Sinyal IPO Perusahaan BUMN setelah Absen Melantai di Bursa 2 Tahun

Nur Hana Putri Nabila
18 Februari 2026, 13:38
BUMN
Katadata/Fauza Syahputra
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan paparan saat konferensi pers di Jakarta, Senin (24/3/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara memberikan sinyal terkait perusahaan BUMN yang akan mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut badan itu, rencana go public untuk perusahan pelat merah baru bisa dilakukan tahun depan. 

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menjelaskan, pihaknya saat ini tengah menjalankan strategi penciptaan nilai (value creation), termasuk menentukan perusahaan yang akan dibawa melantai di bursa. Meski begitu, untuk tahun ini Danantara belum merencanakan aksi penawaran umum perdana saham BUMN.

Seiring dengan rencana itu, Dony mengatakan hasil konsolidasi perusahaan BUMN masih dievaluasi untuk melihat dampaknya secara menyeluruh. Dari proses itu, Danantara akan mendefinisikan ulang perusahaan-perusahaan yang dinilai layak untuk go public. Dony berharap proses IPO perusahaan-perusahaan BUMN dapat mulai berjalan pada 2027.

“Yang memang itu akan kami lakukan untuk public offering, jadi untuk milik masyarakat,” kata Dony di CNBC Indonesia Economic Outlook 2026, dikutip Rabu (18/2). 

Namun, Dony juga menyebut beberapa perusahaan yang memiliki peluang untuk ditarik menjadi perusahaan tertutup atau delisting

Untuk diketahui, sudah dua tahun lebih tak ada perusahaan BUMN baru yang mencatatkan sahamnya di BEI. Perusahaan pelat merah terakhir yang IPO adalah emiten energi panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), yang melantai di BEI pada Februari 2023. 

PGEO saat itu menawarkan ke masyarakat sebanyak 10,35 miliar saham biasa atas nama, yang mewakili sebesar 25% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan dan ditawarkan dengan harga penawaran Rp 875 per saham. Dari IPO itu, perseroan berhasil meraih dana segar sebesar Rp 9,05 triliun. 

PGEO saat itu menunjuk PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, dan PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek. PGEO juga menunjuk CLSA, Credit Suisse, dan HSBC sebagai international selling agents.

Belum lama ini, Presiden Prabowo Subianto menuntut Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan P Roeslani, agar dapat menghasilkan return on asset atau RoA sebesar 7%. Hal itu disampaikan kepala negara dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2). 

“Saya menuntut return on asset ya 7% lah,” kata Prabowo kala itu. Merespons tuntutan presiden tersebut, Rosan menyatakan kesanggupannya.

RoA adalah rasio profitabilitas yang mengukur efisiensi perusahaan dalam menggunakan total aset untuk menghasilkan laba bersih. Semakin tinggi nilainya, semakin efektif manajemen dalam mengelola aset yang dimiliki. Prabowo mengakui target RoA 7% tergolong tinggi. 

Namun, menurut dia, penetapan target yang ambisius diperlukan agar realisasi kinerja tidak jauh di bawah ekspektasi.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...