Laba Grup Chandra Asri TPIA-CDIA Merosot Tajam di Semester I

Karunia Putri
29 Juli 2026, 22:21
Chandra Asri
Chandra Asri Pacific
Ilustrasi kegiatan bisnis PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Laba yang diraih dua emiten Grup Chandra Asri milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan anak usahanya PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), anjlok pada semester pertama 2026. 

Merujuk laporan semester kedua TPIA, perseroan membukukan laba US$ 283,23 juta atau setara Rp 5,06 triliun (terhadap kurs Rp 17.899 per dolar AS) pada paruh pertama tahun ini. Jumlah tersebut merosot 77,53% dibandingkan dengan laba perseroan pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1,26 miliar. Laba perseroan rontok meski pendapatan meningkat 83,6% secara tahunan atau year on year (YoY).

Perseroan membukukan pendapatan US$ 5,34 miliar dari US$ 2,91 juta secara tahunan. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan energi di pasar domestik sebesar US$ 5,40 juta dan penjualan kimia di pasar domestik US$ 697,71 juta. Kemudian, penjualan energi dan kimia di luar negeri sebesar US$ 3,32 miliar dan US$ 1,25 miliar. 

Lalu pendapatan infrastruktur lokas sebesar US$ 56,72 juta dan luar negeri US$ 7,90 juta.

Seiring dengan naiknya pendapatan, biaya produksi perseroan ikut naik. Beban bahan baku serta produksi dan manufaktur naik menjadi US$ 4,46 miliar dari US$ 2,89 miliar. Beban penyusutan juga meningkat menjadi US$ 164,1 juta dari US$ 87 juta, sementara beban penjualan naik menjadi US$ 41,6 juta dari US$ 31,1 juta. Beban umum dan administrasi juga bertambah menjadi US$ 91,3 juta dari US$ 72,6 juta.

Perseroan juga mencatat kenaikan beban keuangan menjadi US$ 187,9 juta. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan US$ 113,5 juta pada semester I 2025.

Dengan begitu, TPIA membukukan penurunan laba bersih menjadi US$ 371,2 juta dari US$ 1,63 miliar YoY. Perseroan membukukan EBITDA sebesar US$ 802,6 juta.

Manajemen TPIA menyatakan, perseroan terus memperkuat struktur permodalan melalui peningkatan porsi saham free float menjadi 25,7% serta menyelesaikan penerbitan tahap akhir Obligasi Berkelanjutan V senilai Rp 6 triliun yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed). Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas keuangan, memperkuat tata kelola, dan memperluas basis investor.

Sementara itu perseroan melanjutkan integrasi bisnis energi pascaakuisisi Aster, termasuk transisi jaringan SPBU Esso dan pengembangan fasilitas di Pulau Bukom. TPIA memperkirakan fasilitas tersebut mulai berkontribusi terhadap EBITDA sekitar US$ 20 juta per bulan mulai kuartal IV 2026.

Pada bisnis kimia, pembangunan pabrik chlor alkali-ethylene dichloride (CA-EDC) telah mencapai progres 72% dan ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2027. Perseroan juga telah mengambil keputusan investasi akhir (final investment decision (FID) untuk proyek ekspansi ekspor C2 senilai US$ 80 juta guna memperkuat kapasitas ekspor dan integrasi rantai pasok regional.

Sementara itu, pada segmen infrastruktur, CDI terus memperluas bisnis pelabuhan, logistik, dan penyimpanan melalui kerja sama dengan SCG Barito Logistics dan Krakatau Bandar Samudera. Perseroan juga membentuk perusahaan patungan Aster Power–Sembcorp–CDI, sementara Aster Ports & Terminals resmi beroperasi sejak 1 Juli 2026 sebagai platform pelabuhan terintegrasi.

Anak usaha TPIA, CDIA, membukukan laba bersih US$ 17,28 juta, turun dari US$ 67,84 juta. Padahal, sama dengan TPIA, pendapatan perseroan naik. Pelemahan laba terjadi akibat lonjakan beban keuangan yang menggerus kinerja operasional perusahaan.

