Prospek IHSG setelah Melewati Guncangan Beruntun sejak Awal Tahun

Karunia Putri
2 Maret 2026, 16:14
IHSG
Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung memotret layar digital yang menampilkan IHSG dan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Prospek pasar saham Indonesia dinilai tetap cerah meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan beruntun sejak awal tahun. Sejumlah sentimen negatif, mulai dari keputusan lembaga global, aksi jual investor hingga gejolak perang Timur Tengah sempat memicu volatilitas pasar.

Guncangan terbaru datang dari meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang dibantu Amerika Serikat (AS). Serangan udara dan laut yang terjadi pada Sabtu (28/2) lalu memicu ketidakpastian global dan memperdalam kekhawatiran pelaku pasar.

Mengutip laporan Reuters, Israel melancarkan serangan ke ibu kota Iran, Teheran, pada Minggu (1/3). Serangan itu kemudian dibalas Iran dengan rentetan rudal.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot), Imam Gunadi, menilai dampak ekonomi dari eskalasi konflik tersebut salah satunya terlihat dari perkembangan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis itu menjadi rute sekitar 20–25% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.

Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan penutupan atau pembatasan akses ke jalur tersebut sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel.

Gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi global karena jalur ini memfasilitasi perdagangan puluhan juta barel minyak dan gas per hari. Kondisi tersebut dapat mendorong lonjakan harga minyak, mengganggu rantai pasok energi, serta meningkatkan biaya asuransi pengiriman. Sementara itu, Mahkamah Agung AS baru saja membatalkan sebagian tarif impor Amerika.

"Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump karena dianggap melampaui kewenangan hukum, memaksa administrasi AS untuk mencari dasar hukum baru guna mempertahankan beberapa kebijakan tarif tersebut," ujar Imam dalam keterangannya dikutip Senin (2/3).

Trump kemudian mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15%, sebagai respons terhadap pembatalan tersebut. Sementara itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk antisubsidi untuk panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran tarif antara 86% dan 143,3%, karena dianggap mendapatkan subsidi yang merugikan industri domestik AS.

Ketentuan tarif tinggi itu dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait. Dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya melibatkan Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20–25% distribusi minyak dunia, sektor energi dan komoditas menjadi yang paling sensitif untuk diperhatikan. 

Menatap prospek IHSG, menurut Imam, IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada level support 8.031 dan resistance 8.437. Pergerakan indeks akan sangat dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik global dan sentimen fiskal domestik.

Ketidakpastian global berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia.

Namun bagi pasar domestik, kenaikan harga minyak dan batu bara justru dapat menjadi penopang bagi sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga komoditas bertahan di level tinggi. Indonesia sebagai eksportir batu bara dan komoditas energi berpeluang memperoleh keuntungan dari peningkatan harga jual rata-rata dan perbaikan margin emiten.

“Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global,” ujarnya.

IHSG Terimbas Pengumuman MSCI dan S&P

Pada 28 Januari 2026, IHSG tercatat merosot hingga 8% dalam dua hari setelah pengelola indeks global MSCI Inc mengumumkan penangguhan saham-saham Indonesia dalam proses rebalancing Februari 2026. Setelah pengumuman tersebut, sejumlah lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs, Nomura, dan Moody’s turut mengubah outlook terhadap pasar saham Indonesia.

Tekanan tersebut berdampak pada arus dana asing. Dalam periode sebulan hingga 18 Februari 2026, tercatat dana asing keluar dari pasar saham domestik mencapai Rp 26,55 triliun.

Kendati demikian, Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, tetap optimistis terhadap kinerja IHSG tahun ini. Ia menilai langkah reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama jajaran self regulatory organization (SRO), khususnya Bursa Efek Indonesia (BEI), akan meningkatkan kepercayaan investor.

“Mereka pasti monitor, udah pasti monitor. Perkembangannya, reformasinya jalannya seperti apa. Tapi saya yakin dengan peraturan-peraturan baru yang nanti diterapkan, itu akan membuat market kita jauh lebih kredibel,” ujar Oki kepada wartawan, Kamis (26/2).

Menurut dia, reformasi tersebut akan mendorong transparansi, memperbaiki tata kelola serta meningkatkan likuiditas pasar yang selama ini menjadi perhatian investor institusi, baik domestik maupun asing. Likuiditas yang lebih baik dinilai penting agar saham lebih aktif diperdagangkan dan menarik bagi investor besar seperti manajer investasi, dana pensiun, BPJS, dan perusahaan asuransi.

Oki juga menekankan pentingnya menghadirkan lebih banyak penawaran umum perdana saham (IPO) yang berkualitas dan berukuran besar. Menurut dia, kehadiran IPO dengan fundamental kuat tidak hanya memperdalam pasar, tetapi juga berpotensi mendongkrak indeks.

“Kalau IPO-nya makin banyak, berkualitas, dan sizable, investor institusi domestik maupun asing akan masuk,” ujarnya.

Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia dan kinerja mayoritas perusahaan tercatat masih solid. Karena itu, pemulihan pertumbuhan menjadi kunci untuk mendorong penguatan pasar saham ke depan.

Senada dengan itu, President Director Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI), Kyoung Hun Nam, melihat kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase wait and see pascakeputusan MSCI. Ia memperkirakan paruh pertama tahun ini akan menjadi periode konsolidasi sambil menunggu kejelasan kebijakan dan perbaikan sentimen.

“Kami berharap ada kabar baik setelah pemerintah mencapai kesepakatan dengan MSCI sehingga sentimen pasar membaik pada paruh kedua tahun ini,” kata Kyoung Hun Nam pada Jumat (27/2).

Ia menambahkan, dinamika yang dipicu MSCI maupun lembaga pemeringkat global belum berdampak signifikan terhadap pipeline IPO KISI karena sebagian besar proyek telah dipersiapkan sejak enam bulan hingga satu tahun sebelumnya.

KISI memproyeksikan IHSG berpotensi berada di kisaran 9.000 hingga 10.000 pada akhir tahun, seiring membaiknya sentimen dan dukungan kebijakan pemerintah.

Dari sisi strategi investasi, Kyoung Hun Nam menyarankan investor tetap melakukan diversifikasi portofolio. Selain saham, instrumen pendapatan tetap serta aset safe haven seperti emas dan perak dinilai relevan di tengah ketidakpastian global, termasuk persaingan Amerika Serikat dan China.

Untuk sektor potensial, ia menilai industri yang bersifat defensif seperti perbankan dan konsumen berpeluang tumbuh dalam kondisi pasar yang lebih stabil. Di sisi lain, sektor pertambangan juga direkomendasikan seiring tren kenaikan harga komoditas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...