Wall Street Babak Belur kala Investor Pesimistis AS–Iran Tak Kunjung Damai
Indeks bursa Wall Street turun pada perdagangan Selasa (21/4) waktu AS. Hal ini seiring dengan meningkatnya kekhawatiran investor tentang kesepakatan damai antara AS dan Iran tidak kunjung tercapai sebelum batas waktu gencatan senjata berakhir.
S&P 500 turun 0,63% ke level 7.064,01 dan Nasdaq Composite melemah 0,59% ke posisi 24.259,96. Adapun Dow Jones Industrial Average terkoreksi 293,18 poin atau 0,59% menjadi 49.149,38.
Menjelang penutupan pasar, sentimen negatif meningkat setelah muncul laporan dari The New York Times dan Axios yang menyebutkan bahwa kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance untuk bergabung dalam negosiasi dengan Iran ditunda. Laporan itu menyebut penundaan lawatan Vance lantaran minimnya komitmen dari Teheran.
Tak lama setelah pasar ditutup, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata akan diperpanjang hingga Iran mengajukan proposal. Sebelumnya, ia juga mengatakan kepada CNBC bahwa ia mengharapkan tercapainya “kesepakatan besar”.
Kendati demikian, Trump menegaskan militer AS siap mengambil tindakan jika kesepakatan tidak tercapai sebelum tenggat. Ia juga menyoroti melalui Truth Social, Iran telah berulang kali melanggar gencatan senjata.
Di sisi lain, harga minyak berbalik menguat setelah sebelumnya sempat anjlok dalam beberapa hari terakhir. Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 2,81% ke US$ 92,13 per barel, sedangkan Brent crude menguat 3,14% ke US$ 98,48 per barel.
Kepala strategi pasar di Zacks Investment Management, Brian Mulberry mengatakan, membangun kepercayaan dalam situasi geopolitik saat ini bukanlah hal mudah. Menurutnya, rekam jejak panjang hubungan dengan Iran menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan apa pun yang mungkin dicapai.
“Namun delegasi mereka mungkin juga tidak mampu melaksanakan sebagian besar perjanjian damai mengingat betapa terpecahnya jajaran atas militer dan pemerintah mereka,” ucap Mulberry dikutip CNBC International, Rabu (22/4).
Kendati demikian, Mulberry tetap memperkirakan kendali atas Selat Hormuz akan menemukan titik penyelesaian dalam waktu dekat, bahkan berpotensi rampung pada akhir pekan ini.
Pelaku pasar di Wall Street, termasuk Mulberry, juga masih melihat prospek pasar saham secara positif. Ia menilai kinerja laba perusahaan pada kuartal pertama tergolong sangat solid, Dengan pertumbuhan dua digit serta pendapatan yang kuat.
Di sisi lain, indeks utama sempat melemah pada perdagangan Senin (20/4) seiring meningkatnya kehati-hatian investor menjelang berakhirnya gencatan senjata, yang turut meredam momentum reli pasar. Nasdaq Composite bahkan mengakhiri tren penguatan terpanjangnya sejak 1992, yakni selama 13 hari berturut-turut.
Padahal pada pekan sebelumnya, S&P 500 dan Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi, baik secara intraday maupun penutupan, didorong optimisme bahwa konflik Iran segera mereda. S&P 500 bahkan untuk pertama kalinya ditutup di atas level 7.100.
Lalu UnitedHealth Group melaporkan hasil kuartal pertama yang melampaui ekspektasi pasar, sehingga mendorong sahamnya melonjak sekitar 7% seiring revisi naik proyeksi laba. Sementara itu, saham Amazon naik 0,7% setelah perusahaan menyepakati investasi hingga US$ 25 miliar pada startup kecerdasan buatan Anthropic.
