Ada Potensi IHSG Rebound ke Level 9.000 Pekan Ini, Apa Syaratnya?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak konsolidasi sepanjang perdagangan pekan ini, 2–6 Februari 2026. Namun, ada potensi indeks
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai, pelaku pasar akan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi atau gross domestic product (GDP) Indonesia tahun penuh 2025. Menurutnya, awal Februari umumnya menjadi periode pengumuman pertumbuhan ekonomi tahunan.
“Pasar berekspektasi ekonomi kita tumbuh solid di angka 5,1% - 5,2%. Jika angka resminya di atas ekspektasi, ini akan menjadi bensin tambahan bagi IHSG untuk tidak hanya sekadar mampir di level 9.000, tapi menjadikannya sebagai lantai baru atau support kuat,” ujar David dalam keterangannya, dikutip Senin (2/2).
Selain faktor makroekonomi, David menilai pergerakan pasar pekan ini juga akan dipengaruhi oleh respons investor terhadap transisi kepemimpinan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dalam kondisi tersebut, David merekomendasikan tiga saham yang dapat dicermati investor. Pertama, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) dengan rekomendasi beli di level 1.825 dan target harga 1.975. Saham ini dinilai bergerak dalam tren naik (uptrend) dengan potensi menembus resistance di level 1.870.
Kedua, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan rekomendasi beli di level 2.770 dan target harga 3.090. Menurut David, sektor poultry masih menarik pada 2026 seiring faktor MBG. Selain itu, saham JPFA berada di area support MA50 dan memiliki potensi reversal yang cukup kuat.
Ketiga, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dengan rekomendasi beli di level 1.505 dan target harga 1.600. Saham ini dinilai berpotensi breakout dari fase konsolidasi serta relatif aman dari sentimen MSCI.
Sementara itu, analis Phintraco Sekuritas menilai investor masih akan mencermati dinamika pasar modal domestik pasca pengunduran diri sejumlah pejabat otoritas. Namun, langkah cepat pemerintah menunjuk pejabat sementara di OJK dan BEI, disertai pernyataan untuk menenangkan pasar, diharapkan dapat meredakan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian.
“Selanjutnya, pelaku pasar akan menantikan implementasi kebijakan-kebijakan yang telah dicanangkan,” tulis Phintraco dalam risetnya.
Phintraco secara teknikal memproyeksikan IHSG bergerak konsolidasi di rentang 8.150–8.600 pada pekan ini. Apabila IHSG mampu bertahan di atas level 8.600, indeks berpeluang melanjutkan penguatan.
Dari sisi sentimen global, investor akan mencermati rilis data ketenagakerjaan dan indeks PMI Amerika Serikat, serta kelanjutan musim laporan keuangan emiten sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Dari Eropa, pasar menunggu keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE).
Sementara dari dalam negeri, sejumlah data ekonomi yang akan dirilis antara lain indeks PMI Manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi pada 2 Februari, pertumbuhan ekonomi pada 5 Februari, serta cadangan devisa dan indeks harga properti pada 6 Februari.
Phintraco merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor pada pekan ini, di antaranya PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).
