Saham BYAN Crossing Jumbo Rp 26 T di Tengah Akuisisi Haji Isam, Harga Diskon 76%
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) terpantau ada transaksi crossing jumbo di pasar negosiasi pada Rabu (7/10), dengan total transaksi sekitar 10,08 miliar saham atau Rp 26,1 triliun, di harga Rp 2.588 per saham.
Aksi senyap itu terjadi tiga kali. Berdasarkan RTI Business, aksi itu terjadi pukul 09.31 WIB tercatat sekitar 166,6 ribu lot senilai Rp 43,1 miliar. Pukul 09.38 WIB, crossing sekitar 50 juta lot senilai Rp 12,94 triliun. Lalu pukul 09.39 WIB, ada transaksi sebanyak 50,67 juta lot senilai Rp 13,11 triliun.
Apabila melihat perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu (7/10), saham BYAN anjlok 6,32% ke Rp 12.600 dengan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 420 triliun. Alhasil transaksi crossing terjadi di harga diskon 76,53%.
Transaksi jumbo itu seiring dengan manuver Pengusaha Andi Syamsudin Arsyad alias Haji Isam yang tengah mengakuisisi emiten tambang batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong.
Melalui PT Jhonlin Baratama, jumlah saham yang akan dicaplok bertambah 84,09 juta saham menjadi 10,08 miliar saham. Manajemen Bayan Resources mengatakan jumlah saham biasa perusahaan yang akan dialihkan kepada PT Jhonlin Baratama bertambah menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham atau sekitar 30%.
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal menyoroti transaksi crossing saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sesuai dengan perhitungannya sebelumnya. Ia mengatakan Haji Isam tampaknya menawar BYAN dengan mempertimbangkan fundamental industri saat ini, yang berada di kisaran P/E 6–7,5 kali.
Dari sisi harga, sebelumnya Fauzan menyebut pada laporan sekitar 10 September mengatakan nilai sekitar US$ 3 miliar untuk transaksi 62,2% saham BYAN. Angka tersebut muncul sebelum perjanjian Jhonlin Baratama, BYAN juga menyatakan tidak mengetahui adanya penawaran tersebut.
Apabila angka US$ 3 miliar tersebut digunakan sebagai acuan untuk menghitung nilai 30% saham BYAN, maka nilainya sekitar US$ 1,45 miliar atau sekitar Rp25,92 triliun dengan asumsi kurs: Rp 17.876. Fauzan menyoroti angka tersebut setara dengan kisaran Rp 2.530-Rp 2.590 per saham.
Tak hanya itu, ia juga mengatakan nilai tersebut jauh di bawah rata-rata harga saham BYAN selama 90 hari yang mencapai Rp 12.643. Dengan asumsi harga tersebut, valuasi BYAN berada pada kisaran 5,7-5,9 kali laba bersih, dibandingkan 26,9 kali pada penutupan perdagangan 22 September.
“Tapi jadi gambaran aja, di pasar nego ada yang nge-pricing BYAN di fundamental nya, itu di 20% current value, jadi sentiment negative, perhaps temporarily,” ucap Fauzan kepada Katadata.co.id, Rabu (7/10).
