Gelombang Delisting EDGE, IBST, SUPR, Apa Dampaknya bagi Emiten Menara Lain?
Gelombang delisting tengah melanda Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam beberapa bulan terakhir, empat emiten memutuskan hengkang dari pasar modal melalui skema go private.
Yang menarik, tiga di antaranya berasal dari sektor menara telekomunikasi, yakni PT Indointernet Tbk (EDGE), PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Sementara satu perusahaan lainnya adalah emiten farmasi PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI).
Munculnya tiga emiten menara yang kompak memilih keluar dari bursa dalam waktu berdekatan memunculkan pertanyaan apakah fenomena ini menjadi sinyal valuasi saham sektor tersebut di pasar belum lagi mencerminkan nilai bisnisnya?
Potensi Besar untuk TOWR dan TBIG
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyampaikan pandangannya soal keputusan tiga emiten menara angkat kaki dari pasar saham. Menurut dia, hal itu memang mengindikasikan valuasi sektor menara dinilai belum sepenuhnya mencerminkan nilai ekonominya oleh sebagian pemegang saham pengendali.
Merujuk data Stockbit, PBV ketiga emiten tersebut masing-masing IBST sebesar 4,17x, EDGE sebesar 5,35x dan SUPR 5,87x.
Nafan menilai dengan berkurangnya emiten sektor menara di bursa, maka emiten menara lain yang tetap tinggal dan terkenal sebagai pemain besar di sektor ini berpotensi untuk menadah keuntungan. Sebut saja emiten dari Grup Djarum PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Tower Bersama infrastructure Tbk (TBIG) yang terafiliasi dengan Grup Saratoga.
“Di sisi lain, kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi TOWR dan TBIG karena keduanya berpotensi menikmati aliran dana yang lebih berfokus dan peluang konsolidasi industri,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Selasa (4/8).
Aaplagi mengingat dua emiten yang akan delisting, IBST dan SUPR merupakan anak usaha TOWR. Perseroan telah mendorong kedua anak usahanya menjadi perusahaan tertutup sebagai bagian dari restrukturisasi grup.
Langkah tersebut dilakukan untuk menyederhanakan struktur usaha, mengatasi persoalan kepatuhan terhadap ketentuan saham beredar di publik (free float), sekaligus memperkuat fokus bisnis pada pengembangan infrastruktur digital, khususnya jaringan fiber optik.
Namun, Nafan mengingatkan potensi apresiasi saham TOWR dan TBIG tetap bergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan menjaga pertumbuhan laba, arus kas serta kualitas neraca keuangan.
Di sisi lain, kedua perusahaan juga tengah agresif memperluas bisnis. TOWR, misalnya, baru saja memperkuat ekosistem infrastrukturnya dengan mengakuisisi 51% saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) melalui anak usahanya Protelindo atau iForte pada Juli 2026. Akuisisi tersebut menjadikan BACH sebagai penyedia layanan kelistrikan dan site services yang melengkapi bisnis infrastruktur digital Grup Djarum.
Ekspansi tersebut menunjukkan transformasi TOWR dari sekadar operator menara telekomunikasi menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi berbasis jaringan fiber optik. TOWR pun diproyeksikan menempati posisi yang lebih strategis untuk menangkap pertumbuhan kebutuhan fiberisasi dan ekspansi jaringan operator telekomunikasi, terutama di luar Pulau Jawa.
Saat ini, TOWR menjalankan bisnis investasi dan pengoperasian menara telekomunikasi serta jaringan fiber optik yang disewakan kepada operator telekomunikasi. Melalui anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan iForte, hingga Juni 2025 perseroan mengoperasikan sekitar 35.825 menara telekomunikasi dan lebih dari 170 ribu km jaringan fiber optik yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi.
Proses Delisting dan Tender Offer 4 Emiten
Keempat emiten saat ini tengah menjalankan tahapan voluntary tender offer (VTO) sebagai bagian dari rencana penghapusan pencatatan saham bursa.
EDGE menawarkan pembelian saham publik dengan harga Rp 11.500 per saham. Periode tender offer berlangsung pada 25 Juli hingga 23 Agustus 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi terbaru, hingga 15 Juli 2026 perseroan telah menerima 565 penawaran dari pemegang saham yang mewakili 5,5 juta saham.
Sementara itu, IBST menetapkan harga tender sukarela sebesar Rp 5.400 per saham. Masa penawaran berlangsung pada 5 Agustus hingga 3 September 2026 dengan pembayaran dijadwalkan paling lambat 15 September 2026.
Menjelang dimulainya periode perpanjangan tender offer, sebanyak 66 pemegang saham publik telah menyatakan ikut serta dengan total 125.860 saham atau sekitar 19,34% dari seluruh saham publik perseroan.
Adapun SUPR menawarkan harga Rp 45.000 per saham pada periode 24 Juli hingga 24 Agustus 2026, dengan pembayaran dijadwalkan pada 4 September 2026.
Pengendali SUPR yaitu PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) saat ini telah menguasai 99,91% saham perseroan. Apabila seluruh saham publik terserap dalam tender offer, kepemilikan Protelindo akan meningkat menjadi 100% sehingga membuka jalan bagi SUPR untuk resmi menjadi perusahaan tertutup.
Sementara itu, SCPI menawarkan pembelian saham publik dengan harga Rp 100.000 per saham. Periode tender sukarela berlangsung pada 7 September hingga 7 Oktober 2026, pembayaran dilakukan pada 19 Oktober 2026, sedangkan delisting efektif dijadwalkan pada 30 Desember 2026.
