Membaca Arah Baru IHSG Usai Rilis Indeks MSCI, Bagaimana Prospek Saham RI?

Nur Hana Putri Nabila
13 Mei 2026, 11:01
Pengunjung berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). IHSG ditutup melemah 4,88% atau 406,88 poin ke level 7.922 dengan volume transaksi perdagangan me
Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). IHSG ditutup melemah 4,88% atau 406,88 poin ke level 7.922 dengan volume transaksi perdagangan mencapai 50,39 miliar saham dan frekuensi sebanyak 2,94 juta kali.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia kembali meningkat usai MSCI merilis hasil rebalancing Mei 2026. Sebanyak 18 saham domestik keluar dari indeks MSCI, memicu kekhawatiran investor terhadap potensi arus keluar dana asing dan tekanan lanjutan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun, sejumlah analis menilai tekanan riil pasar kemungkinan tidak seburuk headline yang beredar. Sebab, mayoritas tekanan dinilai terkonsentrasi pada beberapa saham tertentu dan sebagian sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Kiwoom Sekuritas dalam kajian terbaru menyebutkan tekanan terbesar berasal dari saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). DSSA diperkirakan menghadapi passive outflow sekitar Rp 9 triliun, sedangkan BREN sekitar Rp 6 triliun.

“Artinya, lebih dari separuh tekanan MSCI sebenarnya hanya bertumpu pada dua nama tersebut,” tulis Kiwoom Research dalam risetnya yang dikutip Rabu (13/5).

Sementara itu, saham lain seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tetap terdampak, tetapi skalanya dinilai lebih terbatas karena kapitalisasi pasar mereka telah terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.

Estimasi foreign outflow kini dinilai lebih realistis dibanding skenario awal yang sempat diperkirakan di atas Rp 50 triliun. Meski demikian, foreign net sell year-to-date sekitar Rp 49 triliun dinilai belum sepenuhnya mencerminkan dampak MSCI. Sebagian tekanan diperkirakan sudah terjadi lebih awal karena investor global mulai melakukan positioning sebelum tanggal efektif implementasi 29 Mei 2026.

“Saham seperti DSSA, BREN, CUAN, hingga AMMN sendiri sudah mengalami tekanan cukup besar sebelum pengumuman final keluar,” tulis Kiwoom Research.

Selain faktor MSCI, tekanan pasar juga dipengaruhi pelemahan rupiah yang menembus Rp 17.500 per dolar AS, tingginya yield US Treasury, hingga ketidakpastian global.

Pandangan serupa juga disampaikan Co Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee. Menurut dia, investor seharusnya tidak terjebak kepanikan berlebihan dalam merespons hasil rebalancing MSCI.

“Pasar Saham bereaksi atas pengumuman rebalancing MSCI 12 Mei 2026. Tatapi pelaku pasar seharunya lebih tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan jual (panic selling),” ujar Hans Kwee.

Ia menilai penghapusan sejumlah emiten dari indeks MSCI lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dibanding memburuknya fundamental perusahaan. Menurut dia, sebagian fund manager juga telah mengantisipasi perubahan indeks tersebut sejak beberapa bulan terakhir.

“Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI,” ujar Hans Kwee.

Selain faktor MSCI, tekanan pasar juga dipengaruhi pelemahan rupiah yang menembus Rp 17.500 per dolar AS, tingginya yield US Treasury, hingga ketidakpastian global.

Peluang Pasar Saham RI

Di tengah sentimen tersebut, terdapat sejumlah faktor positif bagi pasar domestik. Indonesia tetap berstatus Emerging Market dan tidak mengalami penurunan menjadi Frontier Market. Selain itu, ukuran outflow final dinilai lebih rendah dibanding kekhawatiran awal investor.

Keluarnya sejumlah saham besar juga berpotensi meningkatkan bobot relatif saham blue-chip dan bank jumbo Indonesia di indeks MSCI. Kondisi ini dinilai dapat mendorong rotasi likuiditas asing ke saham dengan free float dan tata kelola lebih sehat seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Kiwoom menilai pasar saat ini terlalu fokus pada headline keluarnya 18 saham tanpa melihat bahwa tekanan sudah terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

“Meski demikian, kondisi market domestik masih cukup rapuh,” tulis tim Kiwoom. 

IHSG pada perdagangan sebelumnya turun 46,72 poin atau 0,68% ke level 6.858,90 dan sempat menyentuh level terendah baru tahun ini di 6.762. Investor asing juga kembali mencatat net sell sebesar Rp 799,25 miliar.

Karena itu, Kiwoom masih memandang strategi paling aman bagi investor saat ini adalah hold dan wait & see sambil menunggu volatilitas pasar mereda. Area resistance terdekat IHSG berada pada kisaran 6.980 hingga 7.015, sementara support berada di area 6.762 hingga 6.745.

Sementara Hans Kwee melihat justru ada peluang akumulasi pada sejumlah saham yang mengalami koreksi berlebihan akibat tekanan jual paksa. Ia menyebutkan di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor Small Cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif.

Di sisi lain, Indonesia dinilai masih memiliki peluang memperbaiki persepsi investor global. Menurut Hans, transparansi pasar dan perlindungan investor menjadi faktor penting agar pasar modal domestik bisa mengikuti jejak India sebagai pasar berkembang unggulan.

“Transparansi kini menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk mengikuti jejak sukses India; dalam hal ini, peran OJK dan SRO (BEI, KPEI, KSEI) sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi guna memastikan pasar yang lebih adil,” ujar Hans Kwee.

Ia menambahkan, reformasi keterbukaan informasi dan perlindungan investor minoritas akan menjadi sinyal positif bagi lembaga pemeringkat global seperti MSCI.

“Langkah tersebut membuktikan bahwa periode penyesuaian indeks adalah momentum ‘pembersihan’ untuk menciptakan pasar yang lebih kredibel,” kata Hans Kwee.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...