3 Saham Prajogo Terdepak dari MSCI di Hari Ulang Tahun, Harta Turun Rp 337 T

Nur Hana Putri Nabila
13 Mei 2026, 06:41
Pengusaha nasional, Prajogo Pangestu.
Arief Kamaludin|KATADATA
Pengusaha nasional, Prajogo Pangestu.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah saham milik konglomerat Prajogo Pangestu terancam turun pada perdagangan Rabu (13/5). Tepat di hari ulang tahun Prajogo  yang ke-82, tiga saham miliknya  itu didepak dari indeks bergengsi MSCI.

Tiga saham tersebut yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Meski begitu saham PT Barito Pacifik Tbk (BRPT) tetap berada di daftar MSCI Global Standard Indexes.

BREN merupakan emiten yang masuk dalam daftar pemegang saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Dalam peninjauan terbaru, MSCI juga tidak menambah saham Indonesia ke dalam kategori indeks global cap.

Sehari sebelum pengumuman, saham BREN, TPIA, dan CUAN sudah lebih dulu tertekan pada perdagangan Selasa (12/5). Saham BREN turun 4,75% ke level Rp 3.610 dan secara year to-date (ytd) telah anjlok 62,78%.

Tak hanya BREN, saham CUAN bahkan merosot 8,25% dan telah terperosok 59,62% secara ytd. Sementara itu, saham TPIA terpantau stagnan pada perdagangan hari itu, tetapi masih melemah 27,86% sepanjang tahun berjalan.

Pelemahan saham-saham tersebut turut menggerus kekayaan Prajogo Pangestu. Mengutip Forbes, pada 2025 orang terkaya nomor dua di Indonesia itu memiliki kekayaan mencapai US$ 39,8 miliar atau sekitar Rp 696,5 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.500 per dolar AS.

Namun, per Selasa (12/5), kekayaan Prajogo tercatat tinggal US$ 20,5 miliar atau sekitar Rp 358,75 triliun. Artinya, kekayaannya telah menyusut sekitar US$ 19,3 miliar atau setara Rp 337,75 triliun, atau menguap sekitar 48,5%.

Di sisi lain, MSCI akan melakukan tinjauan berikutnya pada Agustus 2026, dengan pengumuman dijadwalkan pada 12 Agustus 2026 dan berlaku efektif mulai 1 September 2026. Sebelumnya, pada 21 April 2026, MSCI telah mengumumkan tetap membekukan seluruh kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS).

Kebijakan tersebut membuat tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). MSCI juga tidak membuka ruang migrasi naik antarsegmen indeks bagi saham Indonesia, termasuk perpindahan dari kategori Small Cap ke Standard Index.

Selain itu, lembaga indeks global tersebut menegaskan akan menghapus sekuritas yang diidentifikasi otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi. MSCI juga membuka kemungkinan menggunakan data keterbukaan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float apabila diperlukan.

Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa MSCI masih menaruh perhatian besar terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di pasar modal Indonesia.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...