IHSG Pekan Ini Diprediksi Volatil, Asing Mulai Akumulasi Saham-Saham Besar?

Ahmad Islamy
9 Februari 2026, 08:57
IHSG
Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). Pergerakan IHSG pada pekan ini diprediksi masih diwarnai volatilitas.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan masih diwarnai volatilitas, seiring tekanan sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya mereda. IHSG melemah tajam pada pekan lalu dan kembali berada di bawah level psikologis 8.000.

Head of Retail Marketing & Product Development Division PT Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan menyebutkan, pada periode perdagangan 2–6 Februari, IHSG ditutup di level 7.935 atau turun hampir 5% dalam sepekan. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh revisi penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s, serta sentimen negatif dari sejumlah lembaga global lainnya.

“Kalau melihat proyeksi pergerakan IHSG pekan ini, kondisinya memang masih penuh volatilitas,” ujar Reza kepada Katadata, Senin (9/2).

Secara teknikal, Reza menilai IHSG masih berisiko melanjutkan koreksi menuju area support di kisaran 7.712–7.785. Namun demikian, peluang rebound tetap terbuka apabila indeks mampu bertahan di atas level support tersebut, dengan potensi penguatan ke area 8.284–8.440.

Di tengah tekanan pasar, Reza menyoroti adanya sinyal positif dari pergerakan investor asing. Pada akhir pekan lalu, investor asing tercatat mulai kembali melakukan aksi beli bersih (net buy). Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi salah satu yang mencatatkan transaksi terbesar, dengan nilai sekitar Rp 679,9 miliar.

Menurut Reza, aksi beli asing tersebut dapat diartikan dalam dua perspektif. Pertama, sebagai strategi akumulasi pada level harga yang sudah terkoreksi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan BUMN yang dinilai memiliki fundamental relatif kuat. 

Kedua, aksi tersebut dapat dimaknai sebagai sinyal kepercayaan jangka menengah, di mana valuasi saham-saham perbankan saat ini dinilai cukup menarik meski outlook Indonesia mengalami revisi.

Net buy asing di BMRI bisa menjadi indikasi bahwa mereka mulai bersiap mengakumulasi saham-saham besar di level diskon,” kata Reza.

Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa tekanan dari sentimen global masih berpotensi membayangi pasar dalam jangka pendek. Sejumlah faktor seperti arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, serta pergerakan nilai tukar rupiah masih akan memengaruhi dinamika pasar saham domestik.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Reza memperkirakan IHSG pada pekan ini masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Aksi beli investor asing dinilai dapat menjadi bantalan agar koreksi indeks tidak berlangsung terlalu dalam.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (6/2), investor asing membukukan aksi beli bersih sebesar Rp 944 miliar untuk seluruh pasar dan Rp 774,5 miliar untuk pasar reguler saja. Aksi itu berlangsung di tengah pelemahan Indeks IHSG yang ditutup melemah di bawah level 8.000. Saham BMRI dan PT Bumi Resources Indonesia Tbk (BUMI) menjadi dua saham yang paling banyak dikoleksi investor asing.

Mengacu pada data Stockbit Sekuritas, nilai beli bersih investor asing pada saham BMRI mencapai Rp 679,9 miliar, sedangkan BUMI mencatatkan net buy sebesar Rp 171,48 miliar. Pada penutupan perdagangan, harga saham BMRI tercatat stagnan di level Rp 5.050, sedangkan saham BUMI turun 5,83% ke posisi Rp 226.

Tensi Geopolitik AS hingga Data Ekonomi

Dari sisi global, pasar merespons perkembangan geopolitik AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi Oman di Muscat berjalan positif dan membuka peluang pertemuan lanjutan. Iran juga mengonfirmasi perundingan awal berlangsung konstruktif untuk meredam ketegangan dan menghindari konflik militer, meski pembahasan masih terbatas pada isu nuklir.

Namun, optimisme tersebut tertahan oleh langkah AS yang tetap menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran. Di sisi lain, Iran menyita kapal tanker kecil di Teluk Persia dan kedua negara saling melontarkan ancaman. Situasi ini sempat menekan harga minyak Brent ke bawah US$ 67 per barel sebelum kembali stabil.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menilai risiko geopolitik masih tinggi. Menurutnya, peluang eskalasi terbatas di jalur maritim tetap terbuka meskipun jalur diplomasi berlanjut, sehingga sentimen pasar global masih dibayangi kehati-hatian.

"Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka meski jalur diplomasi berlanjut," kata Imam dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (9/2).

Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar global mendapat sentimen positif dari meredanya ketegangan perang dagang antara AS dan India. Presiden Trump menghapus tarif tambahan 25% dan memangkas tarif resiprokal sehingga tarif efektif turun menjadi 18%. 

Sebagai imbalannya, India berkomitmen membatasi impor minyak Rusia, meningkatkan pembelian energi dari AS, serta membeli produk AS senilai US$ 500 miliar dalam lima tahun ke depan. Kesepakatan ini juga mencakup penghapusan berbagai hambatan perdagangan di sektor pertanian, manufaktur, kesehatan, dan teknologi. 

"Bagi Indonesia, perkembangan ini dinilai positif mengingat India merupakan salah satu mitra dagang utama," ujarnya.

Dari dalam negeri, tekanan pasar diperkuat oleh keputusan Moody’s yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, namun menurunkan outlook menjadi negatif. Moody’s menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan, melemahnya prediktabilitas, serta koordinasi pemerintah berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor. Penilaian ini muncul meskipun fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid, dengan pertumbuhan sekitar 5%, defisit fiskal terjaga di bawah 3% terhadap PDB, dan rasio utang pemerintah yang rendah.

Moody’s juga menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, lemahnya basis penerimaan negara, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar. Selain itu, meningkatnya risiko politik dan volatilitas pasar keuangan dinilai berpotensi menekan stabilitas makro jika tidak diimbangi konsistensi kebijakan yang lebih kuat.

Penurunan outlook sovereign ini berdampak langsung terhadap batas atas peringkat kredit berbagai emiten besar, termasuk BUMN seperti Telkom (TLKM), Pertamina, serta bank-bank utama. Emiten non-BUMN juga terdampak melalui ketergantungan pada stabilitas makro dan akses pendanaan. Kondisi ini membuat ruang kenaikan peringkat semakin sempit dan meningkatkan sensitivitas pasar terhadap potensi penurunan peringkat lanjutan.

Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan fundamental domestik masih menopang. Ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh 5,11%, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, dengan lonjakan pertumbuhan pada kuartal IV sebesar 5,39% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut didorong sektor transportasi dan pergudangan, permintaan domestik yang kuat, konsumsi digital, serta investasi yang meningkat signifikan, termasuk lonjakan belanja modal pemerintah lebih dari 40% secara tahunan.

Memasuki pekan perdagangan 9–13 Februari 2026, IPOT memproyeksikan pergerakan pasar cenderung bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, China, serta sejumlah indikator konsumsi domestik Indonesia. IHSG diperkirakan bergerak dengan level support di 7.716 dan resistance di 8.207.

Dengan kombinasi sentimen global yang masih rapuh dan fundamental domestik yang relatif terjaga, pasar saham Indonesia diperkirakan tetap bergerak selektif, dengan fokus pada manajemen risiko dan kualitas aset dalam jangka menengah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...