Nasib Saham GOTO dari Huni Large Cap Kini Didepak FTSE, Bagaimana Prospeknya?

Karunia Putri
2 Juni 2026, 11:16
Struktur Kepemilikan Saham di atas 1 Persen GOTO
Katadata
Struktur Kepemilikan Saham di atas 1 Persen GOTO
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengalami tekanan beruntun sepanjang tahun berjalan. Sentimen negatif teranyar datang dari FTSE Russell yang memutuskan mengeluarkan GOTO dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS) kategori Mid Cap.

Dalam pengumuman terbarunya, FTSE Russell menyampaikan GOTO dikeluarkan dari indeks karena sahamnya tercatat di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut FTSE, segmen tersebut tidak memenuhi kriteria kelayakan untuk masuk ke dalam FTSE GEIS. Keputusan itu juga sejalan dengan kebijakan Indonesia Index Treatment yang diterapkan dalam peninjauan indeks periode Juni 2026.

FTSE Global Equity Index merupakan indeks bergengsi yang digunakan sebagai acuan oleh investor dalam mengambil keputusan investasi. Indeks ini mencakup total 19 ribu perusahaan publik dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) besar, menengah, kecil dan mikro di 49 negara termasuk negara berkembang.

Seiring dengan itu, analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah Elandry Pratama menilai keluarnya GOTO dari indeks FTSE menambah tekanan terhadap sentimen pasar. Menurut dia, keputusan tersebut berpotensi memicu arus keluar dana pasif atau passive outflow dalam jangka pendek dari investor yang mengikuti indeks FTSE.

Kendati demikian, Elandry menilai prospek saham GOTO masih ditopong oleh perbaikan fundamental perusahaan yang meningkat dibandingkan beberapa tahun lalu. Menurutnya, fokus investor saat ini tidak lagi semata pada pertumbuhan pengguna, melainkan profitabilitas, efisiensi biaya, serta kemampuan menghasilkan arus kas.

"Jadi selama kinerja operasional tetap membaik, tekanan indeks umumnya bersifat sementara," ujar Elandry kepada Katadata, Selasa (2/6).

Elandry memperkirakan volatilitas saham GOTO masih akan tinggi dalam jangka pendek seiring penyesuaian portofolio oleh dana yang mengikuti indeks FTSE. Tekanan terbesar umumnya terjadi menjelang dan saat tanggal efektif rebalancing, sebelum pasar kembali fokus pada kinerja fundamental perusahaan.

"Karena itu saya melihat risiko downside masih ada dalam beberapa waktu ke depan, tetapi tekanan teknikal kemungkinan tidak berlangsung terlalu lama apabila tidak ada sentimen negatif baru," katanya.

Perjalanan GOTO di FTSE, dari Penghuni Large Cap Sampai Didepak

Apabila melihat historinya, GOTO pertama kali masuk ke FTSE GEIS pada Maret 2023. Saat itu FTSE Russell memasukkan GOTO ke kategori Large Cap dalam hasil review semi-tahunan yang diumumkan pada Februari 2023. Pencapaian itu bisa terbilang cepat karena hanya berselang sekitar 11 bulan setelah perusahaan pengelola ojek online Gojek ini melantai di BEI.

Selama kurang lebih 18 bulan GOTO menjadi penghuni FTSE Global Large Cap. Namun karena GOTO mengalami penurunan kapitalisasi pasar sehingga membuat posisinya terdegradasi ke kategori Mid Cap dalam hasil FTSE GEIS September 2024 Semi-Annual Review. GOTO akhirnya turun kelas.

GOTO pun menjadi anggota FTSE GEIS hingga 1 Juni 2026. Perjalanan GOTO di indeks FTSE pun berakhir hari ini, Selasa (2/6). Dalam revisi hasil rebalancing yang diumumkan pada 1 Juni 2026 waktu London, FTSE Russell memasukkan GOTO ke dalam daftar saham yang akan dikeluarkan dari FTSE GEIS bersama PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) dan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA).

MSCI Lebih Dahulu Nyalakan Alarm

Sebelum FTSE mengumumkan akan mengeluarkan GOTO, penyedia indeks global asal Amerika Serikat yati MSCI lebih dulu membekukan seluruh penyesuaian terkait saham GOTO dalam peninjauan indeks Mei 2026.

