Rupiah Melemah Pagi Ini, Hasil Pertemuan BEI-OJK dengan MSCI Disebut jadi Faktor

Ade Rosman
4 Februari 2026, 09:55
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (21/1/2026). Nilai tukar rupiah rupiah perlahan bergerak menguat 20 poin menjadi Rp16.936 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.956 per
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (21/1/2026). Nilai tukar rupiah rupiah perlahan bergerak menguat 20 poin menjadi Rp16.936 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.956 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah pada Rabu (4/2) pagi. Melansir data Bloomberg pada pukul 09.32 WIB, rupiah berada di level 16.767 atau melemah 13 poin (0,08%) dari penutupan sebelumnya. 

Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana memperkirakan terdapat sejumlah faktor domestik maupun global yang mempengaruhi pelemahan rupiah pagi ini. Dari faktor domestik, hasil pertemuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) disebut menjadi salah satu yang mempengaruhi. 

“Sentimen hasil keputusan BEI dan OJK di pagi ini,” kata Fikri kepada Katadata, Rabu (4/2). 

Faktor lainnya, kata Fikri, dipengaruhi oleh angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia. 

Sementara dari internasional, eks Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat yang meningkat pada Desember 2025 menjadi salah satu faktor yang memoengaruhi. 

“(Faktor lain) Ekspektasi relatif hawkish-nya Kevin Warsh,” kata Fikri. 

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yakin dirinya tidak akan kesulitan membuat nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat jika ia menjabat di Bank Indonesia alias BI. 

“Saya pikir, (rupiah) bergerak menuju Rp 15.000 per US$ tidak akan sulit, jika saya berada di posisi mereka (bank sentral),” kata Purbaya dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026, di Jakarta, Selasa (3/2).

Purbaya mulanya menjelaskan bahwa peran tunggal BI yakni mengendalikan stabilitas mata uang. 

“Anda harus tanya gubernur BI. Namun menurut saya, level (rupiah) terlalu rendah dibandingkan fundamentalnya. Mata uang regional lain menguat terhadap dolar AS, sementara rupiah melemah,” kata dia.

Ia terusik dengan pergerakan rupiah yang mendekati Rp 17.000 per US$, walaupun menurut dia depresiasi saat ini tidak akan menciptakan krisis seperti 1997 – 1998. Purbaya memastikan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK, dengan ia sebagai ketua, akan mengantisipasi pelemahan rupiah lebih dalam.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...