IHSG Diprediksi Semakin Lesu, Analis Rekomendasikan AKRA, INKP hingga JPFA
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih rawan terkoreksi hingga perdagangan saham hari ini, Rabu (8/4). Adapun IHSG sudah bertengger di zona merah selama tiga hari beruntun dan anjlok 13,05% dalam sebulan terakhir.
Pada perdagangan Selasa (7/4), IHSG ditutup turun 0,26% ke level 6.971, dengan tekanan jual yang masih mendominasi pasar.
Secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih berada dalam tren penurunan. Karena itu, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan ke kisaran 6.745–6.849.
Namun, dalam skenario terbaik, IHSG diperkirakan sudah menyelesaikan fase penurunannya dan berpeluang berbalik menguat ke level 7.323–7.450.
"MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 6.917 dan 6.846. Sementara resistance terdekat berada di 7.207 dan 7.302," ,” tulis Herditya dalam risetnya, Rabu (8/4).
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) akumulasi beli di rentang Rp 1.355–Rp 1.390 dengan target harga di Rp 1.465–Rp 1.510, sementara level stoploss di bawah Rp 1.315.
Kemudian PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 8.950–Rp 9.500 dengan target harga di Rp 10.150–Rp 10.9900, serta stoploss di bawah Rp 8.850.
Sentimen IHSG
Di samping itu Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG pada Selasa kemarin dipicu oleh tekanan nilai tukar rupiah yang turun 0,42% ke level Rp 17.105 per dolar AS di pasar spot. Anjloknya nilai tukar rupiah kala dolar AS menguat dan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas melihat indikator Stochastic RSI sudah mendekati area overbought. Sementara histogram MACD masih menunjukkan tren positif. Dengan kondisi itu, IHSG diperkirakan akan bergerak konsolidatif di kisaran 6.900–7.100.
Di sisi lain, perpanjangan batas waktu dari AS kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz dinilai berpotensi menjadi sentimen positif yang mendorong peluang rebound pasar dalam jangka pendek.
“Namun mengingat kondisi ketidakpastian yang masih tinggi, IHSG diperkirakan masih akan cenderung bergerak sideways,” tulis analisis Phintraco, Rabu (8/4).
Dari sisi domestik, Phintraco Sekuritas menilai defisit APBN 2026 yang telah mencapai 0,93% dari PDB pada kuartal I menjadi sentimen negatif bagi pasar. Angka ini lebih lebar dibandingkan defisit periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,43% PDB.
Melebarnya defisit tersebut dinilai berpotensi memicu arus keluar dana investor asing, khususnya dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi ini dapat mendorong kenaikan yield obligasi, yang pada gilirannya berpotensi menekan kinerja saham-saham sektor keuangan.
Selain itu, kenaikan yield juga berisiko meningkatkan biaya pinjaman bagi korporasi. Hal itu dapat memperlambat pertumbuhan kredit perbankan dan mendorong kenaikan cost of fund.
Di tengah ketidakpastian tersebut, investor disarankan memanfaatkan momentum musim pembagian dividen yang tengah berlangsung. Sejumlah emiten yang secara historis dikenal rutin membagikan dividen dengan yield relatif tinggi antara lain grup Astra, grup Adaro, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Selain itu, pelaku pasar juga cenderung tetap mengedepankan strategi trading jangka pendek untuk mengantisipasi volatilitas pasar yang masih tinggi.
“Sementara itu BEI optimis proses evaluasi terhadap sistem perdagangan dengan skema Full Call Auction (FCA) dapat diselesaikan pada kuartal kedua 2026,” ungkap Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham, yakni PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).
