BREN Bocorkan Siasat Kebut Kinerja di Tengah Kabar Terdepak dari Indeks MSCI
Emiten konglomerat Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) buka suara usai terancam di depak dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) jelang review Mei 2026 mendatang.
Penyedia indeks saham itu menyatakan akan menerapkan pemberlakuan khusus terhadap saham tertentu terutama yang terkonsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
High shareholding concentration (HSC) merupakan daftar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sebagian besar sahamnya terkonsentrasi pada sedikit pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data ini dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.
Merujuk data BEI per 2 April, saham BREN dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 97,31% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat BREN. Adapun penerima manfaat akhir atau UBO BREN adalah Prajogo Pangestu dan free float tercatat 12,30%.
Merespons hal itu, Corporate Communication Barito Pacific, Angelin Sumendap mengatakan tidak ada perubahan signifikan di struktur pemegang saham semenjak Barito Renewables IPO di 2023.
“Seluruh informasi ini sudah menjadi data publik dari sebelum adanya informasi ataupun pengumuman masuk indeks,” ungkap Angelin kepada Katadata.co.id, Selasa (21/4).
Angelin menyampaikan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah mendorong pertumbuhan bisnis demi menciptakan nilai tambah bagi seluruh investor dan pemangku kepentingan. BREN juga tengah mempercepat pengembangan kapasitas terpasang energi panas bumi (geothermal) dengan target mencapai sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2026.
Menanggapi hal pengumuman soal saham terkonsentrasi itu, Penjabat Sementara Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey pun mengatakan otoritas akan melakukan langkah lanjutan. Meski begitu MSCI belum mengumumkan langkah lanjutan terkait dengan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
“Akan segera diumumkan,” ujar Jeffrey singkat.
Selain BREN, saat ini juga ada saham dalam indeks MSCI yang tergolong memiliki konsentrasi tinggi yaitu PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Saham DSSA dimiliki oleh sejumlah pemegang saham tertentu yang menguasai 95,76% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat DSSA. Adapun UBO DSSA adalah Franky Oesman Widjaja dan free float saham DSSA tercatat 20,41%.
