Ada Crossing Jumbo Saham BYAN Harga Diskon di Rp 2.588, Haji Isam Mulai Masuk?
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tercatat menunjukkan adanya transaksi crossing di pasar negosiasi. Nilai transaksi untuk sekitar 1,48 miliar saham dengan nilai sekitar Rp 3,82 triliun pada perdagangan intraday hari ini, Rabu (7/10) pagi.
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal menyoroti bahwa berdasarkan data Bloomberg, transaksi pertama terjadi pada pukul 09.38.08 WIB dengan volume 705,03 juta saham pada harga Rp 2.588 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp 1,82 triliun.
Selang sekitar satu menit, ada lanjutan transaksi crossing pada pukul 09.39.04 WIB dengan volume 772,45 juta saham pada harga yang sama, yakni Rp 2.588 per saham. Nilai transaksi kedua mencapai Rp 1,99 triliun.
Apabila melihat perdagangan intraday hari ini, Rabu (7/10) pukul 10:45 WIB, saham BYAN anjlok 5,95% ke Rp 12.650 dengan kapitalisasi pasarnya sebesar Ro 421,67 triliun. Volume yang diperdagangkan tercatat 4,14 juta saham dengan nilai transaksi Rp 55,81 miliar. Alhasil transaksi crossing terjadi di harga diskon 76,53%.
Transaksi jumbo itu terjadi seiring dengan manuver Pengusaha Andi Syamsudin Arsyad alias Haji Isam yang tengah mengakuisisi emiten tambang batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong itu. Melalui PT Jhonlin Baratama, jumlah saham yang akan dicaplok bertambah 84,09 juta saham menjadi 10,08 miliar saham.
Manajemen Bayan Resources mengatakan jumlah saham biasa perusahaan yang akan dialihkan kepada PT Jhonlin Baratama bertambah menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham atau sekitar 30%. Meski begitu, manajemen belum mengungkapkan di harga berapa nilai aksi korporasi itu. Manajemen juga belum memberikan konfirmasi apakah transaksi di pasar nego dilakukan oleh Jhonlin Group.
Fauzan menyoroti transaksi crossing 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sesuai dengan perhitungannya sebelumnya. Ia mengatakan Haji Isam tampaknya menawar BYAN dengan mempertimbangkan fundamental industri saat ini, yang berada di kisaran P/E 6–7,5 kali.
Dari sisi harga, angka yang beredar di publik masih bersifat indikatif. Laporan sekitar 10 September menyebut nilai sekitar US$ 3 miliar untuk transaksi 62,2% saham BYAN. Angka tersebut muncul sebelum perjanjian Jhonlin Baratama, BYAN juga menyatakan tidak mengetahui adanya penawaran tersebut.
Apabila angka US$ 3 miliar tersebut digunakan sebagai acuan untuk menghitung nilai 30% saham BYAN, maka nilainya sekitar US$ 1,45 miliar atau sekitar Rp 25,92 triliun dengan asumsi kurs: Rp 17.876. Fauzan menyoroti angka tersebut setara dengan kisaran Rp 2.530-Rp 2.590 per saham.
Tak hanya itu, ia juga mengatakan nilai tersebut jauh di bawah rata-rata harga saham BYAN selama 90 hari yang mencapai Rp 12.643. Dengan asumsi harga tersebut, valuasi BYAN berada pada kisaran 5,7-5,9 kali laba bersih, dibandingkan 26,9 kali pada penutupan perdagangan 22 September.
“Tapi jadi gambaran aja, di pasar nego ada yang nge-pricing BYAN di fundamental nya, itu di 20% current value, jadi sentiment negative, perhaps temporarily,” ucap Fauzan kepada Katadata.co.id, Rabu (7/10).
