Antrean Jual Saham GOTO Capai 1 Miliar Lot, Setara Rp4,4 T Bagaimana Prospeknya?

Nur Hana Putri Nabila
28 September 2026, 16:52
Layar digital yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026). IHSG kembali ditutup melemah dengan nilai koreksi mencapai 4,52% ke level 5.342 Sebanyak 78 saham menguat, 661 saham terkoreksi, dan 78 s
Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026). IHSG kembali ditutup melemah dengan nilai koreksi mencapai 4,52% ke level 5.342 Sebanyak 78 saham menguat, 661 saham terkoreksi, dan 78 saham stagnan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) ramai-ramai dijual investor pada perdagangan Senin (28/9). Antrean terjadi saat harga berada di batas bawah atau auto rejection bawah (ARB) pada level Rp 43 per saham. 

Pada penutupan sore ini, saham GOTO terjun hingga auto reject bawah (ARB) 14% ke Rp 43 usai Bursa Efek Indonesia (BEI) menurunkan batas harga minimum saham menjadi Rp 1 mulai hari ini. Sebelumnya, saham GOTO telah tertahan di level gocap sejak 5 Mei 2026.

Volume yang diperdagangkan tercatat Rp 132,94 juta dengan nilai transaksi Rp 5,72 miliar. Adapun kapitalisasi saham GOTO  mencapai Rp 49,04 triliun. 

Berdasarkan data pasar hingga penutupan sore ini, terdapat lebih dari 1,03 miliar lot saham yang mengantre jual di harga tersebut. Apabila seluruh antrean itu diserap, dibutuhkan dana sekitar Rp 4,49 triliun untuk menjebolkan dinding Rp 43. 

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla pun memberikan pandangan terkait posisi saham GOTO.  Ia menyatakan tak tertutup kemungkinan saham GOTO melanjutkan penurunan. 

Meski begitu ia menilai area harga saham GOTO di Rp 25–Rp 30 lebih tepat dipandang sebagai skenario downside atau potensi level terbawah, bukan sebagai fair value utama saham GOTO. Dengan Book Value Per Share (BVPS) GOTO sekitar Rp 27 per saham, harga ITU mencerminkan valuasi sekitar 0,9–1,1 kali PBV atau sudah mendekati nilai bukunya.

Namun, ia menyebut level Rp 25–Rp 30 bukan level pasti harga dasar GOTO. Menurutnya, pergerakan saham GOTO masih didominasi dari dinamika supply-demand, tekanan jual usai implementasi batas harga Rp 1, sentimen pasar. Selain itu kemampuan perseroan mempertahankan perbaikan kinerja secara konsisten juga bisa menjadi penentu. 

“Jadi, area tersebut lebih tepat dilihat sebagai zona valuasi rendah yang berpotensi menjadi area support jika tekanan jual kembali membesar,” ucap Thoriq kepada Katadata.co.id, Senin (28/9).

Thoriq menghitung fair value GOTO dengan mengacu pada fundamental dan multiple valuasi. Dengan harga saham sekitar Rp 43 dan PBV 1,57 kali, BVPS GOTO berada di kisaran Rp 27,4 per saham.

Menurut Thoriq, apabila pasar memberikan valuasi 2–2,2 kali PBV, harga wajar indikatif GOTO berada di kisaran Rp 55–Rp 60 per saham. Sementara apabila valuasinya mampu mendekati rata-rata sektor sebesar 2,79 kali PBV, implied value-nya saham GOTO dapat mencapai sekitar Rp 76 per saham.

Thoriq melihat area level Rp 25–Rp 30 menjadi skenario downside atau potential bottom. Sementara itu, ia menempatkan kisaran Rp 55–Rp 60 sebagai fair value GOTO yang lebih realistis.

“Adapun area sekitar Rp 76 lebih mencerminkan skenario re-rating apabila fundamental GOTO terus membaik dan pasar mulai memberikan valuasi yang lebih tinggi,” tulis Thoriq.

Sementara itu Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan secara teknikal, saham GOTO masih bergerak dalam tren penurunan yang membentuk pola parallel channel. Menurutnya, saham GOTO berpotensi menguji area support di kisaran Rp 36 hingga Rp 27.

“Lihat teknikal aja deh dulu, kira-kira ke Rp 27 (fair value GOTO),” kata Liza kepada Katadata.co.id, Senin (28/9). 

Ia juga menyoroti perdagangan saham GOTO pada 15 menit pertama setelah pasar dibuka dan langsung menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) di harga Rp 43, dengan transaksi baru mencapai sekitar 482 ribu lot. 

Ia juga mengatakan kalau ada investor yang ingin menjual 1 juta lot saja belum tentu terjual, apalagi institusi asing yang menggenggam puluhan juta lot atau milyaran lembar saham.

“Berdasarkan logika sederhana di atas, most likely guyuran GOTO masih akan berlanjut besok-besok,” tambah Liza. 

Tak Cerminkan Fundamental

Menanggapi penurunan harga saham di pasar, Head of Corporate Affairs GOTO Audrey Petriny mengatakan harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis perseroan yang terus menguat.

“Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp50,” kata Audrey dalam keterangan resmi, dikutip Senin (28/9).

Audrey mengatakan kinerja bisnis GOTO terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II/2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar dan membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut.

Pendapatan bersih GOTO tercatat sebesar Rp 5,7 triliun, sedangkan adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp1 triliun.

“Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun,” ujarnya.

Audrey mengatakan GOTO akan tetap fokus memperkuat kinerja bisnis yang diyakini dapat menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham.



add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...