MSCI menilai harga saham GOTO yang bertahan di level gocap alias Rp 50 per saham menimbulkan persoalan likuiditas dan berpotensi mengganggu proses replikasi indeks. Karena itu, MSCI membekukan seluruh perubahan terkait number of shares (NOS), foreign inclusion factor (FIF), domestic inclusion factor (DIF), constraint factors hingga potensi penambahan maupun penghapusan saham GOTO dari indeks MSCI.

Elandry menilai keputusan MSCI berpotensi meningkatkan volatilitas saham GOTO karena sebelumnya pasar berharap adanya tambahan aliran dana pasif dari hasil rebalancing.

Meski demikian, ia menyatakan investor masih akan mencermati fundamental perusahaan, terutama terkait pencapaian profitabilitas, pertumbuhan EBITDA, monetisasi ekosistem, dan efisiensi biaya.

Pandangan berbeda disampaikan dari Sinarmas Sekuritas. Dalam risetnya, broker tersebut menilai harga saham GOTO yang bertahan di level Rp 50 menjadi sinyal peringatan bagi investor.

Risiko pertama adalah potensi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dalam evaluasi Agustus 2026 apabila harga saham tidak pulih. Jika itu terjadi, arus keluar dana dari investor global yang mereplikasi indeks MSCI berpotensi meningkat.

Risiko kedua adalah kemungkinan masuk ke Papan Pemantauan Khusus dengan mekanisme Full Call Auction (FCA). Dalam skema ini, perdagangan saham dilakukan tanpa tampilan antrean bid dan offer sehingga berpotensi meningkatkan volatilitas harga.

Sinarmas Sekuritas menilai kedua risiko tersebut dapat memicu aksi jual dari investor institusi global yang mengikuti indeks MSCI. Bahkan, dalam skenario terburuk, harga saham GOTO berpotensi turun lebih jauh ke Rp 1 per saham apabila tekanan jual terus berlanjut.

Sejarah IPO hingga Investor di Balik Saham Gocap GOTO

Kepemilikan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
Kepemilikan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) (KSEI/diolah)

 

GOTO resmi melantai di BEI melalui penawaran umum perdana saham (IPO) pada 11 April 2022 dengan harga Rp 338 per saham. Saat ini, saham GOTO tidur nyenyak di level Rp 50 per saham sejak 5 Mei 2026 hingga hari ini, Selasa (2/6).

Saat IPO, saham GOTO mencatat kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga sekitar 15 kali dari jumlah saham yang ditawarkan. Berdasarkan data Indo Premier Sekuritas, lebih dari 300.000 investor ikut dalam IPO terbesar di Indonesia saat itu.

Berdasarkan data BEI per Mei 2026, porsi saham publik atau free float GOTO mencapai 71,28%. Struktur pemegang sahamnya juga diisi sejumlah investor strategis global dan domestik. Di antaranya adalah Berikut versi yang dirapikan tanpa mengubah substansi dan data:

Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia, porsi saham publik (free float) GOTO mencapai 71,28%. Berdasarkan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% per Mei 2026, terdapat 21 investor yang menggenggam saham GOTO.

PT Saham Anak Bangsa tercatat memiliki 26,88 miliar saham atau setara 2,26% dari total saham beredar. Selain itu, SVF GT Subco (Singapore) PTE. LTD menggenggam 7,65%, Taobo China Holding Limited 7,43%, dan GOTO sebesar 2,82%.

Selanjutnya, UBS AG Hong Kong memiliki 2,68% saham GOTO, disusul Google Asia Pacific PTE. LTD sebesar 2,48% dan Tencent Mobility Limited sebesar 2,48%. Peak XV Partners GOTO Investment Holdings serta GOTO Peopleverse Fund masing-masing menggenggam 2,47%.

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) tercatat memiliki 1,99%, Capret (SG) PTE LTD sebesar 1,98%, dan PT Astra International Tbk (ASII) sebesar 1,56%. Kemudian Peka XV Partners Investment IV menggenggam 1,53%, WP Investment VI B.V. sebesar 1,46%, serta Citibank Hong Kong S/A Bhineka Holdings Limited sebesar 1,43%.

Adapun Platinum Orchid B RSC Limited memiliki 1,28% saham GOTO, PT Provident Capital Indonesia sebesar 1,25%, dan William Tanuwijaya sebanyak 1,25%.

Sementara itu, Morgan Stanley and Co International PLC tercatat menggenggam 1,22% saham GOTO dan CGS International Securities Singapore PTE LTD sebesar 1,09%.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...