Pendapatan CDIA naik 22,8% menjadi US$ 82,15 juta, dari US$ 66,87 juta pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut turut mendorong laba kotor meningkat tipis menjadi US$ 19,64 juta dibandingkan US$ 19,10 juta pada semester pertama 2025. 

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut tidak mampu mengimbangi lonjakan biaya pendanaan. Beban keuangan perseroan melonjak 66,5% menjadi US$ 22,59 juta, dari US$ 13,62 juta pada semester pertama tahun lalu. Akibatnya, laba sebelum pajak anjlok 63,5% menjadi US$ 27,63 juta, dibandingkan US$ 75,82 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar US$ 8,31 juta, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi US$ 17,29 juta, dari US$ 67,84 juta pada semester pertama 2025. Secara keseluruhan, laba tahun berjalan CDIA juga merosot menjadi US$ 19,31 juta, dibandingkan US$ 74,36 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Klarifikasi dari TPIA

Manajemen Chandra Asri Group atau TPIA  menyampaikan klarifikasi terkait perbandingan kinerja laba bersih pada semester I 2026 dan periode yang sama tahun lalu. Perseroan menilai perbandingan tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan adanya komponen keuntungan pembelian dengan harga murah atau bargain purchase gain (negative goodwill) yang tercatat pada semester I 2025. 

Menurut perseroan, keuntungan tersebut muncul seiring dengan penyelesaian akuisisi Aster Chemicals and Energy. Komponen tersebut merupakan pencatatan akuntansi yang bersifat tidak berulang atau non-recurring, sehingga tidak berasal dari aktivitas operasional yang secara rutin dihasilkan perseroan. 

“Keuntungan tersebut merupakan pencatatan akuntansi yang bersifat non-recurring atau satu kali dan tidak berasal dari aktivitas operasional yang berulang,” ungkap manajemen Chandra Asri Group dalam surat klarifikasinya kepada Katadata, yang ditandatangani Head of Corporate Communications Chrysanthi Tarigan, Jumat (31/7). 

Dengan adanya pencatatan negative goodwill tersebut, Chandra Asri Group menilai kinerja laba bersih pada semester I 2025 menjadi basis perbandingan yang relatif tinggi atau high base effect. Oleh karena itu, perseroan menyebut perbandingan laba bersih semester I 2026 dengan periode yang sama tahun sebelumnya perlu ditempatkan dalam konteks tersebut agar memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kinerja perseroan.  

Perseroan menyatakan, apabila dampak negative goodwill dikecualikan, kinerja operasional Chandra Asri Group pada semester I 2026 tetap menunjukkan performa yang kuat. Perseroan mencatat EBITDA sebesar US$ 802,6 juta dan laba bersih sebesar US$ 371,2 juta pada periode tersebut. 

Menurut perseroan, kinerja itu mencerminkan kontribusi berkelanjutan dari platform bisnis yang terintegrasi, yakni energi, kimia, dan infrastruktur. Perseroan juga menyebut kinerja semester I 2026 didukung kondisi margin yang lebih kondusif, meski pasar masih menghadapi volatilitas yang dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah.  

Chandra Asri Group menilai indikator seperti underlying earnings, EBITDA, serta kinerja operasional dapat memberikan gambaran yang lebih representatif mengenai fundamental bisnis perseroan. “Tanpa memperhitungkan komponen yang bersifat non-recurring tersebut, perseroan tetap menunjukkan kinerja operasional dan keuangan yang solid, sekaligus mencerminkan ketahanan serta kekuatan fundamental bisnisnya,” tulis Chandra Asri Group. 

Perseroan berharap penjelasan tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada investor mengenai kondisi keuangannya. TPIA juga menilai penyajian kinerja dengan konteks yang memadai penting agar investor dan masyarakat dapat menilai kondisi serta prospek bisnis perseroan secara lebih akurat, berimbang, dan proporsional. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...