Emiten Boy Thohir (AADI) Bakal Buyback Saham, Siapkan Kocek Rp 5 Triliun

Karunia Putri
16 April 2026, 09:05
AADI
AADI
Gambaran umum suasana aktivitas penambangan batu bara oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten terafiliasi konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir yaitu PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Untuk aksi korporasi tersebut, perseroan menyiapkan dana sebanyak-banyaknya Rp 5 triliun.

Manajemen AADI menjelaskan, nilai nominal seluruh saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 10% dari jumlah modal ditempatkan. Selain itu, aksi ini juga tidak akan menyebabkan kekayaan bersih perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan.

Buyback dijadwalkan mulai 23 Mei 2026 dan dapat berlangsung hingga 12 bulan setelah pelaksanaannya.

“Pembelian kembali saham perseroan akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak diperolehnya persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS),” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (16/4).

Manajemen menilai, aksi buyback ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham sekaligus mencerminkan nilai fundamental perseroan secara lebih akurat di pasar.

Selain itu, perseroan juga berharap langkah ini dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik bagi pemegang saham serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap kinerja perusahaan.

Dengan asumsi dana buyback sebesar Rp 5 triliun yang termasuk biaya transaksi namun di luar komisi perantara pedagang efek dan biaya terkait lainnya, laba per saham atau earning per share (EPS) diproyeksikan meningkat menjadi US$ 0,1 dari sebelumnya US$ 0,09.

AADI Lego Aset Batu Bara Kokas

Sekretaris AADI, Ray Aryaputra mengatakan, Yancoal Australia Ltd merencanakan akuisisi penuh 100% saham Kestrel Coal Group. Dalam skemanya, AADI berpotensi menerima dana dalam dua tahap.

Pertama, pembayaran tunai di muka (upfront cash consideration) sebesar US$ 1,85 miliar atau sekitar Rp 31,6 triliun (asumsi kurs Rp 17.100 per dolar AS). 

Selain itu, Ray menyebut ada tambahan pembayaran bersyarat (contingent cash consideration) hingga US$ 550 juta atau sekitar Rp 9,4 triliun, yang akan dibayarkan dalam jangka waktu lima tahun. Namun, pembayaran tambahan ini hanya akan terealisasi apabila rata-rata harga harian indeks Platts Premium Low Vol Hard Coking Coal FOB Australia melampaui US$ 225 per ton.

“Tujuan rencana transaksi untuk mendukung pelaksanaan strategi bisnis dan investasi AADI,” tulis Ray dalam keterbukaan BEI, Rabu (15/4).  

Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto, menilai total potensi nilai transaksi bisa mencapai sekitar US$ 2,4 miliar atau setara Rp 41 triliun. Potensi ini akan bergantung pada pergerakan harga batu bara kokas global dalam beberapa tahun ke depan. 

“Dengan memperhitungkan porsi kepemilikan 47,99% saham di Kestrel Coal Group, transaksi ini mengimplikasikan bahwa AADI akan mendapatkan dana hingga US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 20,5 triliun,” tulis Stockbit Sekuritas, Rabu (15/4).

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...