Prospek Saham Bakrie BNBR hingga JGLE di Era Harga Rp 1, Mana Paling Rentan?

Nur Hana Putri Nabila
23 September 2026, 12:20
Ilustrasi Bakrie Telecom
Diolah dengan AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham-saham yang berada dalam cengkeraman Grup Bakrie disebut bakal ikut menjadi perhatian seiring pemberlakuan aturan harga minimum saham Rp 1 di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai 28 September 2026. Kebijakan ini mengubah batas bawah perdagangan saham yang selama ini berada di level gocap atau Rp 50 per saham.

Sejumlah saham Grup Bakrie saat ini juga tengah disuspensi oleh bursa. Misalnya PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) di harga Rp 38, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) di Rp 32, dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) di level gocap.

Menurut Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, perubahan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 tidak bisa langsung dikaitkan sebagai sentimen negatif terhadap saham-saham Grup Bakrie. Ia menyebut aturan tersebut berlaku untuk seluruh saham di BEI, bukan khusus Grup Bakrie.

Meski demikian, implementasi aturan ini tetap menjadi perhatian karena sejumlah saham Bakrie telah cukup lama bertengger di level Rp 50. Namun, Thoriq menilai perubahan aturan BEI tidak otomatis membuat harga saham yang saat ini berada di level Rp 100, Rp 200, hingga Rp 1.000 langsung jatuh menuju Rp50. Menurut dia, harga saham tetap ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran, serta kondisi fundamental masing-masing perusahaan.

“Dengan kata lain, aturan ini hanya membuka ruang harga yang sebelumnya tidak tersedia di pasar reguler,” kata Thoriq kepada Katadata.co.id, Selasa (22/9).

Ia mengatakan risiko penurunan menuju Rp50 tetap ada, tetapi lebih terkonsentrasi pada saham yang harganya masih dekat dengan level tersebut dan fundamentalnya belum cukup kuat. Adapun bagi saham Bakrie yang sudah jauh di atas Rp 50 dan memiliki pertumbuhan laba yang lebih solid, risiko kembali ke gocap relatif lebih rendah selama kondisi fundamentalnya tidak berubah signifikan.

Apabila melihat posisi harga dan kondisi fundamental, Thoriq menilai JGLE menjadi salah satu saham yang paling rentan karena harganya masih dekat dengan level Rp 50, yakni diperdagangkan di sekitar Rp 69.

Selain itu, fundamental JGLE belum memberikan bantalan yang kuat karena perusahaan masih membukukan kerugian. Dengan kondisi tersebut, kata Thoriq, tekanan jual setelah harga di bawah Rp 50 diperbolehkan berpotensi lebih berdampak terhadap saham JGLE dibandingkan saham Bakrie yang telah mencatatkan laba dan memiliki harga jauh di atas Rp 50.

Apalagi, Thoriq menilai kebangkitan saham-saham Bakrie saat ini belum merata. Sebagian saham telah mendapat dukungan dari perbaikan fundamental, sementara sebagian lainnya masih bergantung pada momentum pasar.

Prospek Saham Grup Bakrie

Di samping itu, Thoriq menilai prospek saham Grup Bakrie setelah aturan baru BEI berlaku akan kembali pada fundamental masing-masing emiten. Menurutnya, aturan tersebut hanya mengubah mekanisme perdagangan, bukan kondisi bisnis perusahaan.

Thoriq mengatakan saham dengan laba, arus kas, produksi, dan prospek usaha yang lebih baik semestinya tidak banyak terpengaruh oleh pembukaan ruang harga di bawah Rp 50. Sebaliknya, saham dengan fundamental lemah dan harga yang masih dekat dengan level Rp 50 berpotensi menghadapi tekanan jual.

“Jadi, setelah 28 September, pasar kemungkinan justru akan lebih selektif dalam membedakan saham Bakrie yang memang ditopang perbaikan bisnis dengan saham yang kenaikannya lebih banyak ditopang sentimen dan likuiditas,” ucap Thoriq.

Selain itu, Thoriq mengatakan potensi pergerakan masing-masing saham Grup Bakrie akan berbeda. Saham yang kini diperdagangkan di kisaran Rp 50–Rp 100 memiliki ruang penurunan yang lebih dekat menuju level Rp 50.

