Dari Bank Bullion hingga ETF Emas serta Peran ANTM, BRIS, HRTA di Baliknya
Pilihan investasi emas di Indonesia semakin beragam. Setelah pemerintah meluncurkan bank bullion atau bank emas, pasar modal juga bersiap menyambut kemunculan exchange traded fund (ETF) emas yang dijadwalkan meluncur pekan depan.
Kehadiran dua instrumen tersebut seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik. Di balik pengembangan ekosistem emas nasional itu, terdapat peran sejumlah emiten, mulai dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), hingga PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).
Sejatinya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan bank bullion pada Februari 2025 sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem perdagangan emas nasional. Setahun berselang, dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Juli lalu, Prabowo menyampaikan bank bullion telah mengelola 153 ton emas dengan nilai mencapai sekitar US$ 20 miliar atau setara Rp 358,74 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.937 per dolar AS).
Bank bullion merupakan lembaga jasa keuangan yang menyediakan layanan berbasis emas, mulai dari tabungan emas, perdagangan, penyimpanan hingga pembiayaan. Melalui layanan ini, emas tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai aset keuangan.
Saat ini, izin usaha bank bullion baru dimiliki oleh PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Berdasarkan data Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) pada Juli lalu, Pegadaian mengelola sekitar 153 ton emas, sedangkan BRIS mengelola sekitar 24 ton. Dengan begitu, total emas yang dikelola kedua lembaga tersebut telah mencapai sekitar 177 ton.
Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan, pengembangan industri bullion akan terus diperkuat melalui sinergi antara BP BUMN, Danantara Indonesia, Pegadaian dan BRIS. "Perkembangan tersebut menunjukkan besarnya potensi pengelolaan emas nasional untuk menciptakan nilai tambah dan mendukung pertumbuhan ekonomi," kata Dony dalam keterangannya, Kamis (6/8).
Menurut dia, sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat hilirisasi emas, memperluas produk dan layanan berbasis emas, meningkatkan produktivitas aset emas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat perdagangan bullion di Asia Tenggara.
Di sisi lain, Pegadaian diproyeksikan memiliki peran yang semakin besar. Dony juga mengungkapkan Danantara tengah menyiapkan penawaran umum perdana saham (IPO) Pegadaian bersama sejumlah BUMN lainnya.
"Banyak perusahaan kita yang bagus akan segera IPO, contohnya ada Pegadaian, ada Pupuk Indonesia dan banyak ya, ada Pelindo, ada Angkasa Pura dan banyak sekali perusahaan-perusahaan yang memang itu secara market cap bagus untuk kita IPO-kan," Dony di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta,Rabu (6/8).
Selain bank bullion, produk investasi emas baru juga akan hadir di Bursa Efek Indonesia (BEI). ETF emas dijadwalkan meluncur bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Pasar Modal Indonesia ke-49 Tahun pada Senin (10/8) nanti.
Tahapan menuju peluncuran produk tersebut telah dimulai. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) baru saja menerbitkan kode International Securities Identification Number (ISIN) untuk electronic gold receipt (EGR) milik PT Pegadaian.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat mengatakan, EGR adalah representasi elektronik atas kepemilikan emas fisik yang nantinya menjadi aset dasar (underlying asset) ETF emas.
"Emas fisik yang ada di Pegadaian dikonversi menjadi catatan elektronik di KSEI menjadi EGR, dan berikutnya akan menjadi underlying dari ETF emas," kata Samsul kepada Katadata.co.id.
Saat ini, Pegadaian menjadi satu-satunya perusahaan yang telah mendaftarkan EGR di KSEI. Setelah memperoleh kode ISIN, tahap berikutnya adalah pembelian EGR oleh manajer investasi yang akan menerbitkan ETF emas.
ETF merupakan reksa dana yang diperdagangkan di bursa seperti saham. Bedanya, nilai produk ini mengikuti pergerakan harga emas karena aset dasarnya berupa emas fisik yang telah dikonversi menjadi EGR.
Peran BRIS, ANTM hingga HRTA di Balik Bank Bullion
Selain BRIS dan Pegadaian sebagai operator bank bullion, emiten emas seperti ANTM dan HRTA juga memiliki peran dalam membangun ekosistem indsutri emas nasional.
Merujuk kinerja keuangan semester pertama, HRTA mencatatkan pendapatan Rp 33,8 triliun, naik 124,61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih juga melonjak 100,86% menjadi Rp 700,01 miliar.
Kenaikan tersebut terutama ditopang segmen grosir yang menyumbang 89,33% terhadap total penjualan. Dari angka itu, 80,34% berasal dari penjualan kepada institusi keuangan dan bank bullion.
Volume penjualan emas murni HRTA juga meningkat 46,74% menjadi 13 ton, didorong kenaikan harga jual rata-rata sebesar 53,21% menjadi Rp 2,59 juta per gram.
Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto mengatakan, permintaan dari institusi keuangan dan bank bullion menjadi salah satu pendorong pertumbuhan perusahaan. "Dengan fundamental bisnis yang semakin solid, dukungan dari pertumbuhan permintaan institusi keuangan dan Bullion Bank, serta prospek industri emas yang tetap menjanjikan, kami akan terus berfokus menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan," ujarnya.
Sebagai perusahaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, HRTA memiliki bisnis pemurnian emas, produksi bullion dan perhiasan, hingga jaringan distribusi yang mencakup lebih dari 1.000 titik penjualan di seluruh Indonesia.
Sementara itu, ANTM berperan sebagai pemasok utama emas dalam ekosistem bullion nasional. Perseroan memiliki tambang emas, fasilitas pemurnian dengan kapasitas 150 ton emas dan 300 ton perak per tahun, serta cadangan emas di Pongkor yang menjadi sumber pasokan jangka panjang.
ANTM juga tengah membangun pabrik percetakan emas di kawasan JIIPE Gresik dengan investasi sekitar US$ 70 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2027 itu akan mengolah doré bullion dari PT Freeport Indonesia menjadi emas murni berkadar 99,99%, kemudian mencetaknya menjadi batangan, koin, maupun produk industri.
Dengan kapasitas produksi sekitar 30 ton emas per tahun, proyek tersebut diharapkan memperkuat rantai pasok emas domestik, mengurangi ketergantungan pada impor, sekaligus mendukung pengembangan industri emas nasional.
