Emiten Happy Hapsoro (BUVA) Right Issue Rp 1,53 T, Investor Potensi Dilusi 20%
Emiten milik pengusaha Happy Hapsoro PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) bersiap menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau right issue. Lewat aksi korporasi ni, BUVA akan menawarkan 6,15 miliar sahan dan berpotensi menghimpun dana segar mencapai Rp 1,53 triliun.
Tawaran saham tersebut setara 20% dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh setelah right issue ini. Nominal per saham sebesar Rp 50 dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 250 per saham.
Setiap pemegang empat saham lama yang tercatat dalam daftar pemegang saham tanggal 15 Oktober 2026 berhak atas satu saham HMETD, di mana setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegang saham tersebut membeli saham HMETD dengan harga pelaksanaan yang ditetapkan.
“Saham Baru yang akan ditawarkan kepada Pemegang Saham dalam rangka PMHMETD II ini seluruhnya merupakan saham biasa atas nama serta dikeluarkan dari portepel Perseroan yang mempunyai hak yang sama dan sederajat dalam segala hal termasuk dengan saham yang telah disetor penuh lainnya, termasuk antara lain hak suara dalam rapat umum pemegang saham, hak atas pembagian dividen, hak atas saham bonus, dan hak atas HMETD,” seperti yang tertulis dalam prospektus right issue BUVA di keterbukaan informasi BEI dikutip Selasa (6/10)
Sebagai ultimate beneficiary owner atau pemilik manfaat akhir, suami Ketua DPR RI Puan Maharani tersebut menyatakan siap menjadi pembeli siaga jikalau masih terdapat sisa saham yang tidak terserap dalam right issue tersebut.
Sebelum masuk ke tahap tersebut, pemegang saham utama dan pengendali BUVA yaitu PT Nusantara Utama Investama (NUI) dan PT Tata Tirta Datun (TTD) berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan right issue.
NUI saat ini menggenggam 61,07% saham BUVA atau sekitar 15,03 miliar saham. Dengan kepemilikan tersebut, NUI berhak memperoleh sekitar 3,75 miliar HMETD.
NUI menyatakan akan melaksanakan 3,47 miliar HMETD yang dimilikinya. Sementara itu, sekitar 284 juta HMETD akan dialihkan kepada TTD.
Jika seluruh saham baru tidak terserap oleh pemegang saham atau pemegang HMETD, sisa saham akan terlebih dahulu dialokasikan kepada pemegang HMETD yang melakukan pemesanan tambahan. Alokasi dilakukan secara proporsional berdasarkan jumlah HMETD yang telah dilaksanakan.
Apabila masih terdapat sisa saham setelah proses tersebut, BUVA telah menyiapkan empat pembeli siaga, yakni Happy Hapsoro, Ferry Sudjono, TTD dan PT Henan Putihrai Sekuritas.
Keempat pembeli siaga tersebut memiliki komitmen maksimum pembelian yang berbeda. Happy Hapsoro siap membeli maksimal 389,04 juta saham senilai Rp 97,26 miliar.
Ferry Sudjono memiliki komitmen terbesar dengan maksimal 1,31 miliar saham senilai Rp 327,80 miliar. Sementara itu, TTD siap membeli maksimal 1,61 juta saham senilai Rp 401,59 juta dan Henan Putihrai Sekuritas maksimal 400 juta saham senilai Rp100 miliar.
Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD akan mengalami dilusi kepemilikan maksimal 20%.
Ekspansi hingga Bayar Utang
BUVA akan menggunakan dana hasil right issue untuk sejumlah kebutuhan, mulai dari ekspansi bisnis properti, renovasi hotel, pembangunan kawasan wisata hingga pembayaran utang.
Secara rinci, sebesar Rp 426,34 miliar akan digunakan untuk penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai (BBP). Dana tersebut selanjutnya akan digunakan BBP untuk mengambil alih saham PT Royal Uluwatu Residence (RUR) senilai Rp 199,26 miliar serta penyertaan modal di RUR sebesar Rp 227,08 miliar.
Dana penyertaan modal tersebut akan digunakan RUR untuk pengembangan lahan dan belanja modal konstruksi, termasuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas penunjang kawasan Uluwatu, Bali, melalui proyek West Resort.
Selain itu, BUVA akan mengalokasikan Rp 417,8 miliar untuk mempercepat pembayaran seluruh pokok utang berdasarkan perjanjian pembiayaan perseroan dengan Bank Mandiri.
Perseroan juga menyiapkan Rp 150 miliar untuk renovasi menyeluruh atau full renovation Hotel Alila Ubud. Renovasi tersebut mencakup pembaruan interior, eksterior dan peningkatan sejumlah fasilitas penunjang.
Selanjutnya, Rp 150 miliar akan digunakan untuk penyertaan modal tambahan di PT Bukit Lagoi Villa (BLV). Dana tersebut akan digunakan untuk belanja modal pembangunan dan pengembangan infrastruktur di kawasan wisata terpadu Lagoi, Bintan melalui proyek Bintan Land.
BUVA juga mengalokasikan Rp 390,34 miliar untuk penyertaan modal tambahan di PT Bukit Permai Properti (BKPP). Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate di kawasan Uluwatu, Bali.
Pembangunan Uluwatu Estate mencakup sejumlah fasilitas, antara lain jalan, art gallery, natural park, fasilitas olahraga dan sarana penunjang lainnya.
