BMRI Respons Rencana Purbaya Perpanjang Dana SAL, Kredit Bisa Tumbuh Dua Digit?

Nur Hana Putri Nabila
26 Februari 2026, 07:56
rupiah, SAL, bank mandiri
Donang Wahyu|KATADATA
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk merespons rencana Purbaya Yudhi Sadewa untuk memperpanjang penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp 200 triliun di bank milik negara hingga September 2026. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro langkah ini positif untuk meredakan tensi perebutan likuiditas di pasar. 

Asmo menjelaskan, penempatan dana perbankan semula jatuh tempo pada 13 Maret 2026. Jika pemerintah menariknya saat itu, maka ini berpotensi menimbulkan tekanan likuiditas pada perbankan, karena berdekatan dengan periode Lebaran.

“Karena biasanya ada permintaan likuiditas besar menuju Lebaran dan lain sebagainya, jadi itu meredakan tensi perebutan likuiditas,” kata Asmo dalam acara Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (25/2).    

Selain itu, ia menilai dana saldo anggaran lebih (SAL) yang ditempatkan pemerintah di perbankan berpotensi juga mendorong pertumbuhan kredit. Tambahan likuiditas tersebut dapat memberikan ruang bagi bank untuk meningkatkan penyaluran kredit, apalagi jika permintaan kredit kembali meningkat.

Hingga saat ini, Bank Mandiri masih memproyeksikan pertumbuhan kredit industri perbankan berada pada kisaran high single digit hingga low double digit, yakni sekitar 9% hingga 11%.

“Artinya itu antara 9–11%, itu pertumbuhan kredit ini proyeksi kami,” kara Asmo. 

Asmo juga menilai meredanya tekanan likuiditas yang mereda berpotensi menurunkan tensi suku bunga di perbankan. Jika tekanan likuiditas berkurang, menurut dia, ruang penyesuaian suku bunga juga menjadi lebih terbuka.

Meskipun suku bunga acuan BI Rate telah turun signifikan, penyesuaian pada suku bunga dana pihak ketiga (DPK) masih relatif terbatas. Dalam satu tahun terakhir, kata Asmo, BI Rate tercatat turun sekitar 125 basis poin dari level tertinggi 6,25% menjadi sekitar 4,75%.

Namun, penurunan suku bunga simpanan perbankan dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan besaran penurunan suku bunga acuan.

“Nah ini yang kemudian harusnya bisa berdampak positif kan juga cukup panjang, nanti kan 6 bulan lagi, sampai September gitu ya, saya rasa sih kemungkinan juga akan diperpanjang lagi itu mestinya, tapi kita lihat nanti,” kata Asmo.

Sebelumnya Purbaya mengatakan, opsi penambahan dana ini terbuka menyesuaikan dengan kondisi likuiditas dan arah kebijakan Bank Indonesia (BI). “Kami lihat keadaan. Kita lihat gimana strateginya Bank Sentral, kita akan adjust strategi kita sesuai dengan strategi bank sentral (BI),” kata Purbaya di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (24/2). 

Bendahara negara ini berpandangan koordinasi dengan otoritas moneter menjadi kunci agar kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras. Menurut Purbaya, pemerintah tidak ingin mengambil langkah yang berpotensi bertabrakan dengan strategi pengelolaan likuiditas yang dilakukan BI.

Fokus utama Kemenkeu adalah memastikan likuiditas perbankan tetap memadai untuk mendukung ekspansi kredit dan pertumbuhan ekonomi. Oleh karenanya, opsi penambahan bisa saja ditempuh jika kondisi membutuhkan tambahan likuiditas. 

“Saya monitor keadaan uang di perbankan dan saya pastikan likuiditas sistem perbankan kita di perekonomian kita cukup untuk mendorong ekonomi ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi,” kata Purbaya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...