Keoknya Saham TPIA Prajogo hingga Anjlok 72%, 3,6 Miliar Efek Dijaminkan ke Bank

Karunia Putri
29 Mei 2026, 14:12
TPIA
Dok. Chandra Asri
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), penyedia solusi energi, kimia, dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara, mengalami tekanan berat selama beberapa bulan terakhir.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham-saham terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu yang selama ini dikenal perkasa di pasar modal, keok dalam beberapa bulan terakhir. Yang paling tertekan adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang telah merosot 72,57% secara year to date (ytd) alias sejak awal tahun.

Tekanan terhadap saham emiten petrokimia terbesar di Indonesia itu dipicu sejumlah sentimen negatif. Mulai dari dikeluarkannya TPIA dari MSCI Global Standard Indexes, hingga gangguan distribusi bahan baku akibat konflik di Timur Tengah yang sempat memicu status force majeure terkait pengiriman melalui Selat Hormuz.

Dalam beberapa pekan terakhir, saham TPIA juga dirumorkan terkait dengan potensi penjaminan saham atau margin call di sejumlah perusahaan sekuritas. Namun, kabar tersebut dibantah manajemen perseroan.

Teranyar, beredar kabar bahwa saham TPIA dijadikan jaminan pinjaman oleh induk usahanya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan oleh Prajogo selaku pengendalinya. Menanggapi hal itu, manajemen TPIA mengonfirmasi sebagian saham perseroan memang dijaminkan kepada sejumlah bank kreditur.

“Berdasarkan data yang diterima perseroan dari pemegang saham yang bersangkutan, sampai dengan tanggal surat ini, pemegang saham utama perseroan yaitu PT Barito Pacific Tbk telah menjaminkan saham perseroan kepada bank pemberi kredit,” ungkap General Manager Legal & Corporate Secretary TPIA, Erri Dewi Riani, melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip pada Jumat (29/5).

Dalam keterangannya, BRPT disebut telah menjaminkan sebanyak 2 miliar saham TPIA kepada PT Bank Negara Indonesia  Tbk (BBNI) sejak 21 September 2021. Selain itu, sebanyak 175 juta saham dijaminkan kepada PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sejak 24 Desember 2024.

Sementara Prajogo selaku pemilik manfaat akhir atau  ultimate beneficial owner (UBO) di TPIA, juga menjaminkan 1,5 miliar saham emiten tersebut kepada HSBC sejak 17 November 2023. Dengan begitu, total saham TPIA yang dijaminkan mencapai 3,67 miliar saham atau setara 4,25% dari total saham ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Kendati demikian, Erri menegaskan penjaminan saham tersebut tidak berdampak material terhadap struktur kepemilikan maupun pengendalian perusahaan. “Perseroan tidak melihat potensi yang dapat berdampak material terhadap struktur kepemilikan dan pengendalian perseroan,” ujarnya.

Perseroan juga menjelaskan penjaminan saham dilakukan untuk menjamin fasilitas kredit perbankan dan tidak berkaitan dengan fasilitas margin dalam bentuk apa pun. Selain itu, mekanisme penambahan jaminan atau top up hanya berlaku apabila nilai jaminan tidak memenuhi rasio yang diatur dalam perjanjian kredit.

Erri menambahkan, risiko percepatan pembayaran atau penjualan saham untuk eksekusi jaminan hanya dapat dilakukan apabila terjadi wanprestasi yang tidak dapat dipulihkan oleh BRPT maupun Prajogo sesuai ketentuan dalam perjanjian kredit. TPIA juga mengonfirmasi fasilitas pinjaman BRPT dari Bangkok Bank telah dilunasi.

Membaca Gerak dan Prospek Saham TPIA

Di tengah sentimen negatif yang menjadi pemberat pergerakan saham TPIA, harga sahamnya justru menguat pada perdagangan hari ini, meski tidak naik signifikan seperti saham Prajogo yang lain. Pada perdagangan sesi pertama, Jumat (29/5), harga saham TPIA terangkat 1,05% ke level Rp 1.920. Sahamnya diperdagangkan sebanyak 11,33 lot dengan valuasi mencapai Rp 2,24 triliun.

Hal itu membuatnya menjadi saham dengan valuasi paling tinggi pada perdagangan hari ini, mengalahkan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) senilai Rp 1,83 triliun, meski pergerakan harga saham BREN menyentuh auto rejection atas atau ARA pada hari ini.

Selain itu, JP Morgan sebelumnya memberikan peringkat underweight untuk saham TPIA. Lembaga investasi yang berbasis di Amerika Serikat itu menyebut TPIA sebagai perusahaan pengolah nafta dan meyakini selisih harga PE/PP emiten itu akan tetap berada pada level siklus penurunan. Hal itu didorong oleh kondisi makroekonomi global yang lemah dan latar belakang industri yang mengalami kelebihan kapasitas.

Disebutkan bahwa ada perbedaan signifikan dalam prospek laba dan valuasi TPIA. Walaupun begitu, kesenjangan valuasi itu dinilai tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

“Dan mengindikasikan potensi penurunan pada tren harga saham untuk membenarkan penilaian underweight kami,” demikian tertulis dalam analisis JP Morgan, dikutip pada Kamis (21/5). 

Masih menurut JP Morgan, target harga saham TPIA per Juni 2026 ditetapkan sebesar Rp 1.090, yang berdasarkan pada asumsi valuasi 2,5 kali price-to-book value (P/B) untuk estimasi 2026.  

Level ini dinilai sejalan dengan valuasi implisit saat Thai Oil mengakuisisi 15% saham TPIA pada akhir 2021, yang juga mencerminkan rasio P/B sekitar 2,5 kali. Meskipun profil return on equity (RoE) perseroan berada di kisaran satu digit rendah hingga menengah.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...