Indeks Bursa Global Bergejolak Imbas Konflik Iran-Israel, Harga Minyak Ikut Naik
Bursa saham global anjlok "berjemaah" pada awal pekan ini seiring eskalasi konflik antara Israel dan Iran. Meningkatnya konflik kedua negara itu memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas geopolitik dan prospek ekonomi global, meski Amerika Serikat (AS) sebelumnya telah mengumumkan rencana gencatan senjata di Lebanon.
Tekanan terjadi setelah Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah Beirut pada Minggu (7/6). Sebagai balasan, Iran menembakkan rentetan rudal ke sejumlah target di Israel. Aksi saling serang tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa upaya perdamaian yang tengah dijajaki AS dan Iran akan terganggu.
Imbasnya, indkes saham bursa global merespons negatif. Berdasarkan data perdagangan Senin (8/6) siang, indeks Kospi Korea Selatan anjlok 5,39% ke level 7.720,73. Meskipun demikian, indeks tersebut masih mencatat kenaikan 85,82% dalam enam bulan terakhir.
Di Jepang, indeks Nikkei turun 3,74% ke level 64.099. Sementara itu, indeks Shanghai Composite di Cina melemah 1,26% ke posisi 3.976,83, dan indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,17% ke level 24.670.
Tekanan juga membayangi pasar Amerika Serikat. Pada perdagangan Jumat (5/6), indeks Nasdaq Composite merosot 4,18% ke level 25.709,43, menjadi penurunan harian terbesar sejak April 2025. S&P 500 turun 2,64% ke level 7.383,74, sedangkan Dow Jones Industrial Average kehilangan 695,15 poin atau 1,35% menjadi 50.866,78. Padahal sehari sebelumnya Dow Jones masih mencetak rekor tertinggi.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut tertekan. IHSG dibuka melemah ke level 5.486 dan sempat anjlok 4,39% ke level 5.349 pada pukul 09.10 WIB. Namun tekanan jual mulai mereda menjelang siang sehingga indeks bergerak di level 5.445 pada pukul 11.20 WIB.
Kendati pasar global bereaksi negatif terhadap eskalasi konflik, Presiden AS Donald Trump menegaskan serangan terbaru antara Israel dan Iran tidak akan menggagalkan proses negosiasi damai dengan Teheran.
"Itu tidak akan berdampak pada kesepakatan. Saya yang menentukan arah kebijakan. Saya yang mengambil semua keputusan. Dia tidak menentukan keputusan," kata Trump kepada Financial Times dikutip Senin (8/6). Pernyataan Trump merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Trump selama ini berupaya mendorong Israel menghentikan serangannya di Lebanon untuk membuka ruang tercapainya kesepakatan yang lebih luas dengan Iran. Namun Israel kembali melancarkan serangan ke Beirut pada Minggu, hanya sepekan setelah Washington mengumumkan rencana gencatan senjata di Lebanon.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang Pangkalan Udara Ramat David di dekat Nazareth sebagai respons atas serangan Israel. Sementara itu, militer Israel mengatakan sistem pertahanannya berhasil mencegat rudal-rudal yang diluncurkan Iran.
Eskalasi terbaru tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2% pada awal perdagangan Senin ini dan kembali menembus level US$95 per barel.
Menurut laporan Axios yang mengutip seorang pejabat AS, Trump telah berbicara melalui telepon dengan Netanyahu selama kurang dari 30 menit pada Minggu kemarin. Dalam percakapan itu, Trump disebut meminta Israel menahan diri dari serangan lanjutan karena peluang tercapainya kesepakatan damai dinilai semakin besar.
Walaupun demikian, situasi di kawasan Timur Tengah masih jauh dari stabil. Sejak perundingan AS-Iran dimulai, Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon terhadap kelompok Hizbullah. Pemerintah Israel menilai konflik dengan Hizbullah terpisah dari proses negosiasi dengan Iran.
Di sisi lain, Teheran menegaskan bahwa keberhasilan kesepakatan damai dengan Washington juga bergantung pada berjalannya gencatan senjata di Lebanon. Iran selama ini mendukung Hezbollah yang terlibat konflik dengan Israel di wilayah perbatasan.
Trump berulang kali menyatakan bahwa Washington dan Teheran berada di ambang kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Namun di tengah masih berlangsungnya serangan dan aksi balasan di kawasan, investor global tetap bersikap hati-hati dan memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
