Wall Street Ditutup Melonjak Terdorong Harapan Damai AS - Iran
Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) melonjak pada perdagangan Rabu (6/6) usai muncul laporan bahwa kesepakatan AS dan Iran untuk mengakhiri konflik kawasan Timur Tengah sudah hampir dekat.
S&P 500 naik 1,46% ke level 7.365,12, sementara Nasdaq Composite melesat 2,02% dan ditutup di 25.838,94. Kedua indeks tersebut sempat menyentuh level tertinggi baru sekaligus mencatat rekor penutupan tertinggi. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 612,34 poin atau 1,24% menjadi 49.910,59.
Saham produsen chip Advanced Micro Devices (AMD) turut melonjak, naik 18,6% setelah perseroan merilis proyeksi kinerja kuartal kedua yang optimistis. AMD juga membukukan pendapatan dan laba bersih kuartal pertama yang melampaui ekspektasi pasar.
Kinerja positif AMD ikut mendorong penguatan sektor semikonduktor secara luas. ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) melesat 5%, sementara saham Intel Corporation naik 4,5%.
Kenaikan pasar usai laporan Axios yang menyebut AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan konflik. Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, kesepakatan itu disebut mencakup moratorium pengayaan nuklir Iran. Di saat yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Teheran tengah mengevaluasi proposal penyelesaian dari AS.
Kesepakatan Belum Final
Meski begitu, Presiden AS Donald Trump pada Rabu malam mengisyaratkan bahwa kesepakatan tersebut belum final. Trump mengatakan mungkin Iran akan menerima proposal dari AS. Pernyataan itu membuat penguatan saham di Wall Street sempat memangkas kenaikan dari level tertingginya.
“Jika mereka tidak setuju, serangan udara akan dimulai, dan sayangnya, akan berada pada level dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” tulis Trump dalam postingan di Truth Social, dikutip CNBC International, Kamis (7/6).
Trump juga mengatakan pada Selasa (4/5) malam ia menunda “Project Freedom”, yakni rencana AS untuk mengalihkan jalur kapal dari Selat Hormuz. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyebut keputusan tersebut karena baginya itu kemajuan besar yang telah dicapai menuju “Perjanjian Lengkap dan Final” dengan perwakilan Iran.
Meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah turut menekan harga minyak, seiring pelaku pasar mengurangi eksposur Minyak dengan harapan perang segera berakhir. Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 7,03% dan ditutup di level US$ 95,08 per barel. Sementara itu, minyak Brent melemah 7,83% menjadi US$ 101,27 per barel.
Direktur Investasi U.S. Bank Asset Management Group, Bill Northey, mengatakan apabila konflik benar-benar mulai mereda atau bahkan berhenti sepenuhnya, dan Selat Hormuz kembali dibuka normal, maka kawasan yang paling rentan terhadap gejolak ekonomi seperti Asia Tenggara dan Eropa dapat terhindar dari tekanan ekonomi yang lebih besar.
“Hal itu menandakan potensi rebound di pasar saham,” ucap Northey.
