Saham BBTN Naik 9% Ytd Kala Perbankan Raksasa Lesu, Berapa Target Harganya?
Saham perbankan pelat merah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) tetap tangguh dengan melonjak 9,36% secara tahunan atau year to date (ytd) di tengah tekanan ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah dan performa lesunya bank raksasa RI.
Tak hanya itu, saham BBTN juga naik 1,18% ke Rp 1.285 pada perdagangan saham hari ini, Selasa (19/5). Volume perdagangan BBTN sebesar 18,59 miliar, dengan nilai transaksi Rp 23,79 miliar dan kapitalisasi pasar mencapai Rp 18,03 triliun.
Harga saham BBTN dalam tiga bulan terakhir pun tumbuh 5,33%, terangkat 6,64% dalam enam bulan terakhir, hingga melonjak 46,02% dalam setahun. Menariknya saham perbankan BUMN itu tetap tangguh kala Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG merana yang anjlok 3,46% ke level 6.370.
Melihat hal itu, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai kuatnya saham BBTN lebih dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap perbaikan fundamental perseroan. Terutama ditopang prospek pertumbuhan kredit perumahan serta potensi peningkatan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) ke depan.
Menurutnya, BTN memiliki posisi yang cukup unik karena fokus pada segmen KPR, baik subsidi maupun nonsubsidi, sehingga fokus pasarnya berbeda dibanding bank-bank besar lain yang lebih rentan terhadap perlambatan sektor korporasi dan kondisi likuiditas sistem.
Elandry juga memproyeksikan saham BBTN bisa naik ke level Rp 1.400–1.600 seiring kenaikan kinerja, kualitas aset terjaga, serta kondisi pasar mulai stabil. Faktor lain yang dapat mendukung adalah kembalinya arus dana asing dan membaiknya sentimen suku bunga global.
Namun demikian, ia mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati, seperti tekanan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan cost of fund, potensi pengetatan likuiditas, serta perlambatan daya beli masyarakat. Risiko tambahan juga berasal dari kemungkinan kenaikan NPL apabila pelemahan ekonomi berlangsung lebih lama.
“Namun selama pemerintah masih agresif mendorong sektor perumahan dan suku bunga domestik tetap terjaga, fundamental BTN masih cukup resilient untuk jangka menengah,” ucap Elandry kepada Katadata.co.id, Rabu (20/5).
Prospek Saham BBTN
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan saham BBTN masih menunjukkan kinerja yang resilien di tengah pelemahan saham empat perbankan raksasa yang kini berada dalam fase downtrend.
Nafan juga menyoroti valuasi BBTN saat ini tergolong murah. Berdasarkan data pada platform HOTS milik Mirae Asset Sekuritas Indonesia, BBTN diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 0,5 kali dan price to earnings ratio (P/E) sekitar 4,1 kali
Dengan valuasi tersebut, ia menilai BBTN dikategorikan sebagai saham undervalued dan masih menarik untuk dikoleksi oleh investor sebagai pilihan saham defensif.
“Apalagi kan IHSG tengah volatilitas, jadi ini bagi investor saham BBTN menarik untuk diakumulasi sebagai defensive stock di tengah volatilitas indeks,” kata Nafan dalam analisisnya, Selasa (19/5).
Meskipun pergerakan sahamnya saat ini cenderung sideways, Mirae Asset Sekuritas menargetkan harga saham BBTN bisa di level Rp 1.375.
Di samping itu, Nafan mencermati kinerja penyaluran kredit BBTN pada kuartal pertama 2026 yang masih tumbuh sekitar 10%. Menurutnya, penurunan cost of credit turut menjadi indikator kuat membaiknya kualitas aset perusahaan.
Ia juga menilai sentimen positif BBTN ditopang peran strategis dalam mendukung program pemerintah terkait penyediaan 3 juta rumah. Selain itu, aksi spin-off unit usaha syariah dinilai menjadi katalis tambahan bagi saham BBTN.
Lebih jauh, kenaikan saham BBTN juga salah satunya karena tidak memiliki eksposur terhadap kredit koperasi berbasis valas. Hal itu karena fokus utama BTN berada pada penyaluran kredit, terutama di sektor properti.
“Karena ada Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dan nonsubsidi yang tidak terhubung langsung dengan fluktuasi kursus mata uang asing,” ucap Nafan.
Hingga kuartal I 2026, BBTN mencatatkan perolehan laba bersih senilai Rp1,1 triliun atau tumbuh 22,6% year-on-year (YoY). Capaian tersebut didukung penyaluran kredit senilai Rp 400,63 triliun atau naik 10,3% YoY.
Penyaluran kredit yang positif juga ditopang penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BBTN senilai Rp 422,63 triliun. Jumlah tersebut meningkat 9,9% YoY dari Rp 384,70 triliun di kuartal I 2025. Current account and savings account (CASA) BBTN juga tercatat naik 7,9% YoY menjadi Rp 212,11 triliun, berkontribusi sebesar 50,2% dari total DPK.
Cost of Fund (CoF) BBTN membaik ke level 3,0% per kuartal I 2026. Turun dari 4,0% di periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja kredit dan DPK tersebut juga ikut menopang peningkatan aset BTN sebesar 10,5% YoY menjadi Rp 517,54 triliun per kuartal I 2026.
