Membedah Kinerja 6 Saham Prajogo Pangestu yang Menyusut 50% Ytd
Konglomerat Prajogo Pangestu tak lagi menduduki posisi sebagai orang paling aya nomor satu di Indonesia. Berdasarkan data Forbes Billionaires per Jumat (22/5), harta kekayaan pendiri Grup Barito itu kini tercatat sebesar US$ 14 miliar atau setara dengan Rp 247 triliun (asumsi kurs Rp 17.673 per dolar AS).
Apabila dibandingkan dengan kekayaan Prajogo pada Januari 2026, jumlahnya merosot 62,96% dari US$ 37,8 miliar. Penurunan tajam ini membuat posisinya sebagai orang terkaya bergeser ke ranking tiga.
Saat ini, tahta tertinggi orang terkaya di Indonesia dipegang oleh bos Grup Djarum, R Budi Hartono. Kekayaannya mencapai Rp 15,5 miliar atau setara dengan Rp 273,93 triliun. Sementara posisi kedua diisi oleh raja batu bara Low Tuck Kwong dengan harta mencapai US$ 15,2 miliar.
Turunnya harta Prajogo tak lepas dari merosotnya kinerja saham-sahamnya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Apalagi, baru-baru ini tiga sahamnya juga dikeluarkan dari indeks global MSCI. Keyiga saham itu adalah PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Apabila melihat kinerjanya, saham-saham pria yang baru menginjak usia 82 tahun itu memang merosot lebih dari 50% selama tahun berjalan (year to date). Sebut saja CUAN yang harga sahamnya melorot 79,23% dan BREN yang anjlok 73,23%.
Saham-saham itu semakin jauh meninggalkan level tertingginya (ATH) saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan peningkatan yang dramatis pada 2025. Sebagai contoh, saham PTRO sempat mencatatkan kenaikan ke Rp 12.900 per saham, namun kini bertengger di harga Rp 3.600-an.
Begitu pula dengan BREN yang pernah mencetak ATH di Rp 11.900, BRPT di Rp 4.280, dan CUAN di Rp 2.770.
Berikut kinerja saham-saham Prajogo secara ytd:
| Nama Perusahaan | Kode Emiten | Harga Saat Ini | Selisih ytd (%) | Kapitalisasi Pasar |
| PT Barito Pacific Tbk | BRPT | Rp 1575 | -51,83% | Rp 147,18 triliun |
| PT Barito Renewables Energy Tbk | BREN | Rp 2.560 | -73,61% | Rp 342,49 triliun |
| PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk | CUAN | Rp 486 | -79,23% | Rp 54,41 triliun |
| PT Chandra Asri Pacific Tbk | TPIA | Rp 1.995 | -41,50% | Rp 173,02 triliun |
| PT Chandra Daya Investasi Tbk | CDIA | Rp 715 | -57,19% | Rp 89,25 trliun |
| PT Petrosea Tbk | PTRO | Rp 3.670 | -66,22% | Rp 37,21 triliun |
(Sumber: data Bursa Efek Indonesia diolah penulis)
Sebelumnya, manajemen BRPT buka suara pelemahan saham anak usahanya TPIA di Bursa Efek Indonesia. Penurunan itu disebut-sebut tersulut kabar penjaminan saham atau margin call di sejumlah sekuritas.
Manajemen Barito Pacific menyatakan, seluruh fasilitas pembiayaan dan pengaturan jaminan saham yang dilakukan perseroan dikelola secara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur. Corporate Communication BRPT menyampaikan, pengaturan jaminan saham tersebut juga telah dilengkapi mitigasi untuk mengantisipasi volatilitas pasar.
“Perusahaan terus menjaga rasio margin dan posisi likuiditas secara disiplin sejalan dengan prinsip kehati-hatian serta praktik manajemen risiko yang baik,” tulis Corporate Communication BRPT dalam keterangan resmi dikutip Kamis (21/5).
Perseroan menilai pergerakan harga saham merupakan bagian dari dinamika pasar yang normal. Barito Pacific juga menegaskan operasional dan fundamental bisnis perseroan beserta entitas anak tetap solid, ditopang fundamental usaha yang kuat serta kinerja operasional yang dinilai tangguh.
