Kapasitas Produksi Diproyeksi 21 Juta Ton, Berapa Target Harga Saham TPIA?

Nur Hana Putri Nabila
25 Februari 2026, 12:07
Emiten TPIA
Dok. Chandra Asri
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), berhasil tampil sebagai salah satu penyedia solusi energi, kimia, dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara (ilustrasi).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), memproyeksikan total kapasitas produksi mereka bisa mencapai 21 juta ton pada 2027.

Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri, Suryandi mengatakan, kapasitas produksi TPIA pada tahun depan akan terdongkrak dari pembangunan pabrik chlor alkali and ethylene dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Progres pembangunan pabrik itu saat ini telah mencapai 56% dengan nilai investasi sekitar Rp 15 triliun.

“Ekspansi Chandra Asri yang sudah ada itu membuat total kapasitas naik dari 17,6 juta ton tahun 2025 dan 2027 nantinya tahun depan itu akan jadi 21 juta ton,” kata Suryandi dalam diskusi bertajuk “Menakar Transformasi Chandra Asri Group di Tengah Dinamika Dunia Industri” di Jakarta, Selasa (24/2).

Direktur Legal dan Hubungan Eksternal TPIA, Edi Riva'i mengatakan, pertumbuhan kapasitas produksi TPIA meningkat pesat dalam dua tahun terakhir. Ini terutama didorong oleh akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte Ltd di Singapura. Fasilitas refinery Aster juga menambah kapasitas Chandra Asri Group dalam memproduksi berbagai produk petrokimia. 

Edi menyebut pabrik CA-EDC melalui Chandra Asri Alkali (CAA) dirancang sebagai fasilitas berskala dunia untuk mendukung hilirisasi rantai nilai nikel bagi industri kendaraan listrik. Pabrik ini akan memproduksi lebih dari 400 KTA soda kaustik kering dan 500 KTA ethylene dichloride (EDC) demi memenuhi kebutuhan pasar regional yang masih kekurangan pasokan.

Selain memenuhi pasar domestik, kata Edi, fasilitas ini juga membuka peluang ekspor EDC yang diharapkan bisa ekspor ke Thailand. Pada fase awal operasional, kapasitas produksinya diproyeksikan mencapai 827.000 ton soda kaustik dan 500.000 ton EDC per tahun. 

Dalam jangka panjang, kata Suryandi, produksi soda kaustik diperkirakan mampu menggantikan impor hingga 827.000 ton per tahun senilai sekitar US$ 293 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun, sementara seluruh produksi EDC untuk ekspor dengan potensi devisa sekitar US$ 300 juta atau setara Rp 5 triliun per tahun.

“Dengan dibangunnya pabrik CA-EDC, kebutuhan nasional untuk chlor-alkali serta kebutuhan pasar Asia Tenggara untuk EDC pada 2027 akan terpenuhi,” ujar Edi.

Target Harga Saham TPIA

Seiring dengan itu Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat bisnis TPIA kian positif dan sahamnya masuk fase bullish. 

Ia merekomendasikan saham TPIA kepada investor untuk akumulasi beli dengan target harga jangka pendek ke Rp 7.400 dan jangka panjang ke Rp 8.700. Adapun level support TPIA berada di Rp 6.950 dan Rp 6.600. 

Apalagi, ia mengatakan katalis positifnya salah satunya pembangunan pabrik CA-EDC di Cilegon terus berjalan dan ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal pertama 2027. 

“Hal ini akan mendiversifikasi produk ke sektor hilir, seperti bahan baku alumina dan nikel misalnya, yang marginnya lebih baik,” ucap Nafan dalam kesempatan yang sama.

Ia menilai TPIA tengah melakukan transformasi bisnis melalui sejumlah akuisisi strategis, termasuk Aster Chemicals and Energy Pte Ltd yang sebelumnya dimiliki Shell Energy and Chemicals Park Singapore, serta jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura.

Selain itu, kepemilikan di sektor pelabuhan, energi, dan air memberi pendapatan berulang yang menopang keuangan. Kinerja TPIA juga mulai pulih pada kuartal ketiga 2025 setelah sebelumnya merugi.

Perseroan turut mengumumkan buyback saham hingga Rp 2 triliun pada 6 Februari–5 Mei 2026 serta memperoleh peringkat idAA- dari Pefindo untuk obligasi berkelanjutan V senilai Rp 6 triliun. Namun,  ia menilai tantangannya adalah margin TPIA tetap dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dan produk kimia global.

“Di sisi lain, industri petrokimia global masih mengalami kelebihan pasokan (oversupply) dari Tiongkok, yang menekan harga jual produk,” ucap Nafan. 

Secara fundamental, kata Nafan, TPIA kini jauh lebih kuat dibandingkan 1–2 tahun lalu usai bertambahnya aset di Singapura. Namun, karena lonjakan laba lebih banyak didorong faktor nonoperasional, investor perlu mencermati apakah perseroan mampu menjaga profitabilitas operasional secara konsisten pada 2026.

Secara teknikal, pergerakan saham TPIA juga kerap dipengaruhi aliran dana institusi besar serta sentimen aksi korporasi, seperti akuisisi maupun rencana IPO anak usaha, yakni PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pada 2025 lalu.

“Dengan demikian, TPIA cocok bagi investor dengan profil risiko moderat-agresif yang percaya pada katalis ekspansi jangka panjang Grup Barito,” ujarnya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...