2 Katalis UNTR: dari Dividen Rp 1,4 Triliun hingga Kantongi Penambahan RKAB
Perusahaan alat berat dan tambang Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), disebut menggenggam dua katalis yang dapat menopang kinerja saham perseroan ke depan. Kedua katalis tersebut berasal dari pembagian dividen interim dan penambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara.
UNTR akan membagikan dividen interim sebesar Rp 1,45 triliun kepada pemegang saham. Dividen tersebut akan dibayarkan pada 26 Oktober 2026.
Setiap pemegang saham UNTR akan menerima dividen interim sebesar Rp 430 per saham. Namun, nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dividen interim pada dua tahun sebelumnya.
Pada Tahun Buku 2025, UNTR membagikan dividen interim sebesar Rp 567 per saham. Sementara pada Tahun Buku 2024, dividen interim yang dibayarkan mencapai Rp 667 per saham.
“Pembagian dividen interim Perseroan yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2026 (dividen interim) sesuai dengan keputusan sirkuler direksi perseroan tertanggal 23 September 2026 dan keputusan sirkuler Dewan Komisaris perseroan tertanggal 24 September 2026,” kata Corporate Secretary UNTR, Ari Setiyawan, dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa (29/9).
Adapun jadwal pembagian dividen interim UNTR sebagai berikut:
- Cum dividen interim di pasar reguler dan negosiasi: 6 Oktober 2026
- Ex dividen interim di pasar reguler dan negosiasi: 7 Oktober 2026
- Cum dividen interim di pasar tunai: 8 Oktober 2026
- Ex dividen interim di pasar tunai: 8 Oktober 2026
- Recording date: 8 Oktober 2026
- Pembayaran dividen: 26 Oktober 2026
Katalis kedua berasal dari penambahan kuota produksi batu bara. UNTR resmi memperoleh tambahan kuota revisi RKAB menjadi 12,4 juta ton pada Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan alokasi sebelumnya yang hanya mencapai 7,4 juta ton untuk paruh pertama 2026.
Kendati meningkat, kuota tersebut masih berada di bawah kapasitas produksi maksimal UNTR yang mencapai 15 juta ton batu bara per tahun. Keterlambatan dan pembatasan persetujuan RKAB pada awal tahun turut menekan operasional perseroan. Penjualan batu bara UNTR turun 22% dan penjualan alat berat Komatsu merosot 21% sepanjang Januari-Agustus 2026.
Direktur Keuangan United Tractors, Vilihati Surya mengatakan, produksi batu bara termal dan metalurgi perseroan turun 4% pada semester I 2026 secara tahunan. Sementara selama delapan bulan 2026, produksinya anjlok 22%. Menurut dia, penurunan tersebut terutama disebabkan pemangkasan RKAB.
“Kami itu sebenarnya punya kapasitas bisa produksi sampai dengan 15 juta ton. Tapi pada pertengahan Juni kemarin yang baru di-approve, RKAB-nya itu baru 7,4 juta ton,” kata Vilihati dalam agenda Media Day Astra, Rabu (23/9).
Meski kuota produksi telah ditambah, UNTR masih menghadapi tantangan lain, salah satunya fenomena El Nino. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas produksi batu bara, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, perseroan mengatur strategi produksi dan penjualan. UNTR berencana mengoptimalkan produksi serta merealisasikan penjualan pada November hingga Desember 2026.
Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menilai penambahan kuota RKAB menjadi salah satu sentimen bagi UNTR. Kenaikan kuota produksi batu bara dari 7,4 juta ton menjadi 12,4 juta ton membuka ruang peningkatan produksi pada semester kedua 2026.
Namun, penjualan batu bara UNTR sepanjang Januari-Agustus 2026 masih turun 22% secara tahunan menjadi 6.723 ton.
Selain RKAB, pembagian dividen interim sebesar Rp 430 per saham juga menjadi sentimen bagi saham UNTR. Perseroan akan membagikan dividen interim dengan total maksimal Rp 1,478 triliun.
BRI Danareksa Sekuritas juga mencatat program pembelian kembali saham atau buyback UNTR hingga Rp2 triliun yang berlangsung pada 1 Juli hingga 30 September 2026. Program tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan mendukung stabilitas harga saham.
Pada perdagangan hari ini, saham UNTR naik 3,28% ke level 25.175. BRI Danareksa sekuritas melihat, secara teknikal saham perseroan telah mengalami rebound dari area support Rp 23.000-Rp 23.900. Namun, posisi tersebut masih berada di bawah MA200 di level Rp 27.061 sehingga tren jangka menengah belum sepenuhnya pulih.
BRI Danareksa Sekuritas menetapkan area resistance saham UNTR di level Rp 25.750. Jika berhasil menembus level tersebut, potensi penguatan berikutnya berada di area Rp 27.000-Rp 27.061.
Sementara itu, area support berada di Rp 23.900-Rp 23.000. Jika saham kembali melemah dan menembus area tersebut, support berikutnya berada di level Rp 20.900.
Indikator MACD masih berada di zona negatif sehingga diperlukan konfirmasi untuk melihat keberlanjutan penguatan saham UNTR.
Sementara itu analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyematkan target harga saham UNTR ke level 24.850 sampai Rp 25.250.
