Ramai Emiten Mau Buyback: dari AADI hingga WINS, Kapan Baiknya Investor Masuk?
Sejumlah emiten mengumumkan akan melaksanakan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback. Adapun dana yang disiapkan perseroan untuk mengeksekusi aksi tersebut beragam, mulai dari miliaran hingga triliunan rupiah.
Dalam pengumuman terbaru, emiten milik konglomerat Garibaldi Thohir alias Boy Thohir berencana melaksanakan aksi buyback dengan menyiapkan dana sebanyak-banyaknya Rp 5 triliun.
Perseroan perlu meminta persetujuan para pemegang saham untuk melaksanakan aksi tersebut. AADI bakal mengadakan rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 22 Mei nanti. Jika pemegang saham setuju, buyback akan mulai dilaksanakan pada 23 Mei 2026 hingga 12 bulan ke depan.
"Di mana jumlah nilai nominal seluruh saham yang akan dibeli kembali oleh perseroan tidak akan melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan dalam perseroan," tulis manajemen AADI dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dikutip pada Kamis (16/4).
Dengan asumsi dana buyback tersebut, performa laba per saham atau earning per share (EPS) AADI diproyeksikan meningkat menjadi US$ 0,1 dari sebelumnya US$ 0,09. Saat ini, porsi saham publik atau free float AADI tercatat sebesar 19,09% dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 85,26 triliun.
Pada perdagangan secara intraday pukul 11.35 WIB, saham AADI naik 0,93% atau 100 poin ke level Rp 10.900. Sejak awal tahun, sahamnya telah melonjak sebanyak 57,35%.
INTP Buyback Rp 750 Miliar
Selanjutnya, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menyiapkan dana buyback sebesar Rp 750 miliar. Menurut rencana, buyback akan dimulai sejak 22 Mei 2026 hingga 21 Mei 2027.
Jika dana yang dialokasikan untuk aksi tersebut habis lebih cepat, perseroan akan mengumumkan pemberhentian buyback di keterbukaan informasi BEI.
"Perseroan berkeyakinan bahwa pelaksanaan pembelian kembali saham tidak akan mengakibatkan penurunan pendapatan perseroan dan tidak memberikan dampak negatif atas biaya pembiayaan perseroan mengingat dana yang digunakan adalah dana internal perseroan," kata manajemen INTP.
Adapun biaya buyback berasal dari kas internal perusahaan, termasuk biaya pembelian kembali saham, komisi pedagang sementara, serta biaya lainnya yang berhubungan dengan buyback.
Adapaun sata ini free float perseroan sebesar 39,79% dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 19,07 triliun. Harga saham INTP tercatat naik 2,37% ke level Rp 5.700 intraday pukul 10.25 WIB.
WINS Buyback US$ 3,52 Juta
Kemudian PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) akan melaksanakan buyback dan menyiapkan dana sebesar US$ 3,52 juta atau setara dengan Rp 60,49 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.141 terhadap dolar AS.
Perseroan mulai melaksanakan aksi buyback pada 14 Mei 2026 hingga 13 Mei 2027. Manjemen WINS menyampaikan, aksi tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari strategi berkelanjutan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham serta memberikan sinyal positif kepada pasar.
Manajemen meyakini prospek keuangan dan bisnis perseroan tetap kuat. Namun demikian, ketidakpastian global saat ini memengaruhi sentimen pasar dan berakibat terhadap meningkatnya volatilitas harga saham yang tidak selalu mencerminkan fundamental perseroan.
"Program buyback ini menjadi sarana perseroan untuk menjaga stabilitas harga saham, khususnya pada periode terjadinya fluktuasi pasar yang signifikan," kata manajemen.
Adapun hingga saat ini, free float WINS sebesar 35,53% dan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 2,27 triliun. Saham WINS terpantau stagnan di level Rp 510 pada pukul 10.32 WIB.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai aksi buyback umumnya dilakukan emiten untuk menjaga stabilitas harga di tengah tingginya volatilitas pasar. Kondisi tersebut, menurut dia, kerap dipicu oleh fluktuasi nilai tukar rupiah, aksi ambil untung (profit taking) hingga faktor ketidakpastian global.
Ia menjelaskan, buyback berfungsi sebagai buffer untuk menahan penurunan harga saham agar tidak terkoreksi terlalu dalam. Selain itu, langkah ini juga bertujuan mengembalikan harga saham agar lebih mencerminkan nilai fundamental perusahaan.
“Buyback ini dilaksanakan dalam rangka ini, karenanya harga saham itu lebih murah ya atau value dibandingkan dengan nilai intrinsiknya jadi wajar saja, aksi korporasi buyback harus dilakukan,” ujar Nafan kepada Katadata, Kamis (16/4).
Di sisi lain, ia menambahkan, aksi buyback juga mencerminkan kondisi arus kas perusahaan yang kuat. Dengan likuiditas yang memadai, emiten dinilai tetap mampu melakukan ekspansi bisnis tanpa terganggu oleh aksi korporasi tersebut.
Meskipun demikian, Nafan mengingatkan prospek saham tetap harus dilihat dari fundamental perusahaan, seperti pertumbuhan laba per saham atau earnings per share (EPS). Jika kinerja fundamental solid, maka aksi buyback berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham.
Ia memperkirakan tren buyback masih akan cukup marak pada kuartal kedua, terutama di tengah bayang-bayang ketidakpastian global. Namun, investor disarankan tidak sekadar mengikuti euforia pasar atau fear of missing out (FOMO).
“Kalau mau (masuk ke saham yang buyback) lebih baik ya yang mending harga sahamnya sudah menunjukkan tren reversal,” katanya.
Menurut Nafan, euforia pasar akibat aksi buyback umumnya bersifat sementara. Karena itu, strategi akumulasi sejak awal dinilai lebih optimal dibandingkan membeli saat harga sudah melonjak.
Ia juga menilai likuiditas pasar akan tetap terjaga selama permintaan (demand) masih ada, terutama jika didukung oleh sentimen makroekonomi yang kondusif. Sebaliknya, jika kondisi ekonomi domestik maupun global kurang mendukung, minat investor cenderung melemah.
