BEI Nilai Valuasi Saham Masih Murah, Masihkah Pasar Indonesia Menarik Dilirik?
Bursa Efek Indonesia menilai fundamental pasar saham Indonesia masih berada pada level relatif menarik. Hal itu lantaran Market Price to Earnings Ratio (PER) IHSG yang berada di 12,56 kali dan Market Price to Book Value (PBV) sebesar 1,57 kali.
Apalagi Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sudah terkoreksi 31,19% secara year to date (ytd) hingga sempat menyentuh level terbawahnya di 5.432. Pada minggu lalu, IHSG mencatatkan dana asing atau net foreign buy di pasar negosiasi dan tunai mencapai Rp 92,55 miliar.
Dalam seminggu terakhir IHSG juga terangkat 3,13%. Secara rinci, nilai jual bersih atau net foreign sell investor asing mencapai Rp 1,29 triliun di seluruh pasar dan Rp 1,38 triliun di pasar reguler.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan kondisi pasar saham Indonesia perlu dilihat secara komprehensif dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional, kinerja emiten, dan aksi reformasi yang terus dijalankan regulator bersama Self-Regulatory Organizations (SRO). Menurutnya, berbagai reformasi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang lebih kredibel.
“Kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang,” ujar Jeffrey dalam keterangannya, dikutip Senin (13/7).
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal telah mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID). Investor saham dan surat berharga lainnya mencapai 9,9 juta SID atau naik 15,1% dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebanyak 8,6 juta SID.
BEI menjelaskan investor domestik kini menguasai 61% kepemilikan saham dengan investor institusi sebesar 43,3% dan investor ritel 17,7%. Sementara kepemilikan investor asing berada di level 39,1%.
Dari sisi aktivitas perdagangan, investor domestik menyumbang 65,5% dari total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan kontribusi investor ritel sebesar 52,5% dan investor institusi domestik 13%. Jeffey mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pasar modal Indonesia semakin ditopang oleh basis investor domestik yang kuat sehingga lebih resilien menghadapi dinamika pasar global.
Jeffrey juga mencatat hingga 31 Maret 2026, sebanyak 810 perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keuangan, dengan 595 emiten atau sekitar 73,46% di antaranya membukukan laba bersih.
“Sementara itu, 221 perusahaan tercatat membagikan dividen tunai sepanjang tahun 2026,” tulis Jeffrey.
Faktor Eksternal Jadi Sentimen Pasar Semester II 2026
Di tengah optimisme BEI, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ketahanan sektor eksternal Indonesia akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan sentimen pasar pada semester kedua 2026. Dalam ketidakpastian ekonomi global, investor diperkirakan akan semakin selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan kemampuan emiten mempertahankan kinerja di tengah dinamika ekonomi dan suku bunga yang masih relatif tinggi akan menjadi pertimbangan utama investor.
Menurutnya, fokus pasar akan mengarah pada kualitas fundamental emiten. Dalam kondisi makro yang masih penuh tantangan, lanjut Rully, emiten dengan likuiditas kuat, kualitas aset yang terjaga, profitabilitas yang stabil, dan arus kas sehat dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menarik minat investor.
“Dan juga kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pasar," ujar Rully dalam analisisnya, dikutip Senin (13/7).
Sejalan dengan itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai perhatian pasar kini mulai bergeser pada kemampuan Indonesia menjaga ketahanan sektor eksternal setelah neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar.
Angka itu mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sekaligus menjadi defisit bulanan terbesar sejak April 2019. Menurut Novani, defisit neraca perdagangan Mei 2026 menunjukkan kenaikan tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia di tengah perlambatan perdagangan global, normalisasi harga komoditas, dan tingginya impormigas.
Kondisi tersebut juga terjadi ketika transaksi berjalan masih mencatat defisit dan cadangan devisa terus menurun.
"Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit. Dampaknya, ketergantungan terhadap arus modal portofolio untuk menjaga stabilitas eksternal menjadi semakinbesar," ujar Novani.
Menurutnya, perhatian pasar ke depan tidak lagi hanya tertuju pada kembalinya surplus perdagangan, tetapi juga pada kondisi ketahanan sektor eksternal Indonesia secara agregat.
Novani mengatakan pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, tingginya impor energi, serta efektivitas implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) akan menjadi faktor utama yang menentukan ketahanan sektor eksternal, stabilitas rupiah, dan sentimen pasar.
Menurutnya, selama surplus perdagangan masih terbatas, transaksi berjalan tetap defisit, dan tekanan terhadap rupiah belum mereda, pasar keuangan domestik masih berpotensi menghadapi volatilitas.
“Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan bauran kebijakan yang berorientasi pada stabilitas," ucap Novani.
