DCII, BYAN, MORA, FILM dan 30 Emiten Masuk Daftar Saham Terkonsentrasi Tinggi

Nur Hana Putri Nabila
15 Juli 2026, 08:03
Saham
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/kye
Sebuah layar komputer menampilkan grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan sejumlah saham berkapitalisasi besar masuk dalam daftar kepemilikan saham konsentrasi tertinggi atau high shareholding concentration (HSC). Di antaranya terdapat PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), hingga PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA).

Pengumuman itu menyusul langkah BEI merevisi metodologi saham HSC dengan menambahkan kriteria baru, yakni price impact ratio untuk saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.

Sejumlah saham genggaman konglomerat pun kini masuk dalam daftar tersebut. Salah satunya emiten data center DCII milik Otto Toto Sugiri bersama Marina Budiman, Han Arming Hanafia, dan Anthoni Salim.

Anthoni Salim juga menggenggam saham PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) yang sahamnya juga ikut masuk daftar HSC. Selain itu, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang mayoritas dimiliki dan dikendalikan oleh konglomerat Dato' Low Tuck Kwong juga masuk daftar HSC. 

Lalu bursa juga memasukan Grup Sinarmas Franky Oesman Widjaja, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), dan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS).

34 Emiten Baru yang Masuk Daftar HSC per 15 Juli 2026:

  1. PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
  2. PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
  3. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)
  4. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)
  5. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)
  6. PT Bank Permata Tbk (BNLI)
  7. PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)
  8. PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
  9. PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)
  10. PT FAP Agri Tbk (FAPA)
  11. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
  12. PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)
  13. PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)
  14. PT Siantar Top Tbk (STTP)
  15. PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)
  16. PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
  17. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)
  18. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
  19. PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)
  20. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
  21. PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)
  22. PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
  23. PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)
  24. PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)
  25. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)
  26. PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
  27. PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)
  28. PT MD Entertainment Tbk (FILM)
  29. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)
  30. PT Golden Flower Tbk (POLU)
  31. PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)
  32. PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)
  33. PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)
  34. PT Bank Mega Tbk (MEGA)

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, bursa akan melakukan penyaringan (screening) terhadap saham-saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi saham HSC.

Dia menjelaskan, price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yaitu rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula velocity-nya.

“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).  

Selain itu Jeffrey mengatakan evaluasi berdasarkan price impact ratio akan diterapkan secara berkala setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Peninjauan tersebut akan mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.

Di sisi lain, trigger factor yang digunakan dalam pengawasan tetap akan berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental, tidak mengikuti jadwal evaluasi berkala. Dengan kriteria baru itu, kata Jeffrey, BEI akan segera mengumumkan 37 saham baru yang masuk dalam kategori HSC. Penambahan itu membuat jumlah saham yang masuk dalam daftar HSC naik menjadi 51 saham. 

“Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham, sekali lagi ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kami lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien,” ucap Jeffrey. 

Sebelumnya BEI sudah lebih dulu membeberkan 14 perusahaan yang masuk radar dengan saham terkonsentrasi tinggi. 

Daftar 14 Saham HSC per 6 Juli 2026: 

  1. PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM), terkonsentrasi 96,09%  
  2. PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), terkonsentrasi 97,35%  
  3. PT Kota Satu Properti Tbk (SATU), terkonsentrasi 94.27%  
  4. PT Mahkota Group Tbk (MGRO), terkonsentrasi 93,76%  
  5. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), terkonsentrasi 94.10%  
  6. PT Rockfields Properti Indonesia (ROCK), terkonsentrasi 99,85%   
  7. PT Ifishdeco Tbk (IFSH), terkonsentrasi 99,77% 
  8. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), terkonsentrasi 98,35% 
  9. PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), terkonsentrasi 97,75% 
  10. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terkonsentrasi 97,31% 
  11. PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), terkonsentrasi 95,94%  
  12. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), terkonsentrasi 95,76%  
  13. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), terkonsentrasi 95,35%  
  14. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), terkonsentrasi 95,82%.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...