Anak Usaha Astra (UNTR) Lirik Tambang Tembaga, Ada Peluang Akusisi?

Nur Hana Putri Nabila
7 September 2026, 18:48
UNTR
website UNTR
Gambaran umum alat berat United Tractors (UNTR).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT United Tractors Tbk (UNTR) membuka peluang untuk memperbesar portofolio bisnis pertambangannya. Salah satunya di sektor mineral tembaga. 

Presiden Direktur United Tractors, Iwan Hadiantoro, mengakui saat ini perusahaan memiliki rencana untuk masuk ke bisnis tembaga. Ia juga mengatakan tembaga menjadi salah satu komoditas yang tengah dipertimbangkan. 

“Rencana ada, tetap tembaga merupakan salah satu komoditas yang kami pertimbangkan. Namun untuk saat ini belum ada proyek tembaga di pipeline United Tractors,” kata Iwan dalam paparan publik 2026, Senin (7/9).

Tak hanya itu, ia pun mengaku strategi investasi perusahaan masih berfokus pada dua komoditas utama. Salah satunya sektor pertambangan mineral yang mencakup emas, nikel, hingga logam dasar lainnya seperti tembaga.

Ia juga menyebut porsi investasi UNTR pada 2027 akan menyesuaikan kondisi keuangan perseroan dan peluang yang ada. Dengan skala bisnisnya, Iwan mengatakan perseroan akan membidik aset baru dengan skala yang cukup besar atau sizeable.

Nah tentunya untuk melihat size yang UT (United Tractors) sudah besar saat ini, kami berharap bahwa bisnis-bisnis baru yang akan kami akuisisi itu cukup sizeable dan memiliki valuasi yang baik tentunya sesuai dengan kriteria investasi UT,” ucap Iwan. 

Kendati demikian, Iwan mengatakan UNTR saat ini masih memfokuskan pencarian aset tambang di Indonesia dan Australia yang menjadi beberapa pasar utama untuk membidik peluang akuisisi. Ia pun mengaku skala cadangan mineral tambang di Australia sangat besar. 

“Jadi kami masih memfokuskan usaha merger dan akuisisi kami untuk Australia dan belum ada rencana untuk pekembangan di negara Asia lainnya,” kata Iwan. 

Apabila menilik kinerja keuangan UNTR hingga semester pertama 2026, performa emiten alat berat Grup Astra itu terbilang lesu pada kuartal pertama 2026. 

Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 642,75 miliar, merosot 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,18 triliun. Pendapatan perseroan juga turun 17% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 28,55 triliun dari sebelumnya Rp 34,26 triliun. 

Manajemen UNTR menjelaskan, penurunan itu terjadi karena merosotnya kontribusi PT Agincourt Resources akibat tidak adanya penjualan emas. Tak hanya itu, kinerja segmen mesin konstruksi serta kontraktor penambahan yang lesu seiring penurunan alokasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara nasional pada 2026. 

Meskipun begitu, tekanan tersebut dapat ditahan oleh pertumbuhan pendapatan dari segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi, yang ditopang kenaikan harga rata-rata batu bara.

Secara terperinci, pendapatan segmen kontraktor penambangan tercatat sebesar Rp 11,9 triliun atau turun 6%. Sementara pendapatan segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi naik 13% menjadi Rp 8 triliun.

Adapun pendapatan segmen mesin konstruksi turun 31% menjadi Rp 7,5 triliun. Sementara segmen pertambangan emas dan mineral lainnya merosot 76% menjadi Rp 692 miliar.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...