Kinerja Saham BCA (BBCA) Tertinggal dari Bank-Bank Himbara, Ada Apa?
Kinerja saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) lesu dibandingkan dengan saham-saham bank anggota Himpunan Bank Milik Negara alias Himbara. Turunnya harga saham bank swasta raksasa tersebut sudah terjadi sejak 21 Januari 2026 lalu.
Adapun pengumuman mendadak dari pengelola indeks MSCI memperdalam koreksi di saham BBCA. Namun, kondisi tersebut tak bertahan lama, BBCA kemudian mengumumkan aksi pembelian saham kembali atau buyback sehingga sahamnya kembali menguat.
Apabila dicermati dalam kurun waktu satu bulan terakhir, saham perbankan tampak tahan banding dari berbagai sentimen negatif yang menekan indeks. Sentimen tersebut mulai dari keputusan MSCI menangguhkan rebalancing saham Indonesia hingga langkah Moody’s Ratings yang menurunkan outlook peringkat lima bank besar nasional.
Sementara itu, empat saham bank Himbara yang menjadi pembanding kinerja saham di sektor perbankan antara lain adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (23/2), saham BBCA naik 1,04% ke level Rp 7.300, BBRI menguat 1,56% menjadi Rp 3.900, BMRI naik 2,93% ke Rp 5.275, BBNI bertambah 0,67% ke Rp 4.500, dan BBTN menguat 1,10% ke Rp 1.380.
Namun, jika ditarik dalam periode satu bulan terakhir, kinerja saham menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. BBTN mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 12,20%, disusul BMRI yang naik 5,92%, dan BBRI 2,36%. Sebaliknya, saham BCA terkoreksi paling dalam yakni 4,58%, diikuti BNI yang turun 1,96%.
Secara tahunan, saham BTN juga memimpin dengan kenaikan 47,59%. Sementara BCA justru melemah 18,89%. Data tersebut mengindikasikan bahwa kinerja saham bank swasta terbesar nasional itu tertinggal dibandingkan bank-bank Himbara dalam periode jangka pendek.
| Emiten | Harga saham saat ini (per saham) | Naik/Turun dalam satu bulan | Naik/Turun secara YoY |
| PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp 7.300 | -4,58% | -18,89% |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 3.900 | 2,36% | 0,26% |
| PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 5.275 | 5,92% | 3,94% |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp 4.500 | -1,96% | 4,65% |
| PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) | Rp 1.380 | 12,20% | 47,59% |
(Sumber: data Bursa Efek Indonesia, Senin (23/2))
Tak hanya itu, dari sisi aliran dana asing, minat investor global terhadap saham BBCA juga tampak memudar. Dalam periode 1–20 Februari 2026, investor asing tercatat memborong saham BMRI senilai Rp 1,88 triliun atau sekitar 3,6 juta saham. Investor asing juga membeli saham BBTN sebesar Rp 246,6 miliar, serta BBRI senilai Rp 44,8 miliar.
Sebaliknya, investor asing melakukan aksi jual bersih pada saham BBCA dengan nilai besar hingga Rp 4,05 triliun, dan BBNI sebesar Rp 309,1 miliar.
Mengapa Kinerja Saham BCA Lesu?
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, pelemahan saham BBCA tidak lepas dari aksi capital outflow investor asing, mengingat porsi kepemilikan asing di saham tersebut cukup besar.
Menurut dia, dinamika terkait MSCI turut memengaruhi pergerakan investor global. Selain itu, pertumbuhan laba bersih BBCA yang masih single digit serta valuasi yang relatif premium membuat ruang kenaikan harga saham menjadi lebih terbatas.
Sepanjang tahun 2025, BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun tahun buku 2025 atau naik 4,9% year on year (YoY).
“Fundamental BCA tetap bagus dan solid, tetapi valuasinya memang masih premium,” ujar Nafan kepada Katadata, Senin (23/2).
Di sisi lain, kinerja saham bank Himbara ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari dividend payout ratio yang lebih tinggi hingga valuasi yang relatif lebih murah dibandingkan BBCA.
Selain itu, peran bank-bank Himbara dalam mendukung pembiayaan program strategis pemerintah seperti hilirisasi dinilai memberikan kepastian prospek bisnis bagi investor. Masing-masing bank juga memiliki spesialisasi segmen yang memperkuat daya tarik di pasar.
Kondisi tersebut membuat saham bank BUMN lebih dilirik dalam jangka pendek dibandingkan saham BBCA yang secara historis diperdagangkan pada valuasi premium.
Seiring dengan hal tersebut, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan target harga untuk saham-saham perbankan. Dia menyematkan Rp 7.450 - 7.750 untuk saham BBCA, Rp 3.940 - 4.010 untuk saham BBRI, Rp 5.375 - 5.475 untuk saham BBNI dan 1Rp 1.415 - 1.450 untuk saham BBTN.
