Macron Perkaya Senjata Nuklir Prancis, Siap Dikerahkan Lindungi Aliansi Eropa
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan akan meningkatkan persenjataan nuklir sebagai upaya pencegahan atas potensi meluasnya konflik geopolitik. Macron menyebut pemerintahan Prancis akan mengintensifkan pertahanan nuklir untuk berbagai situasi keamanan yang mungkin timbul bersama dengan negara Eropa sekutunya.
“Untuk 50 tahun ke depan akan menjadi era senjata nuklir," ujar Macron dalam pidato di hadapan para perwira angkatan laut di depan kapal selam nuklir di pangkalan Ile Longue dekat pelabuhan Brest pada Senin (2/3).
Lebih jauh ia mengatakan saat ini jumlah hulu ledak nuklir Prancis akan ditingkatkan dari jumlah saat ini sekitar 300. Pada kesempatan sama ia mengumumkan peluncuran kapal selam bersenjata nuklir baru pada tahun 2036 yang akan diberi nama The Invincible.
Menurut Macron, delapan negara Eropa lainnya yaitu Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark telah setuju untuk berpartisipasi dalam strategi yang ia sebut sebagai pencegahan canggih yang baru .Macron mengatakan delapan negara Eropa dapat mengambil bagian dalam latihan kemampuan nuklir yang diluncurkan dari udara milik Prancis dan juga menjadi tuan rumah pangkalan udara tempat pembom nuklir Prancis dapat ditempatkan.
Lebih jauh Macron mengatakan kerja sama yang terbentuk akan memungkinkan Angkatan Udara Strategis Prancis (FAS) untuk menyebar ke seluruh penjuru benua Eropa. Selain itu mitra Prancis juga akan berbagi dalam pengembangan kapasitas tambahan di bawah doktrin nuklir baru.
Sejumlah pejabat menyebut gagasan Macron sebagai perubahan paling signifikan dalam pemikiran strategis Prancis sejak tahun 1960. Di sisi lain tidak akan ada jaminan eksplisit yang diberikan kepada negara-negara mitra, dan presiden Prancis-lah yang akan mempertahankan kekuasaan pengambilan keputusan tunggal atas kapan harus menembakkan rudal nuklir.
“Jika mereka berani menyerang Prancis, akan ada harga yang tidak berkelanjutan yang harus dibayar," kata Macron lagi.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi berkaitan dengan kepentingan yang dianggap vital bagi Prancis. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah mengisyaratkan bahwa kepentingan vital juga dapat mencakup kepentingan di Eropa.
Sementara itu, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk dalam unggahan media sosial X miliknya menyinggung keputusan tersebut. Ia menyebut langkah itu sebagai langkah antisipasi yang dilakukan bersama.
"Kita mempersenjatai diri bersama teman-teman kita sehingga musuh kita tidak akan pernah berani menyerang kita," ujar Donald Tusk.
Berdasarkan prinsip yang sama, Macron mengatakan bahwa mulai sekarang Prancis tidak akan lagi mengkomunikasikan kepada dunia jumlah hulu ledak nuklir yang dimilikinya. Prancis sudah memiliki perjanjian kerja sama dengan satu-satunya kekuatan nuklir Eropa lainnya yaitu Inggris Raya.
Baru-baru ini, para pejabat Inggris untuk pertama kalinya ikut serta dalam latihan yang dilakukan oleh FAS Prancis. Tak lama setelah pidato tersebut, Prancis dan Jerman bersama-sama mengumumkan rencana untuk kerja sama yang lebih erat di bidang pencegahan nuklir.
Kedua negara disebut akan mengambil langkah pertama tahun ini, termasuk partisipasi Jerman dalam latihan nuklir Prancis. Selain itu Jerman dan Prancis disebut telah bersiap dalam pengembangan kapasitas konvensional dengan mitra Eropa.
"Kerja sama ini akan melengkapi, bukan menggantikan, pencegahan nuklir NATO," tulis Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam dokumen bersama.
