Saham GOTO Potensi Turun ke Rp 20 Imbas Aturan Rp 1 BEI, Antrian Jual Mengular

Karunia Putri
9 September 2026, 12:35
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk
Dokumentasi GOTO
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diproyeksi bakal tertekan dalam beberapa waktu ke depan. Hal itu potensi terjadi lantaran Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan kebijakan harga minimum saham turun dari level 50 ke level 1 per saham.

Kebijakan itu membuka ruang bagi saham GOTO untuk bergerak di bawah level gocap atau Rp 50. Akibatnya investor-investor GOTO akan mengalami floating loss karena saat ini GOTO berada di level terendah bursa, yaitu level gocap.

Harga saham GOTO sudah tidur di level gocap selama empat bulan sejak 5 Mei 2026. Kebijakan harga minimum ini dibuat BEI agar likuiditas saham gocap termasuk GOTO kembali bergerak.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan saham GOTO berpotensi menguji level Rp 20-Rp 30 setelah batas bawah Rp 50 dicabut. Dalam skenario tekanan jual yang kuat, saham GOTO bahkan berpotensi bergerak menuju Rp 10-Rp 20.

Nafan mengatakan kebijakan batas minimum Rp 1 berpotensi menekan harga GOTO dalam jangka pendek. Kebijakan tersebut juga dapat membuka mekanisme pembentukan harga atau price discovery yang lebih sehat.

“Rekomendasi GOTO menurut saya adalah NOT RATED,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Rabu (9/9). 

Dia mengatakan pencabutan batas harga Rp 50 berpotensi meningkatkan volatilitas dan tekanan jual dalam jangka pendek. Namun, pergerakan GOTO selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara pasokan dan permintaan, likuiditas serta aksi investor besar.

Nafan juga menyoroti transaksi di pasar negosiasi yang menunjukkan saham GOTO telah berpindah tangan di kisaran Rp 23-Rp 25 per saham. Menurut dia, level tersebut dapat menjadi salah satu referensi dalam proses price discovery apabila batas bawah Rp 50 dicabut.

Potensi Floating Loss Telkomsel di GOTO sampai Rp 5,9 Triliun

Penurunan harga GOTO di bawah Rp 50 juga berpotensi memperlebar kerugian yang belum terealisasi atau floating loss bagi sejumlah pemegang saham perseroan.

“Untuk floating loss, perlu dibedakan antara kerugian ekonomis dan kerugian yang benar-benar terealisasi,” ujar Nafan.

Sebagai gambaran, kata Nafan, Telkomsel memiliki sekitar 23,72 miliar saham GOTO dengan harga perolehan sekitar Rp 270 per saham.

Pada harga GOTO Rp 50, selisih dengan harga perolehan mencapai sekitar Rp 220 per saham. Dengan jumlah saham tersebut, potensi kerugian secara mark-to-market mencapai sekitar Rp 5,22 triliun.

Jika harga GOTO turun menjadi Rp 25, potensi kerugian mark-to-market secara sederhana meningkat menjadi sekitar Rp 5,81 triliun. Sementara jika harga turun ke Rp 20, kerugian tersebut mencapai sekitar Rp 5,93 triliun.

“Namun, angka tersebut adalah estimasi berdasarkan harga perolehan dan jumlah saham yang dilaporkan, bukan berarti seluruhnya langsung menjadi kerugian terealisasi,” kata Nafan.

Sementara itu, investor global juga terpantau menggenggam saham GOTO. Mislanya Morgan Stanley yang menggenggam 54,43 miliar saham.

Namun Nafan menjelaskan perhitungan floating loss tidak dapat disamakan secara langsung. Pasalnya, institusi itu melakukan pembelian saham GOTO secara bertahap, termasuk transaksi terbaru di kisaran Rp 25 per saham, sehingga harga perolehannya berbeda.

Antrian Jual Saham GOTO Mengular

Tekanan jual terhadap saham GOTO juga terlihat dari antrean perdagangan. Berdasarkan data perdagangan BEI secara intraday pada pukul 11.26 WIB, antrean jual saham GOTO kian mengular dengan total sekitar 400,46 juta lot saham GOTO dalam antrean jual.

Besarnya antrean jual menunjukkan overhang supply masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi saham GOTO. Menurut Nafan, penerapan batas minimum Rp 1 dapat meningkatkan tekanan jual karena pemegang saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 akan memiliki ruang untuk menjual sahamnya di bawah harga tersebut.

Namun, di sisi lain, pencabutan batas bawah juga membuka peluang terbentuknya harga GOTO yang lebih mencerminkan kondisi pasar melalui mekanisme price discovery. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi investor institusi maupun investor strategis untuk menentukan valuasi GOTO secara lebih rasional.

Di tengah tekanan harga saham, fundamental GOTO juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor. Perseroan membukukan laba bersih Rp608 miliar pada semester pertama 2026.

Meski begitu, dia menyatakan prospek EBITDA GOTO sepanjang 2026 masih menghadapi tekanan sehingga perseroan melakukan penyesuaian terhadap guidance kinerja.

Adapun BEI berencana menurunkan batas harga minimum saham dari Rp 50 per saham ke Rp 1 per saham. Saat ini, bursa sedang melakukan kajian bersama anggota bursa. 

Namun bursa masih menunda penerapan kebijakan penurunan batas minimum harga saham yang dapat diperdagangkan dari Rp 50 menjadi Rp 1. Penundaan itu disebabkan otoritas pasar modal masih menunggu kesiapan delapan anggota bursa (AB) lainnya sebelum kebijakan dapat diterapkan secara penuh.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, sebanyak 83 anggota bursa telah dinyatakan siap menjalankan aturan baru itu setelah dilakukan dua kali uji coba perdagangan atau mock trading. Sementara delapan anggota bursa lainnya belum siap.

“Jadi, saat ini kami intens berkomunikasi dengan anggota bursa yang belum siap,” kata Jeffrey ketika ditemui di Gedung BEI, Selasa (1/9).

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...