Pasar Modal Kian Merana setelah Prabowo Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kian merana menyusul pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal masyarakat pedesaan tidak menggunakan dolar AS. Alhasil, pelaku pasar langsung bereaksi negatif.
IHSG sempat anjlok 3,76% atau 252,97 poin ke Rp 6.470 pada perdagangan sesi pertama, Senin (18/5). Pelemahan terjadi terutama karena tekanan saham sektor industri dasar dan transportasi. Level IHSG kini sudah kembali lagi ke zaman Covid-19.
Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), volume transaksi perdagangan sepanjang sesi pertama mencapai 21,55 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,72 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 11.366 triliun dengan total nilai transaksi siang ini sebesar Rp 11,96 triliun.
Saat ini, pemerintah makin kesulitan menghadapi nilai tukar rupiah yang terus merosot. Dari dalam negeri, pasar keuangan domestik kian bergejolak seiring kejatuhan nilai tukar rupiah yang kini telah di atas Rp 17.600 per dolar AS.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai tekanan terhadap pasar keuangan domestik disebabkan berbagai faktor, mulai dari kondisi global dan sentimen internal.
Dampak perang tarif dagang serta konflik di Timur Tengah dinilai meredam momentum pertumbuhan ekonomi Cina sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Hal itu meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik.
Di tengah tekanan depresiasi, fokus pelaku pasar justru tersedot oleh respons kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat di area pedesaan tidak menggunakan dolar AS. Alih-alih menenangkan pasar, Pilarmas Sekurita melihat pernyataan tersebut justru sebagai sentimen negatif.
Komentar presiden dinilai menunjukkan kurangnya kepekaan pemerintah terhadap urgensi stabilisasi mata uang dan menjaga kepercayaan investor. “Ini sebagai sinyal lemahnya komitmen pemerintah dan otoritas lainnya dalam menjaga nilai tukar dan membangun kredibilitas fundamental ekonomi nasional di mata investor global,” tulis Pilarmas dalam analisisnya, dikutip pada Senin (18/5).
Seiring dengan itu, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 428 miliar pada perdagangan sesi pertama hari ini, Senin (18/5). Tekanan jual terutama menyasar saham-saham yang sebelumnya dikeluarkan oleh MSCI dari indeks globalnya.
Sejumlah emiten yang ramai dilepas investor asing antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), hingga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Berdasarkan data BEI, saham DSSA menjadi emiten yang paling banyak dilepas asing dengan nilai jual mencapai Rp 77 miliar. Posisi berikutnya ditempati ANTM sebesar Rp 76 miliar, disusul PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) senilai Rp 75 miliar.
Luhut Rapat Bareng OJK
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, bertemu dengan jajaran pimpinan Otoritsa Jasa Keuangan (OJK) hari ini, Senin, (18/5) pagi.
Menurut pantauan media sosial Instagram resminya, jajaran pejabat yang hadir ada Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi; Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, dan; jajaran deputi komisioner lainnya.
Luhut mengatakan OJK mendapatkan tambahan tugas penting di tengah situasi global yang tengah tidak menentu. Ia mengatakan peran OJK bukan hanya menjaga stabilitas sektor keuangan, OJK juga perlu memastikan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia tetap kokoh.
"Beberapa diskusi yang kami lakukan yakni terkait dinamika rupiah, perkembangan pasar keuangan, hingga pandangan investor global terhadap Indonesia saat ini. Kami sepakat bahwa tantangannya memang tidak mudah," kata Luhut seperti dikutip dari Instagram @luhut.pandjaitan.
Selain itu, dia meminta secara khusus kepada OJK terkait reformasi pasar modal. Ia menyebut langkah OJK sejauh ini sudah tepat, tetapi memang harus diakui sebagian investor global masih “wait and see”. Apakah implementasinya bisa berjalan konsisten kedepannya sehingga diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas pasar modal.
"Karena pasar modal itu kuncinya hanya satu, “trust” dan kepercayaan itu dibuktikan dengan kebijakan yang stabil dan punya kepastian hukum dalam jangka panjang," kata dia.
