Kisi-Kisi Laba TINS Saat Produksi Anjlok, Target 30 Ribu Ton Bagaimana Kansnya?

Nur Hana Putri Nabila
1 April 2026, 05:40
Timah
ANTARA FOTO/Andri Saputra/nym.
Pekerja melakukan proses peleburan timah di Divisi Pengolahan dan Peleburan Unit Metalurgi PT Timah Tbk di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (16/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten pertambangan PT Timah Tbk (TINS) meraup laba sekitar Rp 1,1 triliun sepanjang 2025. Adapun sepanjang 2024, TINS mencatatkan laba bersih mencapai Rp1,19 triliun atau melonjak 364% yoy dari kerugian Rp 449,67 miliar pada 2023. 

“Keuntungan bersih dari perusahaan kami Rp 1,1 atau mendekati Rp 1,2 triliun untuk tahun 2025,” kata Direktur Utama Timah, Restu Widiyantoro dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (31/3). 

Tak hanya itu, Restu juga mengatakan pendapatan Timah sekitar Rp 12 triliun. Apabila menilik tahun buku 2024, TINS meraup pendapatan sebesar Rp 10,86 triliun. Alhasil jika dikalkulasikan perusahaan mencatatkan kenaikan pendapatan hingga 10,5% year on year (yoy). 

Meski begitu, di tengah kenaikan laba TINS produksi bijih timah sepanjang 2025 turun 4% yoy menjadi 18.635 ton dari 2024 sebebanyak 19.473 ton. Lalu produksi logam timah juga anjlok 6% yoy menjadi 17.815 metrik ton dari produksi 2024 sebesar 18.915 metrik ton.

Pada saat bersamaan penjualan logam timah juga merosot 5% menjadi 16.634 metrik ton dari sebelumnya 17.507 metrik ton. Restu menyampaikan secara umum kinerja korporasi sepanjang 2025 belum sepenuhnya mencapai target.

Perseroan sebelumnya menargetkan produksi bijih timah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 sebesar 21.500 ton. Namun realisasinya tercatat sekitar 18.635 ton atau turun 4% yoy.

Menurut Restu, secara operasional produksi sebenarnya berpotensi mencapai sekitar 20.000 ton. Namun, ia mengaku terdapat kendala administratif terkait pengelolaan material yang berasal dari smelter timah sitaan pemerintah.

Hingga saat ini, proses administrasi tersebut belum rampung sehingga sekitar 2.000 ton bijih timah belum dapat diakui dalam pencatatan kinerja tahun 2025. Dengan kondisi itu, perseroan optimistis siap mencapai target RKAP produksi bijih timah sebesar 30.000 ton pada 2026.

“Nanti kami sangat pede dan siap untuk menerima RKAP 30.000 ton untuk biji timah dari kondisi seperti itu,” kata Restu.  

Potensi Pertumbuhan

Seiring dengan kinerja perusahaan, harga timah dunia tercatat menguat dan mencapai US$ 45.703 per ton atau naik sekitar 3,76% hari ini. Kenaikan harga ini dinilai menjadi katalis utama bagi kinerja PT Timah Tbk (TINS).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan struktur biaya perusahaan yang relatif stabil di kisaran US$ 20.000 per ton membuat setiap kenaikan harga timah berdampak signifikan terhadap profitabilitas. 

Ia memperkirakan, setiap kenaikan US$ 2.000 per ton berpotensi mendorong laba tahun buku 2026 (FY26) hingga sekitar 37%. Selain faktor harga, Abida menyebut pemulihan produksi pasca-penertiban tambang ilegal juga menjadi pendorong kinerja. Volume produksi diproyeksikan meningkat dari sekitar 15 ribu ton pada FY25 menjadi 45 ribu ton pada FY26.

Sebelumnya, Abida memperkirakan kombinasi harga timah yang tinggi dan normalisasi produksi dapat mendorong laba bersih FY26 mencapai R p2,44 triliun, dengan potensi kenaikan lebih lanjut jika realisasi produksi melampaui asumsi dasar.

Dengan tren harga yang semakin kuat dan peluang produksi yang bisa menembus 55–65 ribu ton, laba bersih bahkan berpotensi meningkat ke kisaran lebih dari Rp 4 triliun.

Sejalan dengan itu, dengan asumsi earnings per share (EPS) naik ke level sekitar Rp 430–450 dan menggunakan valuasi konservatif di kisaran 9–10 kali price-to-earnings (P/E), target harga saham TINS direvisi menjadi Rp 4.000 dan dinilai masih rasional.

“Bahkan masih mencerminkan pendekatan konservatif terhadap potensi siklus bullish timah, selama risiko kenaikan cash cost tetap terkelola,” katanya kepada Katadata.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...