IHSG Diprediksi Sulit Balik ke 9.000, Saham Ini Bisa Dilirik hingga Akhir 2026

Karunia Putri
1 Juli 2026, 15:15
IHSG
ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom.
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan belum mampu untuk kembali menginjak level psikologis 9.000 hingga akhir 2026. Kiwoom Sekuritas memproyeksikan nilai indeks pada pengujung tahun ini lebih berpeluang ditutup di kisaran 7.250–7.700 pada akhir tahun.

Dalam laporan Market Outlook semester kedua 2026, Kiwoom menyatakan proyeksi itu didasarkan pada asumsi IHSG jika mampu keluar (breakout) dari tren turun (downtrend channel) pada akhir Juli.

"Proyeksi ini didukung oleh pola musiman yang secara historis menunjukkan Juli sebagai bulan yang positif bagi IHSG, serta belum adanya komentar negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global terhadap Indonesia," tulis Kiwoom Sekuritas dalam risetnya, dikutip pada Rabu (1/7).

Namun, Kiwoom mengingatkan investor tetap perlu mewaspadai sejumlah faktor risiko. Salah satunya adalah agenda pidato Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan berlangsung sebanyak 14 kali sepanjang Juli. Berdasarkan catatan historis beberapa waktu belakangan, pasar saham kerap turun ketika kepala negara memulai pidatonya

Selain itu, ketidakpastian geopolitik global juga masih menjadi risiko yang perlu dicermati. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang disepakati pada 17 Juni lalu dinilai masih rapuh setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan pada 28–29 Juni sebelum akhirnya menyepakati penghentian konflik. Di sisi lain, perundingan damai Rusia dan Ukraina juga belum menunjukkan kemajuan.

Kiwoom mencatat harga minyak dunia memang telah turun ke sekitar US$ 70 per barel dari puncaknya sekitar US$ 126 per barel pada April. Namun, eskalasi konflik sewaktu-waktu dapat kembali mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar.

Valuasi Saham Murah RI Belum Cukup buat Menarik Modal Asing

Menurut Kiwoom, persoalan utama pasar saham Indonesia saat ini bukan sekadar apakah IHSG akan naik atau turun pada paruh kedua tahun ini. Yang lebih penting adalah apakah Indonesia mampu mengubah valuasi saham yang murah menjadi naik dengan persepsi investor (re rating) sehingga kembali menarik arus modal asing.

IHSG saat ini diperdagangkan dengan rasio price to earnings (P/E) sekitar 13,1 kali, menjadikannya indeks utama dengan valuasi termurah kedua di Asia setelah Hang Seng. Namun, valuasi murah tersebut belum berhasil menarik kembali investor asing.

Sementara itu, kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) turun dari lebih dari 40% dibandingkan sejak 2019 menjadi hanya sekitar 13%–14% saat ini. Penurunan itu terjadi meski nilai penerbitan obligasi pemerintah hampir dua kali lipat lebih besar dibanding beberapa tahun lalu.

Di pasar saham, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets juga terus menyusut, dari 2,6% pada 2016 menjadi hanya sekitar 0,4% saat ini. Penurunan tersebut membuat dana pasif otomatis mengurangi eksposurnya terhadap Indonesia, sementara investor aktif ikut mengikuti tren tersebut.

Menurut Kiwoom, penurunan bobot indeks menciptakan lingkaran yang saling memperkuat, yakni likuiditas pasar berkurang, cakupan riset semakin sempit dan perhatian investor global terus menurun.

Sebaliknya, Vietnam dinilai mulai memperoleh momentum reformasi. Meski hingga kini masih berstatus pasar perintis (frontier market) dalam indeks MSCI, FTSE Russell akan meningkatkan status Vietnam menjadi secondary emerging market mulai September 2026. Jika nanti berhasil masuk indeks MSCI Emerging Markets, Bank Dunia memperkirakan Vietnam berpotensi memperoleh arus modal asing kumulatif hingga US$ 25 miliar pada 2030.

Kiwoom menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa investor global mulai memberikan penghargaan terhadap reformasi struktural dan pengembangan sektor teknologi, termasuk adopsi kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, daya saing Indonesia dalam menarik perhatian investor global dinilai masih terus tertinggal.

Sembilan Saham Pilihan di Paruh Kedua 2026

Di tengah prospek pasar tersebut, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan sembilan saham yang dinilai memiliki potensi menarik hingga akhir 2026.

Untuk sektor pertambangan, Kiwoom memilih PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan target harga Rp 6.300 atau berpotensi naik sekitar 43% bersasarkan harga saham INCO di 29 Juni 2026. Prospek INCO didukung kenaikan harga nikel serta penyelesaian proyek smelter HPAL di Morowali dan Pomalaa yang ditargetkan rampung tahun ini.

Kiwoom juga merekomendasikan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga Rp 4.800. Perseroan dinilai masih ditopang kinerja kuat bisnis emas, nikel, dan bauksit sementara dividen yang relatif tinggi menjadi daya tarik tambahan bagi investor.

Di sektor properti, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) diproyeksikan mencapai Rp 9.925 per saham. Keyakinan itu didukung peningkatan utilisasi Nusantara International Convention Exhibition (NICE), kepemilikan land bank premium, pemasaran yang tetap kuat, serta pembangunan Hotel Hilton yang ditargetkan selesai pada 2027.

Untuk sektor perbankan, Kiwoom merekomendasikan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 3.600 per saham. Menurut Kiwoom, BBRI ditopang program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 500 miliar, posisi yang kuat di segmen UMKM, dana murah (CASA) yang besar, serta proyeksi pertumbuhan kredit yang membaik pada paruh kedua tahun ini.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dipatok dengan target harga Rp 4.100 per saham. Kiwoom memperkirakan pertumbuhan kredit tetap solid, margin bunga bersihatau net interest margin (NIM) berada di kisaran 3,5%–3,8%, serta biaya dana yang stabil.

Di sektor infrastruktur digital, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) direkomendasikan dengan target harga Rp 705 per saham. Prospeknya didukung ekspansi bisnis ke penyedia layanan internet (ISP), Internet of Things (IoT) dan infrastruktur digital serta program buyback senilai Rp 2,98 triliun yang dinilai mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan.

Kiwoom juga memilih PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan target harga Rp 3.850 per saham. Menurut perusahaan sekuritas tersebut, valuasi JSMR masih berada di bawah rata-rata historis berdasarkan rasio PBV dan EV/EBITDA, sementara bisnis jalan tol menawarkan arus kas yang stabil dan defensif.

Untuk sektor konsumsi, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diperkirakan mampu mencapai Rp 3.140 per saham. Perseroan diproyeksikan memperoleh manfaat dari pertumbuhan volume penjualan, peningkatan margin, stabilisasi harga unggas, serta dampak kenaikan harga tepung kedelai yang relatif terbatas.

Terakhir, Kiwoom merekomendasikan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target harga Rp 970 per saham. Kiwoom menilai pertumbuhan perseroan tetap solid berkat bisnis distribusi, produk kesehatan konsumen, nutrisi, peluncuran produk baru serta peningkatan ekspor.

*Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...