Wall Street Melonjak Usai Harga Minyak Turun, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor

Nur Hana Putri Nabila
6 Mei 2026, 06:17
Wall Street, nasdaq
Wall Street
Ilustrasi. Indeks S&P 500 naik 0,81% ke level 7.259,22, menandai rekor tertinggi baru dan Nasdaq Composite menguat 1,03% ke 25.326,13, juga mencetak rekor penutupan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) melonjak pada perdagangan Selasa (5/5) usai harga minyak turun. Para pelaku pasar juga merespons laporan kinerja sejumlah perusahaan dengan laba yang solid. 

Indeks S&P 500 naik 0,81% ke level 7.259,22, menandai rekor tertinggi baru dan Nasdaq Composite menguat 1,03% ke 25.326,13, juga mencetak rekor penutupan. Adapun Dow Jones Industrial Average naik 356,35 poin atau 0,73% ke 49.298,25.

Harga minyak kontrak berjangka West Texas Intermediate turun 3,9% ke US$ 102,27 per barel, dan Brent turun 3,99% ke US$ 109,87. Penurunan ini memberi ruang bagi reli saham karena mengurangi tekanan inflasi dan biaya energi.

Di sisi geopolitik, gencatan senjata antara AS dan Iran masih berlangsung meski situasi di Selat Hormuz tetap rapuh. Pemerintah AS menegaskan jalur pelayaran tetap aman sehingga kekhawatiran pasar tidak berkembang lebih jauh.

Musim laporan keuangan menjadi pendorong utama kenaikan indeks utama Wall Street. Sekitar 85% perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah merilis kinerja melampaui ekspektasi analis. Saham DuPont de Nemours dan Anheuser-Busch InBev masing-masing melonjak lebih dari 8% setelah mencatatkan hasil kuartalan yang kuat.

Sebaliknya, Palantir Technologies justru anjlok hampir 7% meski membukukan kinerja di atas ekspektasi dan menaikkan proyeksi tahunan.

Kepala manajemen portofolio Horizon Investments Zachary Hill menilai, penguatan pasar didorong kinerja keuangan yang kuat di berbagai sektor dan keyakinan investor bahwa AS dan Iran sama-sama menginginkan penyelesaian konflik. Hal ini membuat pasar cenderung mengabaikan risiko di Selat Hormuz dan tetap bergerak di level tertinggi sepanjang masa.

“Saya pikir butuh perubahan signifikan dalam kondisi di lapangan atau lonjakan harga minyak yang sangat besar agar pasar kembali terpengaruh oleh dinamika konflik tersebut,” ucap Hill dikutip CNBC International, Rabu (6/5). 

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...