Harga Turun 8,16%, MBMA Siapkan Buyback 1,8 Miliar Saham

Nur Hana Putri Nabila
16 Maret 2026, 12:27
Buyback
Dokumentasi perseroan
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menargetkan produksi high grade nickel matte (HGNM) sebesar 44.000–48.000 ton pada 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten pertambangan afiliasi Grup Saratoga dan Garibaldi Thohir, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), berencana melakukan pembelian kembali alias buyback saham. Jumlahnya mencapai 1,8 miliar lembar dengan alokasi dana maksimal Rp1,7 triliun.

Apabila menilik perdagangan saham MBMA hingga jeda makan siang ini, Senin (16/3), saham MBMA turun 4,26% ke Rp 675. Adapun kapitalisasi pasarnya Rp 72,90 triliun. Dalam sebulan terakhir, saham MBMA telah terperosok 8,16%, tetapi menguat 2,27% dalam seminggu terakhir. 

Pelaksanaan aksi buyback oleh MBMA direncanakan berlangsung pada periode 17 Maret 2026 hingga 16 Juni 2026 atau paling lama tiga bulan sejak penerbitan keterbukaan informasi pada 16 Maret 2026. Periode tersebut dapat berakhir lebih awal apabila perseroan memutuskan menghentikan pelaksanaan pembelian kembali saham dengan tetap mengacu pada ketentuan peraturan yang berlaku.

"Buyback saham akan dilakukan pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku," demikian tertulis dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (16/3).

Direktur Utama Merdeka Battery Materials, Teddy Oetomo mengatakan, langkah itu menjadi bagian dari upaya MBMA merespons dinamika pasar sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap fundamental dan prospek jangka panjang perusahaan. Perseroan juga tetap optimistis terhadap peluang pertumbuhan bisnis ke depan.

“Target produksi yang lebih tinggi di segmen pertambangan maupun hilirisasi nikel pada tahun 2026 mencerminkan momentum pengembangan operasional yang terus berlanjut,” ujar Teddy dalam keterangan resminya, Senin (16/3).

Seiring dengan itu MBMA menargetkan produksi high grade nickel matte (HGNM) sebesar 44.000–48.000 ton pada 2026. Target ini meningkat dari realisasi 19.998 ton pada 2025. Perseroan juga menurunkan biaya tunai NPI sekitar 9% secara tahunan sepanjang 2025.

Selain itu, MBMA mulai mengoperasikan Feed Preparation Plant (FPP) untuk mengirim slurry limonit melalui jalur pipa dari tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral. Hal itu untuk meningkatkan efisiensi fasilitas HPAL milik PT ESG New Energy Material di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park.

Adapun ke depan MBMA menargetkan proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt dengan kapasitas 90.000 ton per tahun mulai mengoperasikan train pertamanya pada semester II 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...