Sebagai gambaran, kata Thoriq, saham PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) di sekitar Rp69 hanya perlu anjlok sekitar 27,5% untuk merosot ke Rp 50. Sementara PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) di sekitar Rp87 membutuhkan penurunan sekitar 42,5%.

Adapun PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di sekitar Rp 192 harus turun sekitar 74%, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sekitar 86%, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sekitar 93%, dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) lebih dari 96% untuk turun ke level Rp 50.

“Untuk saham yang harganya sudah jauh di atas Rp 50 dan memiliki dukungan fundamental yang lebih baik, skenario kembali ke gocap saat ini bukan merupakan skenario dasar,” ucap Thoriq.

Thoriq menilai perbaikan fundamental menjadi faktor utama yang menopang harga saham Grup Bakrie. Pasar cenderung mempertahankan valuasi emiten yang mampu mencatat pertumbuhan laba secara konsisten, meningkatkan produksi, menjaga arus kas, memperbaiki struktur utang, dan menjalankan ekspansi yang memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan.

BUMI, misalnya, Thoriq mengatakan emiten tambang batu bara tersebut mendapat dukungan dari kenaikan produksi dan penjualan batu bara serta pertumbuhan laba. Sementara itu, ENRG masih ditopang pertumbuhan bisnis minyak dan gas, termasuk pendapatan dari kontrak gas. DEWA juga mencatat perbaikan laba yang signifikan meski pertumbuhan pendapatannya lebih moderat.

Selain fundamental, pergerakan harga komoditas turut memengaruhi harga saham. Ia mengatakan BUMI dan DEWA sensitif terhadap aktivitas pertambangan serta harga batu bara, sedangkan ENRG bergantung pada kondisi pasar minyak dan gas.

“Untuk BRMS, harga emas serta keberhasilan peningkatan kapasitas produksi menjadi faktor yang cukup menentukan,” ujar Thoriq.

Sebaliknya, Thoriq menilai tekanan terbesar bisa muncul ketika lemahnya fundamental perusahaan berhadapan dengan meningkatnya pasokan saham di pasar. Sejumlah sentimen terhadap Grup Bakrie perlu diperhatikan, seperti penurunan laba, produksi yang tidak mencapai target, penundaan proyek, kenaikan utang, atau memburuknya arus kas yang dapat mendorong pasar menurunkan valuasi emiten.

Ia juga menyoroti aksi korporasi yang meningkatkan jumlah saham beredar. Apabila jumlah saham meningkat signifikan sementara pertumbuhan laba tidak seimbang, kata Thoriq, tekanan jual berpotensi semakin besar.

BNBR menjadi salah satu saham yang perlu dipantau. Apalagi BNBR baru menyelesaikan rights issue dalam jumlah besar di harga Rp53. Aksi korporasi tersebut memperkuat struktur pendanaan perusahaan, tetapi sekaligus meningkatkan jumlah saham yang beredar.

“Karena itu, pasar akan menunggu apakah dana hasil rights issue mampu mendorong pertumbuhan laba dan arus kas yang cukup untuk mengimbangi potensi tambahan pasokan saham,” ucap Thoriq.

Thoriq menyebut saham ENRG, BUMI, BRMS, dan DEWA memiliki fundamental yang relatif lebih kuat di antara saham-saham Grup Bakrie.

Misalnya, ENRG ditopang pertumbuhan bisnis minyak dan gas serta pendapatan yang relatif stabil. Sementara BUMI mendapat dukungan dari kenaikan produksi, penjualan, dan laba batu bara.

Sedangkan ia menyebut BRMS memiliki basis fundamental kuat karena telah memiliki operasi emas yang menghasilkan laba. Perseroan masih memiliki ruang pertumbuhan melalui peningkatan produksi dan ekspansi kapasitas. Meski laba semester I 2026 turun secara tahunan, Thoriq menilai penurunan tersebut lebih banyak dipengaruhi gangguan produksi sementara dan belum mencerminkan pelemahan fundamental secara struktural.

Adapun DEWA mencatat perbaikan profitabilitas, meski kinerjanya masih bergantung pada volume kontrak pertambangan dan kemampuan perseroan menjaga efisiensi biaya.

“ENRG, BUMI, BRMS, dan DEWA relatif memiliki bantalan fundamental yang lebih baik untuk menghadapi tekanan jual, dibandingkan saham Grup Bakrie yang masih mencatatkan kerugian atau belum menunjukkan perbaikan operasional yang konsisten,” ungkap Thoriq.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...