IHSG Merah Tertekan Pelemahan Rupiah jelang Rilis MSCI, Saham ASII - BNBR Rontok
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,26% atau turun 87,17 poin ke level 6.818 pada perdagangan intraday Selasa (12/5). Turunnya indeks terjadi di tengah penantian pelaku pasar terhadap hasil review kuartalan pengelola indeks global MSCI yang akan diumumkan pada hari ini waktu New York.
Sentimen negatif juga datang dari nilai tukar rupiah yang pagi ini menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat. Posisi tersebut menjadi level terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume transaksi pagi ini mencapai 10,61 miliar saham dengan frekuensi perdagangan 836,60 ribu kali. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 3,78 triliun, sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp 12.183 triliun.
Tekanan jual terpantau terjadi di saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,63% ke level Rp 6.050. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 0,31% ke Rp 3.190, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berkurang 0,71% ke Rp 4.220, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 0,79% ke level Rp 3.790.
Dari sebelas sektor yang tercatat di BEI, sektor industri mengalami penurunan terdalam dengan koreksi 3,22%. Beberapa saham di sektor tersebut terpantau mengalami tekanan signifikan. Saham PT Astra International Tbk (ASII) turun 2,48% ke level Rp 5.900, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) anjlok 4,24% ke Rp 158, sementara PT United Tractors Tbk (UNTR) terkoreksi 1,75% ke level Rp 26.700.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai pergerakan IHSG hari ini masih menunjukkan indikasi bullish divergence jika ditinjau dari indikator RSI.
Nafan menjelaskan, indikator Stochastic KD saat ini masih memberikan sinyal negatif, sementara volume perdagangan tercatat mengalami penurunan. Namun, di sisi lain, RSI telah berada pada level oversold atau jenuh jual, yang membuka peluang terjadinya pembalikan arah.
Menurut Nafan, perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan hari ini tertuju pada pengumuman hasil quarterly review Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pasar mencermati potensi keluarnya sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), menyusul kebijakan High Shareholder Concentration (HSC) yang sebelumnya sempat menjadi sorotan.
Spekulasi tersebut memicu kekhawatiran akan potensi arus keluar modal asing dalam jumlah signifikan apabila saham-saham tersebut benar-benar dikeluarkan dari indeks.
Sentimen negatif lainnya datang dari perkembangan geopolitik global. Ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran kembali meningkat setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat pada 11 Mei 2026 menjatuhkan sanksi baru terhadap 12 entitas dan individu yang dituduh memfasilitasi perdagangan minyak ilegal Iran ke Cina.
