Qatar Energy Setop Produksi LNG, Saham MEDC, ENRG hingga PGAS Mana yang Menarik?
Sejumlah saham yang memiliki lini bisnis gas diproyeksikan akan bergerak positif menyusul kabar penyetopan operasional gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) terbesar di dunia milik Qatar Energy memiliki gangguan karena diserang Iran kemarin. Pabrik Ras Laffan yang dioperasikan perusahaan tersebut mencakup sekitar seperlima pasokan LNG global.
Penghentian operasional yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya itu dinilai berpotensi mengancam keamanan energi dunia serta mengguncang pasar global. Dampaknya, harga gas berjangka acuan Eropa melonjak tajam, bahkan mencatat kenaikan tertinggi sejak krisis energi 2022 akibat invasi Rusia ke Ukraina. Harga gas di Eropa dilaporkan sempat melesat hingga 54%.
Pengiriman LNG dari kawasan Timur Tengah juga terganggu sejak akhir pekan, setelah sebagian besar kapal tanker menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi global di pintu masuk Teluk Persia.
“Ancaman terhadap keamanan pasokan ada di sini dan sekarang. Besarnya ancaman itu akan bergantung pada durasi penutupan, tetapi kita sekarang berada dalam skenario baru,” ujar analis Bruegel Simone Tagliapietra dikutip dari Bloomberg, Selasa (3/3).
Retail Research Team Leader CGS International Sekuritas Indonesia Mino menilai kabar tersebut menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten gas, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
“Dengan adanya sentimen baru ini, kelihatannya keempat emiten tersebut berpeluang untuk menguat. Jadi bisa dimanfaatkan untuk trading jangka pendek,” ujar Mino dalam siaran langsung CGS Sekuritas, Selasa (3/3).
Secara teknikal, ia menjelaskan pada perdagangan sebelumnya saham-saham energi tersebut telah menguat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia. Untuk hari ini, sentimen tambahan berasal dari kenaikan harga gas global.
MEDC, ENRG, dan RAJA disebut membentuk pola bullish continuation, sementara RATU masih berada dalam fase indecision atau pergerakan yang belum menunjukkan arah jelas. Meski demikian, peluang penguatan tetap terbuka seiring sentimen positif sektor energi.
Dari sisi teknikal, Mino merekomendasikan area support dan resistance sebagai berikut, MEDC memiliki area support Rp 1.935 dan resistance Rp 2.050, ENRG area support di Rp 2.120 dan resistance di Rp 2.280, RAJA area support di Rp 4.590 dan resistance Rp 4.810, serta RATU area support Rp 7.340 dan resistance Rp 7.400.
Mino menyampaikan, investor dinilai dapat memanfaatkan momentum ini untuk strategi trading jangka pendek, dengan tetap mencermati perkembangan harga energi global dan dinamika geopolitik.
Tak hanya itu, pemain LNG domestik yaitu PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga berpeluang menguat. Perusahaan pelat merah itu tampil sebagai sebagai utama LNG. Perusahaan memiliki anak perusahaan yang fokus pada bisnis LNG bernama PT PGN LNG Indonesia. Fokus utamanya meliputi trading LNG domestik dan internasional, pengelolaan FSRU Lampung, revitalisasi Tangki LNG Arun, serta pengembangan infrastruktur small-scale untuk memenuhi kebutuhan industri dan smelter.
Ke depan, PGN LNG berkomitmen untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas dan infrastruktur LNG di seluruh Indonesia dengan tujuan mendukung program pemerintah dalam mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.
Pundi-pundi rupiah PGAS juga berasal salah satunya dari penjualan LNG. Mengutip laporan kuartal III tahun 2025 PGAS, perseroan memiliki persediaan gas alam dan LNG senilai Rp US$ 23,80 miliar atau setara dengan Rp 397,32 juta.
Sementara itu, di pos pendapatan, segmen trading LNG menyumbang US$ 137,56 juta dari total pendapatan perseroan pada periode tersebut. Adapun pendapatan PGAS pada triwulan ketiga tahun lalu mencapai US$ 2,92 miliar.
D'Origin Advisory merekomendasikan investor membeli saham PGAS di rentang harga 2.450 - 2.420 dengan target harga ke level 2.500 - 2.550.
"Harga terkoreksi lalu reject pada level support membentuk hammer candlestick pada 1H time frame, sehingga berpeluang rebound dan melanjutkan penguatan," kata D'Origin dalam keterangannya.
