MSCI Diprediksi Tetap Bekukan Saham Indonesia pada Rebalancing November

Karunia Putri
7 Oktober 2026, 10:30
Ilustrasi pembekuan saham Indonesia oleh lembaga penyedia indeks global MSCI.
BRI Danareksa Sekuritas
Ilustrasi pembekuan saham Indonesia oleh lembaga penyedia indeks global MSCI.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

MSCI diperkirakan masih mempertahankan status freeze atau pembekuan terhadap saham Indonesia pada periode November 2026 Index Review. Jika itu terjadi, pembekuan akan berlangsung tiga kali berturut-turut sejak Januari 2026 yang terkerek isu transparansi data free float saham Indonesia.

MSCI akan mengumumkan hasil rebalancing terbarunya pada 11 November 2026. Hasil peninjauan tersebut bakal berlaku efektif pada 1 Desember 2026.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata mengatakan, pihaknya memperkirakan MSCI masih mempertahankan status freeze Indonesia. Prediksi itu muncul dengan mempertimbangkan dua pengalaman sebelumnya dalam periode rebalancing.

"Perkiraan kami, MSCI masih akan tahan status freeze untuk Indonesia di review November. Alasannya simpel dan sangat manusiawi kalau dilihat dari sisi bisnis: MSCI sudah dua kali kena batunya gara-gara saham besar kita," ungkap Liza dalam keterangannya, Rabu (7/10).

Liza menjelaskan, persoalan pertama pembekukan saham Indonesia berkaitan dengan free float. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memiliki kapitalisasi pasar besar sehingga secara teori mampu menampung transaksi investor asing dalam jumlah besar. Namun, free float yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan dinilai tidak sebesar yang tercatat.

Persoalan kedua berkaitan dengan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Dalam pengumuman kedua tersebut, kondisi free float GOTO tidak menjadi masalah karena porsinya lebih dari 70%. Namun, kinerja harga saham tersebut tetap menjadi perhatian setelah bergerak di bawah level Rp 50.

Menurut Liza, kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi MSCI untuk berhati-hati dalam menambah atau mengeluarkan saham Indonesia dari indeks ketika status freeze dicabut. "Cabut freeze artinya MSCI mempertaruhkan lagi kredibilitas penilaiannya sendiri, dan itu bakal langsung kelihatan di daftar addition/deletion yang baru," ujar Liza.

Dia menilai MSCI kemungkinan memilih mempertahankan status freeze sembari menunggu adanya perbaikan yang lebih jelas terkait transparansi dan kualitas data pasar Indonesia. "Buat kami, ini bukan soal Indonesia sedang dihukum. Kepercayaan itu harus dibangun lagi pakai bukti, tidak cukup pakai pengumuman," katanya.

Sementara itu, hal lain yang menjadi perhatian adalah Indonesia yang juga menghadapi persaingan dalam memperebutkan aliran dana asing (fund inflows) di kawasan Asia Tenggara. Pasalnya, Vietnam kini menjadi salah satu negara yang perlu diperhatikan setelah FTSE Russell menaikkan status pasar saham Vietnam menjadi emerging market.

Kondisi tersebut berpotensi membuat Indonesia harus bersaing lebih ketat dalam menarik aliran dana asing dengan negara-negara ASEAN lainnya. Liza menilai investor global akan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk pertumbuhan ekonomi dan kepastian pasar dalam menentukan tujuan investasinya.

Sebelumnya, MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai negara emerging market dalam hasil August 2026 Index Review yang diumumkan pada 12 Agustus 2026. Berdasarkan hasil 2026 Annual Country Review untuk MSCI Frontier Emerging Markets Index, MSCI tidak mengubah daftar negara yang tercakup dalam indeks tersebut. Indonesia pun tetap berstatus sebagai negara emerging market.

"Tidak akan ada perubahan pada daftar Emerging Markets yang saat ini tercakup dalam Indeks MSCI Frontier Emerging Markets sebagai hasil dari tinjauan ini," tulis MSCI dalam pengumumannya pada 13 Agustus 2026.

Pelaku pasar selanjutnya menantikan checkpoint atau evaluasi lanjutan MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 melalui MSCI November Index Review. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan MSCI terhadap pasar saham Indonesia hingga akhir tahun.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...