OJK Ungkap Rencana Aksi seusai 18 Emiten RI Didepak MSCI

Nur Hana Putri Nabila
13 Mei 2026, 12:57
MSCI
Katadata/Fauza Syahputra
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, saat menyampaikan keterangan di Konferensi Pers Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons pengumuman MSCI yang mendepak belasan saham Indonesia dari indeks mereka. OJK menyebut keputusan lembaga itu sebagai konsekuensi jangka pendek dan diharapkan akan menjadi long term gain alias keuntungan jangka panjang.

Pada hari ini, Rabu (13/5) pagi, MSCI mengumumkan bahwa mereka mengeluarkan 18 saham dari indeks Indonesia. Sebanyak enam saham di antaranya tersingkir dari daftar MSCI Global Indexes. 

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi mengatakan, hal ini memang menjadi konsekuensi dari rebalancing MSCI. Dia menilai dikeluarkannya saham-saham itu sebagai dampak jangka pendek dari reformasi integritas pasar yang tengah dilakukan regulator.

“Ini konsekuensi yang sudah kami perhitungkan dan perkirakan sejak awal dengan harapan momentum pengumuman dan penyesuaian indeks kali ini ini bisa membentuk baseline baru,” kata Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (13/5).

Menurut dia, hal itu sejalan dengan pengumuman awal MSCI pada April 2026 lalu. Ia mengaku keterbukaan, transparansi, dan kredibilitas data yang disampaikan regulator terbukti menjadi perhatian dalam proses review indeks terbaru.

Ia menuturkan, reformasi yang lebih tegas demi mengedepankan integritas pasar terus dilakukan agar pasar modal Indonesia semakin kredibel dan memiliki tingkat investability atau kelayakan investasi yang lebih baik, khususnya bagi investor asing. Langkah tersebut akan terus dijalankan dalam jangka menengah hingga panjang.

Hasan juga mengakui reformasi struktural itu berpotensi menimbulkan implikasi jangka pendek. Misalnya tekanan terhadap harga saham yang terdampak rebalancing MSCI. Short term pain atau penurunan dalam jangka pendek, kata dia, menjadi konsekuensi yang harus dihadapi dalam proses pembenahan pasar.

Selain itu, Hasan menegaskan hasil review MSCI kali ini akan menjadi titik awal bagi regulator untuk terus meningkatkan kualitas saham-saham tercatat di bursa. Menurutnya, ke depan semakin banyak saham domestik diharapkan dapat menjadi pilihan investasi investor, termasuk berpeluang masuk ke dalam indeks global.

Hasan mengatakan, upaya tersebut akan dilakukan melalui perencanaan dan penguatan kualitas emiten secara bertahap. Ia menilai langkah reformasi pasar yang saat ini dilakukan memang memunculkan konsekuensi rebalancing dalam jangka pendek. 

Namun, ia menyebut pengumuman ini akan mendorong bursa untuk terus mengejar long term gain atau manfaat jangka panjang. Dengan begitu, akan tercipta basis pasar baru yang lebih kredibel dan menarik bagi investor global, meski untuk sementara ada penyesuaian dari segmen investor tertentu.

“Ke depannya tentu kami akan terus memonitor respons dan reaksi pasar terhadap kondisi terutama pengumuman yang terjadi pada hari ini,” ujar Hasan.  

Tak Ada Panic Selling

Seiring dengan pengumuman itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,81% pada sesi pertama perdagangan Rabu (13/5) ini. Hingga jeda makan siang ini, IHSG parkir di level 6.734.

Hasan mengatakan, pergerakan pasar seusai pengumuman review MSCI masih berada dalam kondisi wajar. Meski terjadi penurunan indeks, ia melihat aktivitas perdagangan masih terbilang normal sebagai konsekuensi reaksi pasar terhadap rebalancing.

Menurut Hasan, saham-saham yang terdampak pun tidak ada yang menyentuh auto rejection bawah (ARB) atau batas penurunan harga terendah (ARB). 

Ia juga menilai frekuensi, volume, dan nilai transaksi perdagangan relatif baik dan tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kondisi tersebut, kata Hasan, mencerminkan tidak adanya panic selling atau tekanan jual satu arah karena aksi pelepasan saham masih diimbangi oleh kekuatan beli di pasar.

Nah, ini juga kami konfirmasi, kalau kami lihat sebetulnya per hari ini dengan seluruh dinamika yang ada, termasuk apa yang terjadi secara geopolitik di regional global maupun apa yang terjadi di domestik,” ucap Hasan. 

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...