Emiten jasa logistik dan energi, PT RMK Energy Tbk (RMKE), telah merealisasikan pembelian kembali (buyback) lebih dari 11,47 juta saham hingga awal Maret ini.
Di tengah upaya OJK dan SRO) pasar modal mendorong kenaikan batas free float dari 7,5% menjadi 15%, sejumlah emiten justru mengumumkan rencana membeli kembali saham-sahamnya yang beredar atau buyback.
Secara terperinci, BREN menyiapkan dana maksimal Rp 2 triliun untuk buyback saham yang berasal dari dana internal. Adapun CDIA berencana melakukan buyback saham sebanyak-banyaknya Rp 1 triliun.
PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan melakukan buyback saham. Ini rinciannya.
Rencana buyback itu mencuat di tengah merosotnya harga saham UNTR akibat diterpa sentimen negatif pascapencabutan izin tambang Martabe yang dikelola anak usahanya, PT Agincourt Resources atau PTAR.
Emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie PT Darma Henwa Tbk mengumumkan akan menggelar pembelian Kembali saham atau buyback. Buyback akan dilakukan pada periode 19 November hingga 19 Februari 2026
Bank Mandiri catat laba bersih Rp4,14 triliun per September 2025, naik 1,84% MoM. Pertumbuhan ditopang digital banking, treasury, dan buyback saham yang menegaskan kekuatan fundamental.
Emiten produksi obat-obatan dan produk kesehatan, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berencana melakukan pembelian saham kembali atau buyback di tengah kondisi pasar modal yang berfluktuasi signifikan.
Buyback artinya pembelian kembali saham sebuah perusahaan yang beredar di publik. Ada beberapa tujuan perusahaan melakukan aksi korporasi ini. Berikut ini penjelasannya.
PT Jayamas Medica Industri, atau OMED, berencana melakukan buyback saham senilai Rp 5 miliar, tergantung pada hasil RUPSLB dan ketentuan likuiditas perusahaan