IHSG Diproyeksi Melemah Lagi, Analis Rekomendasi Saham BBCA, ANTM, INDF, RATU
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham akhir pekan ini, Jumat (3/7) setelah menguat 0,87% ke level 5.744.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai IHSG masih didominasi volume pembelian di pasar. Meski demikian, dalam skenario terbaik (best case), posisi IHSG masih berada pada fase wave (b) dari wave [iv] dalam skenario hitam.
Kondisi tersebut membuat IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji area 5.472–5.540. Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan level support IHSG berada di kisaran 5.486–5.317, sedangkan area resistance diproyeksikan berada pada rentang 6.007–6.286.
“Namun, cermati skenario merah dimana IHSG saat ini sedang membentuk bagian awal dari wave [v] dari wave 3,” tulis Herditya dalam risetnya, Jumat (3/7).
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Bumi Resources Tbk (BRMS) akumulasi beli di rentang Rp 398–Rp 456 dengan target harga di Rp 600–Rp 725, sementara level stoploss di bawah Rp 384
Kemudian PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 5.075–Rp 5.225 dengan target harga di Rp 5.850–Rp 6.175, serta stoploss di bawah Rp 4.930.
Sentimen Pasar
Phintraco Sekuritas menilai kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (2/7) di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.988 per dolar Amerika Serikat.
Secara teknikal, laju IHSG masih tertahan di area moving average (MA) 5 sekitar level 5.760. Di sisi lain, indikator MACD masih memperlihatkan penguatan histogram positif, namun Stochastic RSI mulai mengindikasikan potensi death cross di area oversold. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif di kisaran 5.700-5.800 pada perdagangan Jumat (3/7).
Dari sisi sentimen domestik, pemerintah tengah menyiapkan berbagai insentif untuk menarik minat investor berinvestasi di Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Sejumlah hal kemudahan yang disiapkan pemerintah yakni aspek keimigrasian, ketenagakerjaan, izin tinggal, perizinan usaha, hingga fasilitas perpajakan.
Kehadiran PFII diharapkan mampu menghimpun dana kelolaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembiayaan berbagai proyek strategis nasional, termasuk proyek yang berada di bawah pengelolaan Danantara.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perluasan mandat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mulai berlaku pada 1 Januari 2027. Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), OJK akan mengambil alih pengawasan terhadap bursa mineral dan komoditas strategis.
Regulasi tersebut juga memperluas cakupan tugas OJK melalui penambahan sejumlah kewenangan baru, termasuk pengawasan terhadap pengelolaan dana publik dan berbagai aktivitas di sektor jasa keuangan.
“Termasuk Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), serta pengaturan mengenai penyisihan kekayaan aset kripto,” tulis Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
