MSCI. Menurut Iman, dalam pembicaraan dengan lembaga investasi global itu, BEI diminta memberi jawaban paling lama 15 Januari 2026 mengenai data apa saja data yang akan diberikan. Itu yang menurut dia perlu dilakukan secepatnya. Namun data berikutnya yang diminta MSCI masih perlu waktu pengembangan.

“Itu yang kita bicarakan waktu itu, ada perubahan dan pengembangan, dan kita berikan dulu itu sesuai dengan yang disampaikan. Tetapi mereka aware bahwa dokumen pengembangan kita ini perlu waktu,” ucapnya.

Iman mengatakan bukan BEI tidak melakukan sesuatu, tapi data yang telah diberikan yang rupanya belum sesuai dengan metodologi yang MSCI gunakan. Ia juga menyebut perbedaan data yang diberikan dengan yang diinginkan terjadi lantaran MSCI tidak spesifik menyebutkan data apa saja yang dibutuhkan. Hal inilah yang menurut Iman membuat BEI ragu dan meraba data seperti apa yang disampaikan ke MSCI karena di bursa negara mana pun berbeda-beda. 

“Nah, ini yang kita coba lakukan sesuai dengan aturan yang dimungkinkan di Indonesia. Misalnya, kita tidak bisa memberikan sesuatu yang di luar ketentuan hukum dan aturan di Indonesia,” kata Iman.

Iman juga menjelaskan ke MSCI bahwa korporasi di pasar modal RI masih financial institution. Menurut Iman, sebagian dari korporasi yang terlibat di Bursa Tanah Air menempatkan investasi saham sebagai trading, bukan buy and hold atau beli untuk disimpan. 

“Jadi kami justru tadi, tujuannya bukan hanya mengikuti MSCI, tapi juga mengedukasi MSCI bahwa korporasi yang ada di Indonesia ini memang adalah institusi yang melakukan perdagangan,” ujar Iman lagi. 

Meski begitu, di tengah keraguan akan data yang diminta MSCI, BEI meyakini data yang telah diberikan kepada MSCI mengenai daftar pemegang saham emiten adalah data yang sahih. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy mengatakan data yang disajikan oleh BEI baik dari perusahaan tercatat adalah data yang benar dan akurat. 

“Cuman sekarang mungkin, ke MSCI kebutuhan dengan data yang kita sediakan ini, belum match. Nah ini yang kita upayakan untuk kita perbaiki gitu ya. Itu sih mungkin yang paling penting,” ucap Irvan.

Kini, Iman telah mundur dan kursi Dirut BEI kosong. Namun, tenggat yang diberikan MSCI hingga Mei 2026 tak berhenti. Proses tersebut akan menjadi bagian dari evaluasi lanjutan MSCI terhadap pasar saham Indonesia, termasuk dampaknya terhadap peninjauan indeks ke depan.

Lebih dari sekadar pergantian pimpinan, mundurnya Direktur Utama BEI menegaskan bahwa keandalan data, ketepatan merespons tenggat, dan kredibilitas institusi kini menjadi faktor kunci daya saing pasar modal Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...