Wall Street Anjlok Usai Donald Trump Ancam Blokade Selat Hormuz
Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (13/7) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan kembali memblokade pelayaran Iran di Selat Hormuz. Alhasil, harga minyak naik hingga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik.
Indeks S&P 500 turun 0,79% ke level 7.515,34 dan Nasdaq melemah 1,55% menjadi 25.873,18. Adapun Indeks Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 138,37 poin atau 0,26% ke level 52.498,64.
“Kami memberlakukan kembali ‘BLOKADE IRAN’, yang dinamakan demikian karena hanya menghentikan kapal-kapal Iran atau pelanggannya untuk masuk atau keluar,” kata Trump dalam sebuah postingan di Truth Social, dikutip CNBC International, Selasa (14/7).
Trump mengatakan Amerika Serikat akan dikenal sebagai "Penjaga Selat Hormuz" mulai saat ini dan akan mengenakan biaya penggantian sebesar 20% dari seluruh muatan yang melintasi jalur tersebut untuk menutup biaya operasi keamanan.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 9,4% hingga menembus US$ 78 per barel. Minyak mentah Brent juga naik 9,6% ke atas US$ 83 per barel.
Eskalasi itu setelah Iran dan AS saling melancarkan serangan udara pada akhir pekan lalu. Teheran mengklaim telah menutup Selat Hormuz usai menyerang sejumlah fasilitas AS di negara-negara Teluk. Namun, Trump membantah klaim tersebut dan menegaskan jalur pelayaran strategis itu tetap terbuka bagi lalu lintas komersial.
Sebelumnya pada Sabtu (11/7), Trump memerintahkan serangan udara ke Iran setelah Teheran menyerang kapal dagang yang melintasi selat tersebut.
Di sisi lain, saham-saham sektor semikonduktor kian tertekan. Saham SK Hynix yang tercatat di Nasdaq anjlok 9% sehari setelah debut perdagangannya, menyusul reli 13% pada hari pertama pencatatan.
Tekanan juga datang dari saham-saham teknologi, terutama sektor semikonduktor. Saham Micron Technology turun 4%, Sandisk anjlok 12%, dan Seagate Technology melemah 5%. Sementara itu, Advanced Micro Devices (AMD) turun 4% dan Intel terkoreksi 6%.
Meski demikian, CEO WEBs Investments Ben Fulton menilai pelemahan tersebut berlebihan. Menurut Fulton, prospek perdagangan bertema kecerdasan buatan (AI) masih tetap kuat.
"Tetapi pada dasarnya pasar akan bergerak dalam kisaran tertentu sampai ada solusi nyata di Timur Tengah," ujar Ben Fulton, dikutip Selasa (14/7).
Kemudian saham bank-bank besar AS seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, dan Citigroup juga ditutup melemah menjelang rilis laporan keuangan kuartalan pekan ini. Selain itu, investor turut menantikan kinerja Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth.
Ekspektasi terhadap musim laporan keuangan kali ini cukup tinggi. Berdasarkan data FactSet, analis memperkirakan laba emiten dalam indeks S&P 500 pada kuartal II tumbuh lebih dari 23% secara tahunan.
Pelaku pasar juga menanti sejumlah data ekonomi penting. Pada Selasa (14/7), pemerintah AS dijadwalkan merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Juni. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan CPI turun 0,2% secara bulanan, tetapi masih meningkat 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di hari yang sama, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga dijadwalkan memberikan kesaksian di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS mengenai laporan kebijakan moneter semesteran bank sentral.
