Pengamat: Outlook Moody's Tak Bisa Disepelekan, Saham BUMN Rawan Tertekan
Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings merevisi outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Kendati demikian, Moodys tetap mempertahankan peringkat kredit jangka panjang mata uang lokal dan asing Indonesia di level Baa2 atau masih berada pada kategori investment grade.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai perubahan outlook tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurut dia, jika ke depan terjadi penurunan peringkat kredit yang disertai memburuknya kualitas regulasi, lemahnya perlindungan investor, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan, persepsi global terhadap pasar Indonesia berpotensi tertekan lebih dalam.
"Ke depan, dampak utama dari penurunan outlook ini lebih terasa pada psikologi pasar dan peningkatan risk premium, bukan pada pelemahan fundamental ekonomi jangka pendek. Investor global cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya ketidakpastian kebijakan” ujar Hendra kepada Katadata.co.id, Kamis (5/1).
Menurut dia, bagi pasar modal, kondisi ini bukan kabar yang bisa diabaikan. Sentimen global saat ini sangat sensitif terhadap isu kredibilitas kebijakan dan stabilitas institusi. Ke depan, dampak utama dari penurunan outlook ini diperkirakan lebih terasa pada sisi psikologis pasar dan peningkatan risk premium, bukan pada pelemahan fundamental ekonomi dalam jangka pendek.
Investor global, kata Hendra, cenderung akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Hal ini berpotensi tercermin pada kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor panjang, pelebaran spread obligasi, serta tekanan arus dana asing di pasar saham. Tekanan tersebut terutama berisiko terjadi pada saham berkapitalisasi besar dan emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini menjadi cerminan tingkat kepercayaan investor terhadap negara.
Di pasar saham, reaksi yang muncul diperkirakan bersifat selective selling, bukan panic selling. Saham bank BUMN dan emiten strategis milik negara berpotensi mengalami tekanan lebih besar seiring investor mulai memasukkan risiko tambahan, mulai dari potensi tekanan kebijakan dividen, peran negara yang semakin dominan, hingga kewajiban kontinjensi yang disorot Moody’s melalui pembentukan Danantara.
"Namun, tekanan tersebut lebih mencerminkan penyesuaian valuasi terhadap risiko, bukan perubahan drastis pada prospek fundamental emiten," katanya.
Dari sisi kinerja pasar modal, Hendra menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang rentan mengalami koreksi dalam jangka pendek. Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji area psikologis 8.000 yang menjadi level krusial. Jika level ini ditembus, ruang penurunan terbuka menuju area support berikutnya di kisaran 7.888.
“Sementara dari sisi atas, resistance IHSG berada di area 8.200, yang akan menjadi tantangan kuat selama sentimen global dan domestik belum sepenuhnya pulih. Namun koreksi ini lebih tepat dibaca sebagai fase konsolidasi yang sehat, bukan awal dari tren bearish struktural,” ujar Hendra.
Terkait kekhawatiran potensi Indonesia turun kelas menjadi frontier market atau pasar perintis, ia menilai risikonya masih relatif kecil dalam waktu dekat. Penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat tidak serta-merta mengubah status pasar modal.
Klasifikasi emerging market oleh MSCI dan FTSE lebih banyak ditentukan oleh faktor aksesibilitas pasar, likuiditas, serta stabilitas dan konsistensi regulasi pasar modal. Bukan semata-mata oleh peringkat kredit.
Selama Indonesia mampu menjaga status investment grade, likuiditas pasar, serta keterbukaan terhadap arus modal asing, risiko penurunan status ke frontier market masih dapat dikendalikan.
Hendra menyatakan, langkah Moody’s ini lebih tepat dibaca sebagai peringatan dini, bukan alarm darurat. Pemerintah dan otoritas diharapkan dapat memperkuat koordinasi kebijakan, memperbaiki komunikasi publik, serta menjaga disiplin fiskal dan moneter agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Moody’s Revisi Outlook Indonesia tanpa Mengubah Peringkat
Sebelumnya Moody’s Ratings mengubah outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Kendati demikian, mereka tetap mempertahankan peringkat kredit jangka panjang mata uang lokal dan asing di level Baa2. Keputusan itu diumumkan Moody’s pada hari ini, Kamis (5/2).
Perubahan outlook tersebut didorong oleh menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan pemerintah, yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan sekaligus kualitas tata kelola pemerintahan. Moody’s menilai, jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi dapat tergerus.
Kendati demikian, Moody’s menegaskan bahwa penegasan peringkat Baa2 mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini didukung oleh kekuatan struktural seperti kekayaan sumber daya alam dan bonus demografi.
"Terlepas dari munculnya risiko, penegasan (peringkat Baa2 untuk Indonesia) tersebut juga didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana yang telah menghasilkan stabilitas makroekonomi," tulis lembaga itu dalam pengumumannya.
